Harlah ke-76, Fatayat NU Membumi Di Seluruh Lini Masyarakat

NU CILACAP ONLINE – Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat NU ke-76 yang dirangkaikan dengan momen doa bersama memperingati wafatnya mantan Ketua Umum PP Fatayat NU, Almh. Hj Margaret Aliyatul Maimunah. Acara yang mengusung tema “Berdaya, Berdampak, Mendunia” ini berlangsung secara khidmat di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Momentum harlah kali ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan juga ruang konsolidasi serta silaturahim bagi ribuan kader yang memadati lokasi acara.
Dalam sambutan pembuka, Sekretaris PP Fatayat NU Ela Siti Nuryamah menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh panitia pelaksana dan kader se-Jabodetabek yang telah bekerja keras menyukseskan agenda ini.
Ditekankan bahwa Fatayat NU kini terus membumi dan hadir di seluruh lini masyarakat, mulai dari pusat kota hingga ke tingkat ranting dan dusun. Kiprah organisasi perempuan muda NU ini juga kian meluas secara global melalui terbentuknya sekitar 21 Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) di luar negeri serta 441 Cabang di seluruh Nusantara.
Kehadiran lembaga penunjang seperti Fordaf (Forum Pengajian) dan LKP3A (Lembaga Kemaslahatan Keluarga dan Pendampingan Perempuan & Anak) menjadi bukti langkah konkret Fatayat dalam mengawal isu keagamaan, kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi perempuan. Baca juga Mengenang Hj Margaret Aliyatul Maimunah, Kader Tangguh…
Haru Keluarga dan Warisan Ketulusan Almarhumah
Suasana haru menyelimuti ruangan saat perwakilan keluarga almarhumah, K.H. Abdullah Mas’ud, M.A., memberikan sambutan. Ia meluruskan bahwa momentum peringatan hari itu tepat menandai 78 hari sejak berpulangnya sang istri, Almh. Hj. Margaret Aliyatul Maimunah.
“Tujuh puluh delapan hari mungkin terasa singkat dalam hitungan waktu, namun bagi keluarga kami, ini adalah perjalanan panjang belajar menerima kehilangan seorang istri, mama, dan sahabat perjuangan,” ujar K.H. Abdullah Mas’ud dengan nada bergetar.
Ia mengingatkan kembali pesan mendalam yang selalu dipegang teguh oleh almarhumah semasa hidupnya:
“Jabatan dan amanah akan selesai pada waktunya. Tetapi manfaat dan doa dari orang-orang yang kita bantu dan kita perjuangkan akan tinggal selamanya.”
Keluarga meyakini bahwa wafatnya seseorang tidak boleh menghentikan roda perjuangan organisasi. Warisan terbesar almarhumah bukanlah penghargaan fisik, melainkan lahirnya kader-kader militan yang siap melanjutkan visi besar almarhumah: “Maju bersama, menguat bersama untuk perempuan Indonesia dan peradaban dunia.”
Menjadi Pelopor dan Adaptif Zaman
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Staf Khusus Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan,Andi Majidah M. Zain, turut menyampaikan apresiasi atas usia pengabdian panjang Fatayat NU selama 76 tahun sebagai madrasah kepemimpinan perempuan di Indonesia.
Menteri PPPA menitipkan empat pesan penting bagi seluruh kader Fatayat NU:
Adaptif terhadap Zaman; Kader harus menguasai teknologi, literasi digital, dan kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.
Menjadi Pelindung Perempuan dan Anak; Aktif bergerak melawan kekerasan, perundungan, eksploitasi, dan pernikahan anak di lingkungan sekitar. Jika menemukannya, kader diminta segera melapor melalui Hotline SAPA 129 yang disediakan gratis oleh pemerintah.
Menguatkan Institusi Keluarga; Menjadikan keluarga sebagai madrasah pertama dalam mencetak generasi masa depan yang berkualitas.
Berani Menjadi Pemimpin; Siap membawa manfaat dan mengambil peran strategis, mulai dari tingkat desa hingga ruang kebijakan publik.
Santunan Anak Yatim dan Refleksi Cinta
Dalam rangkaian acara tersebut PP Fatayat NU juga menyelenggarakan aksi sosial berupa penyerahan santunan secara simbolis kepada anak-anak yatim. Penyerahan dilakukan langsung oleh Sekretaris Umum PP Fatayat NU Ela Siti Nuryamah, Bendahara Umum Wilda Sururah, Ketua Bidang Sosial dan Seni Budaya Eptati Kamaruddin, dan Ketua Panitia Kiki Qibtiah.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi, mendengarkan kesan mendalam, serta pesan cinta dari para Dewan Pembina PP Fatayat NU yang hadir, guna merawat semangat perjuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu organisasi.





