Menag Nasaruddin Umar; Perempuan Bukan dari Tulang Rusuk Adam
Membongkar Teologi Drama Kosmos Adam dan Hawa

NU CILACAP ONLINE – Pandangan teologis bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam yang bengkok sudah saatnya digeser dari ranah biologis ke ranah etis. Inilah ‘amunisi teologis’ Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH Nasaruddin Umar yang membakar semangat ribuan kader Fatayat NU dalam momen puncak peringatan Harlah Fatayat NU ke 76 di Masjid Istiqlal, Ahad (17/05/2026).
Tokoh emansipatif Islam yang juga pakar tafsir gender ini menegaskan agar kader perempuan Nahdlatul Ulama tidak boleh merasa inferior atau rendah diri di ruang publik, karena Islam sejak awal menempatkan perempuan pada posisi yang setara dengan laki-laki.
Dalam sambutan, Kiai Nasaruddin membongkar kesalahpahaman sosiologis dan teologis yang selama ini mendiskreditkan kaum hawa melalui analisis mendalam terhadap Surah An-Nisa ayat 1.
Meluruskan Mitos “Tulang Rusuk”
Selama ini, berkembang narasi di tengah masyarakat bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam yang bengkok, yang sering kali dijadikan legitimasi untuk menomorduakan perempuan. Menag dengan tegas meluruskan kaprah tersebut.
“Kata Dil’un yang berarti tulang rusuk tidak ditemukan satu kali pun di dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan khittah penciptaan perempuan,” ujar Kiai Nasaruddin.
Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan bahwa penggunaan istilah “tulang rusuk” yang terdapat dalam sejumlah hadis Nabi merupakan bentuk majaz (kiasan), bukan bersifat struktural biologis. Artinya, hadis tersebut merupakan pesan moral agar laki-laki memperlakukan perempuan dengan penuh kelembutan dan perlindungan, bukan pembenaran bahwa perempuan memiliki derajat yang lebih rendah.
Cetak Biru Genetik yang Setara
Lebih lanjut, penulis buku Argumen Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an ini membedah kaidah tata bahasa Arab (ilmu nahwu) terkait sifat dan mausuf dalam Surah An-Nisa ayat 1.
Melalui frasa min nafsin wahidah (dari diri yang satu) serta penggunaan dhamir muannats (kata ganti perempuan) pada kalimat wa khalaqa minha zaujaha, Prof Nasaruddin membuktikan secara ilmiah bahwa Adam dan Hawa diciptakan dari cetak biru (blueprint) genetik yang sama.
“Secara teologis-antropologis, tidak ada superioritas satu gender atas gender lainnya. Keduanya setara sejak dalam asal-usul penciptaan,” tegasnya di hadapan para pemudi NU.
Konsep Qawwam yang Fungsional, Bukan Struktural
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyosialisasikan perubahan penting dalam terjemahan resmi Al-Qur’an Kementerian Agama RI terkait ayat “Ar-rijalu qawwamuna ‘alan nisa”. Jika dulu kata qawwam kerap diartikan sebagai “pemimpin struktural”, kini Kemenag telah merevisinya menjadi makna yang lebih fungsional, yaitu “pelindung atau pendamping” (protector/maintenance).
Artinya, kepemimpinan dalam ruang publik maupun domestik bersifat interchangeable (saling mengisi) berdasarkan kapasitas, bukan jenis kelamin. Kiai Nasaruddin mencontohkan kisah Sayyidah Khadijah al-Kubra yang secara ekonomi bertindak sebagai kepala rumah tangga yang membiayai dakwah Rasulullah SAW selama periode Makkah.
Tak sekadar memaparkan teori, Menag juga membeberkan data riil dari kedisplinan tata kelola di lingkungan Kementerian Agama. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia merdeka, saat ini terdapat 8 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dinakhodai oleh rektor perempuan.
Berdasarkan evaluasi internal dan temuan Inspektorat, kepemimpinan perempuan (feminine management) menunjukkan empat keunggulan nyata di antaranya estetika kampus. Di mana lingkungan kampus menjadi jauh lebih rapi, indah, dan asri. Kedua dalam hal stabilitas kondusif. Bisa dilihat dari minimnya gejolak demonstrasi mahasiswa berkat pendekatan pengayoman maternal (keibuan). Ketiga tertib administrasi, yakni tata kelola birokrasi dan pelaporan keuangan jauh lebih detail. Terakhir bebas korupsi, seluruh PTKIN yang dipimpin rektor perempuan tercatat bersih dari temuan penyelewengan anggaran.
Ubah History Menjadi Her Story
Menutup taushiyah kebangsaannya, Menag memberikan lecutan semangat bagi kader Fatayat NU. Mengingat masa khidmah di Fatayat berada di usia produktif (diapit oleh IPPNU dan Muslimat NU), ia meminta para kader untuk berlari kencang menciptakan terobosan sejarah sebelum memasuki usia 30 tahun.
“Para tokoh hebat di depan kita ini mencapai puncak aktualisasi justru saat mereka sedang berproses di Fatayat. Mumpung Anda semua masih di Fatayat, buatlah sejarah. Kita bantah asumsi global bahwa sejarah hanya milik laki-laki. Ubah History (sejarah milik laki-laki) menjadi Her Story (sejarah milik perempuan). Jadilah pencipta sejarah bangsa dan kebanggaan Nahdlatul Ulama,” pungkasnya yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.





