Yuk Kenali Nama-Nama Lain Bulan Sya’ban

NU CILACAP ONLINE – Bulan Sya’ban memang bulan yang istimewa dengan berbagai kemuliaannya. Namun tak hanya istimewa, bulan ini juga memiliki beberapa nama lain seperti Syahrun Nabi, Sadran, dan Ruwah. Mari kita kenali dan pahami arti nama-nama lain bulan Sya’ban.

Dalam forum pengajian rutinan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU tim NU Cilacap Online telah menghimpun nama sekaligus makna dari nama-nama lain bulan Sya’ban. Di mana pada acara tersebut pembicaranya adalah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Cilacap KH Taufik Nur Hidayatulloh.

Syahrun Nabi

Bulan Sya’ban disebut sebagai Syahrun Nabi atau Bulannya Nabi Muhammad Saw.  Alasan kenapa bulan Sya’ban disebut Syahrun Nabi adanya karena banyaknya keutamaan di dalamnya. Nabi Muhammad sendiri suka berpuasa di bulan Sya’ban. Begitupan kita umatnya juga dianjurkan untuk melakukannya.

Di antara keutamaan bulan Sya’ban ini, Allah membuka pintu-pintu kebaikan dan menurunkan berkah-Nya, yang mana keagungan dan kemuliaan bulan ini tiada diragukan lagi.

Di bulan Sya’ban ini pula seluruh amalan tahunan manusia akan diangkat kepada Allah SWT, tepatnya di malam nisfu sya’ban.

Ketika nisfu sya’ban tiba, Allah SWT akan menghapuskan segala dosa yang sudah dibuat manusia semasa hidupnya selama 1 tahun. Selama manusia tersebut memohon keampunannya di malam tersebut.

Pada bulan ini pula Allah bershalawat kepada baginda Nabi. Hal yang tidak berlaku bagi nabi-nabi yang lain. Bahkan di bulan inilah turun perintah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya; Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

baca juga

Sasi Ruwah

Ruwah adalah jamak dari kata arwah (Bahasa Arab). Artinya ruh atau jiwa yang telah meninggal dunia. Istilah Ruwah ini erat kaitannya dengan tradisi nyadran.

Bulan Ruwah dianggap sebagai bulan untuk menghormati arwah para leluhur yang telah mendahului kita. Itulah sebabnya masyarakat menggunakan momen di bulan Ruwah untuk berziarah ke makam para orang tua yang telah meninggal.

Bulan Sadran

Orang Jawa lazim menyebut Bulan Sya’ban dengan sebutan Sadran. Dari kata ini jugalah muncul istilah Nyadran. Sebuah tradisi yang biasa dilaksanakan pada bulan Sadran seperti bersih kuburan, ziarah, nyekar dan lain-lain.

Kata Sadran sendiri berasal dari bahasa Sanskerta ‘Sraddha’ yang bermakna keyakinan. Budaya Nyadran merupakan akulturasi budaya budaya Jawa dan Islam. Tradisi Nyadran menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur.

Tradisi ini dilaksanakan pada bulan ke delapan kalender Jawa atau bertepatan dengan bulan Sya’ban atau Ruwah pada penanggalan Hijriah. Tradisi di masing-masing daerah berbeda-beda. Kegiatan ini dilakukan saat punggahan puasa (menjelang bulan puasa).

Kerukunan serta kehangatan persaudaraan saat Nyadran berlangsung sangat terasa. Salah satu yang khas dan pasti ada di setiap Nyadran, adalah acara makan bersama atau kenduri.

Prosesi ini menjadi salah satu yang ditunggu oleh warga. Setiap keluarga membawa masakan hasil bumi. Masyarakat membaur menikmati makanan, yang dihidangkan di atas daun pisang.

Masyarakat percaya dengan melakukan nyadran percaya, membersihkan makam di bulan Sadran atau Ruwah adalah bentuk pembersihan diri sebelum masuk pada bulan Suci. Bukan hanya hubungan dengan sang pencipta tetapi juga dengan para leluhur, silsilah keluarga dan para pendahulu. (Naeli Rokhmah)

“Yuk Kenali Nama-Nama Lain Bulan Sya’ban” adalah artikel yang dikutip dari Ceramah KH Taufik Nur Hidayatulloh, Pengurus LDNU Cilacap

Baca juga Sya’banan, Ruwahan, Sadranan Dalam Tuntunan Nabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button