Kisah Orang Saleh yang Tak Punya Bekal Merayakan Hari Raya

NUCOM — Hari raya Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi umat Islam menyambut kemenangan setelah melewati puasa selama satu bulan lamanya. Namun Allah SWT terus menguji kesabaran hambanya untuk bertawakal, seperti keadaan tidak punya bekal untuk merayakannya. Inilah kisah orang saleh yang tak punya bekal merayakan hari raya.

Kisah Al-Wakidi, Ulama, dan Sejarawan Khalifah Harun al-Rasyid

Al-kisah menjelang hari raya idulfitri yang semakin dekat, Abu Abdullah Al-Wakidi merasa cemas karena tidak memiliki apa pun untuk merayakannya.

Al-Wakidi pun mencari solusi. Walaupun dirinya seorang ulama terkemuka dalam bidang sejarah Islam, penulis Kitab al-Maghazi sirah nabawiyah (biografi Nabi), dan pakar peperangan Islam. Keadaan kekurangan pun tak luput dia alami.

Beliau pun mencoba mendatangi sahabatnya, namanya Yahya bin Khalid. Tujuanya tentu saja meminta bantuan. Namun, saat hendak ditemui, sahabatnya sudah beranjak pergi, ada urusan penting dengan khalifah Harun al-Rasyid.

Kemudian Al-Wakidi menemui sahabat lainnya yang berprofesi pedagang, tujuannya sama yaitu untuk meminjam uang.

Singkat cerita, Al-Wakidi pun mendapat pinjaman sebesar 1.200 dirham dengan kantong yang terbungkus dengan segel khusus.

Selanjutnya, Al-Wakidi pun segera pulang, lalu menyerahkan uang hasil pinjaman itu kepada istrinya untuk diatur dengan baik.

Namun, saat hendak mau memberikan kantong dirham itu kepada istrinya, seorang pria dari Bani Hasyim telah datang bertamu, dan lalu mengeluhkan masalah yang sama, yaitu kesulitan ekonomi menjelang hari raya.

Al-Wakidi pun lalu menyampaikan kepada istrinya untuk masalah tersebut, dan mendiskusikannya.

“Lalu, apa yang akan engkau lakukan?” tanya istri Al-Wakidi.

“Aku akan membaginya menjadi dua, separuh untuknya, dan separuh lagi untuk kita,” jawab Al-Wakidi.

Tak menyangka, istri Al-Wakidi tidak menyetujui atas keputusan tersebut.

Istrinya mengingatkan bahwa seorang pedagang biasa pun telah memberinya 1.200 dirham tanpa ragu, sementara ada seorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW malah diberi setengahnya.

“Berikanlah semuanya!” Dengan rasa yakin dan tawakal kepada Allah, pinta sang istri pada Al-Wakidi.

Segeralah Al-Wakidi memberikannya kepada pria dari Bani Hasyim. Kantong berisi 1.200 dirham itu telah berpindah tangan, bukan lagi milik Al-Wakidi.

Tak menyangka lagi, ternyata pedagang yang telah meminjami uang Al-Wakidi adalah sahabat pria dari Bani Hasyim.

Pedagang itu pun mendatangi pria Bani Hasyim dan dia berkata: “Tolong berikan saya pinjaman karena sebentar lagi hari raya,”

Tanpa berpikir panjang, pria dari Bani Hasyim itu mengeluarkan kantong yang baru saja diterima dari Al-Wakidi, dan menyerahkan seluruhnya kepada sang pedagang. Dan pada saat menerima kantong itu, pedagang tersebut merasa ada sesuatu yang familiar.

Benar saja, betapa terkejutnya dia ketika menyadari bahwa kantong yang diterimanya, dari pria Bani Hasyim itu terdapat segel khusus.

Pedagang ini yakin betul bahwa itu adalah kantong yang sebelumnya ia berikan kepada Al-Wakidi. Kejadian ini pun akhirnya diketahui oleh Al-Wakidi. Tak lama kemudian, datanglah utusan dari Yahya bin Khalid kepada Al-Wakidi. Kedatangannya untuk menyampaikan permohonan maaf atas nama majikannya, Yahya bin Khalid yang sebelumnya punya kesibukan dengan khalifah.

Usai mendengar penjelasan utusan itu, Al-Wakidi kemudian segera pergi menemui Yahya bin Khalid dan menceritakan seluruh kejadian tentang kantong uang yang bersegel khusus tersebut.

Setelah mendengar kisahnya, Yahya bin Khalid pun memerintahkan pelayannya. “Tolong ambilkan 10.000 dinar,”

Tak lama kemudian pelayan itu membawakannya, Yahya bin Khalid, berkata “Ambillah dua ribu dinar untukmu, dua ribu dinar untuk temanmu yang pedagang, dua ribu dinar untuk pria dari Bani Hasyim, dan empat ribu dinar untuk istrimu, karena dialah yang paling mulia di antara kalian,” pesan Yahya bin Khalid pada Al-Wakidi.

Biodata Al-Wakidi

Beliau memiliki nama lengkap Muhammad bin Umar bin Waqid al-Aslami adalah seorang cendekiawan, sejarawan, dan penulis biografi terkemuka pada masa awal Islam. Seorang ahli sejarah Arab ini terkenal karena karyanya, Kitāb al-Maghāzī.

Lahir pada tahun 747 M (sekitar 130 H) di Madinah, Arab Saudi. Dan Wafat pada tahun 823 M (sekitar 207 H) di Baghdad, Irak.

Al-Wakidi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah sebelum pindah ke Baghdad, di mana ia bekerja sebagai qadhi (hakim) pada masa kekhalifahan Abbasiyah.

Hikmah Kisah Orang Saleh

Kisah orang-orang saleh yang diuji kesempitan rezeki menjelang hari raya ini mengajarkan umat Islam bahwa hakikat Idul Fitri bukan terletak pada kemewahan materi atau pakaian baru, melainkan pada ketakwaan yang bertambah setelah sebulan berpuasa.

Hal ini tergambar pada sikap mereka yang lebih memilih bertawakal kepada Allah dan memberi bantuan sesama pada momentum hari raya.

Meski kemudian pemberiannya itu diganti oleh Allah dengan balasan yang berlipat.

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan tentang pentingnya peran keluarga, terutama istri salihah dalam mendukung kebaikan.

Istri Al-Wakidi tidak hanya menerima keputusan suaminya, tetapi justru mendorongnya untuk berbuat lebih ikhlas. Karena niat tulusnya, Allah memberi istri Al-Wakidi balasan terbesar melalui kemurahan hati Yahya bin Khalid

Keterangan Sumber Kisah

Kisah hikmah di atas merupakan saduran dari kitab ‘Uyunul Hikayat, karya karya Al-Imam Al-‘Allamah Jamaluddin Abil Faroj ‘Abdurrohman bin ‘Ali Ibnul Jauzi,

Imam Ibnul Jauzi (1113-1201), seorang ulama besar mazhab Hambali, lahir di Bagdad, Irak, pada tahun 508 H atau 510 H (sekitar 1113-1119 M). Beliau wafat di Bagdad pada tahun 597 H (1201 M) dalam usia lanjut. Beliau dikenal sebagai sejarawan, ahli hadis, dan penceramah ulung yang produktif menghasilkan banyak karya.

Nama Lengkap: Abu al-Faraj ibn al-Jawzi

Lahir: Bagdad, sekitar 508-510 H (1113-1119 M)

Wafat: Bagdad, 597 H (1201 M) atau dikenal

Kitab ‘Uyunul Hikayat adalah kitab kumpulan kisah-kisah langka dan penuh hikmah dari kalangan orang salih, termasuk sahabat, tabi’in, dan ulama salaf. Kitab ini bertujuan untuk wa’dz (nasihat) dan tadzkiir (peringatan), memuat lebih dari 500 cerita yang menyentuh hati dan sarat pelajaran hidup yang memberikan suri tauladan melalui kisah nyata orang-orang terdahulu.

Baca juga: Kisah Haru Rasulullah SAW Mengangkat Anak Yatim Saat Hari Raya Idulfitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button