Esai Opini Wawasan

Bulan Syaban; Nyekar, Besik, Nyadran Apa dan Bagaimana?

Bulan Syaban identik dengan tradisi Nyadran, Nyekar, dan Besik. Ketiga ritual ini seolah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Ada apa dan bagaimana dengan ketiga tradisi tersebut? Mari kita telusuri.

Bulan Syaban juga disebut dengan Ruwah. Ruwah sendiri berasal dari kata arwah (ruh). Mereka menganggap bulan Ruwah ini sebagai bulan arwah. Bulan di mana kita mengingat dan menghormati para leluhur dan keluarga yang telah meninggal. Mereka melakukan ritual – ritual tradisi yang sangat naluriah dan manusiawi untuk memuliakan orang-orang tua pendahulunya dengan mengunjungi makam, membersihkan bahkan berdoa beramai-ramai di makam keluarga. Sebagian dari yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah nyekar, besik, dan   nyadran.

Bulan Syaban merupakan bulan ke 8 dari bulan Hijriyah. Nama Syaban itu sendiri diambil dari kata Syabun (Arab: شعب), yang memiliki arti kelompok atau golongan. Mengapa di namakan dengan Sya’ban? hal ini karena pada bulan ini, masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Akan tetapi ada pula yang mengatakan, mereka (masyarakat Arab) berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan antar suku. (Lisanul Arab, kata: شعب). Al-Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (At-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, Hal. 431)

A’isyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan syaban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan syaban sampai 30 hari.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Apa itu Nyekar, Besik, Nyadran?

Nyekar berasal dari kata Jawa sekar yang berarti kembang atau bunga. Dalam praktiknya adalah  ziarah kubur dengan  melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi. Pada ritual nyekar ini berkaitan erat dengan besik.

Besik adalah membersihkan makam. Dilakukan baik secara bersama-sama dengan gotong royong di makam kampung ataupun bersama keluarga di makam keluarga yang kadang berada jauh dengan tempat tinggal. Rumput liar atau apapun yang terlihat mengganggu pemandangan akan dibersihkan sehingga pada bulan Ruwah ini makam-makam akan terlihat bersih dan tidak terasa sangar atau sungup karena dibersihkan oleh sanak keluarga dan keturunan mereka yang sudah meninggal dunia.

Meneruskan besik atau membersihkan makam, selanjutnya pada tanggal yang sudah ditentukan di tiap makam atau kampung. Warga melakukan tahlil bersama di halaman makam dengan membawa makanan maupun hasil bumi untuk di bagikan atau dimakan bersama-sama di halaman makam. Hal ini bisa dimaknakan semacam bulu bekti setelah semua di doakan dan dikhususkan untuk di sajikan pada leluhur setelah itu dinikmati bersama bersama handai taulan. Tidak terbatas pada masyarakat desa tersebut namun juga keluarga yang jauh biasanya menyempatkan diri untuk hadir sekaligus berziarah ke makam leluhurnya.

Sedangkan istilah nyadran adalah berasal dari akar kata Sadran, nama lain bulan Sya’ban. Nyadran adalah tradisi yang  lazimnya dilakukan dengan cara mengumpulkan banyak orang di salah satu tempat, biasanya kuburan leluhur sebuah desa atau orang yang dianggap berjasa atas suatu kaum guna melaksanakan doa bersama untuk arwah atau keselamatan masyarakat. Setelah selesai doa dan tahlil bersama, kemudian masyarakat yang hadir pulang dengan membawa ‘berkat’ yang berisi nasi beserta lauk pauknya. Biasanya orang yang telah melaksanakan Nyadran sebelumnya telah melaksanakan puasa dari tanggal 1 Sya’ban sampai tanggal 15 Sya’ban. Baru setelah selesai puasa selama setengah bulan ini, ia akan mengumpulkan kerabat dan handai taulan untuk melakukan doa Bersama.

Banyak hal  yang bisa diambil maknanya di sini. Seperti persiapan untuk puasa Ramadhan yang dianggap sebagai perang jihad melawan hawa nafsu. Sebelum berangkat perang,  maka sepatutnyalah  membersihkan diri dan meminta restu kepada  orang tua dan leluhur dengan harapan memperoleh kemenangan di medan perang. Semoga tradisi alami ini tidak lekang di makan jaman oleh ideologi para pemurni dan pembaharu yang menentangnya.

Di masa kini, tradisi Nyekar, Besik dan Nyadran dikemas lebih apik dan modern.  Bila dulu masyarakat melakukan sendiri atau bersama keluarga inti, maka sekarang dijadikan kegiatan kolosal dengan mengemasnya menjadi   kegiatan bersama. Ada yang mengemasnya dengan konsep tahlil masal. Ada juga yang mengemasnya dengan konsep ziaroh bersama.

Penulis : Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

17 − 7 =

Back to top button