Esai Opini Wawasan

IPNU Harus Tetap Belajar, Walaupun Sebentar

IPNU Harus Tetap Belajar
Rizky Anugerah Pratama

Sejuta harapan disandarkan pada IPNU, organisasi Pelajar NU, generasi pem-belajar untuk kejayaan NU masa depan, dan IPNU harus tetap belajar.

Kongres ke – XIV di asrama haji Sukolilo Surabaya pada tahun 2003 menjadi catatan sejarah yang perlu diingat dan direfleksikan oleh para kader IPNU, kembalinya Akronim “P” (putra) menjadi (pelajar) dan kata Pelajar ini dimantapkan kembali pada kongres ke – XV di Asrama haji pondok gede Jakarta tahun 2006.

Dengan tetap menjadi pelajar tentunya IPNU harus paham bagaimana arah gerak dan ruh organisasi keterpelajaran, IPNU harus memantapkan dan memfokuskan dirinya sebagai organisasi yang mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai paradigma dan gerakan dalam berorganisasi.

IPNU tak boleh lepas dari hal yang namanya Belajar, karena tugas pelajar yaitu belajar, dan dipertegas dalam jargon IPNU yaitu Belajar, Berjuang, Bertaqwa, dan sebelum berjuang apalagi sampai bertaqwa tentulah kita harus belajar, belajar, belajar dan terus belajar.

Sebagai organisasi yang (katanya) berbasis keilmuan, berarti IPNU dalam gerakannya harus senantiasa mengedepankan yang memiliki nilai-nilai keilmuan, terlebih IPNU adalah harapan dan masa depan NU dan Bangsa ini, IPNU adalah generasi yang digadang-gadang sebagai penerus orang tua kita, baik di NU Maupun bangsa ini, sehingga IPNU dituntut untuk mencari bekal yang banyak untuk estafet kepemimpinan yang lebih baik.

Segudang Alasan IPNU Harus Tetap Belajar

Lalu bagaimana caranya agar IPNU tetap dalam arah gerak yang sesuai dengan jati diri organisasi ?

Hari ini, banyak dari kita di pimpinan organisasi IPNU yang lupa akan jatidirinya sebagai organisasi pelajar, banyak pimpinan yang lalai dan tak memperhatikan cita cita para pendiri IPNU itu sendiri, kebanyakan dari kita hanya fokus pada rutinitas yang kebanyakan adalah agenda organisasi yang seremonial bukan esensial, IPNU harus bisa membuat agenda rutinitas yang berkualitas, menarik, unik dan tentunya memiliki bobot.

Kita harusnya paham, bergantinya akronim P “putra” ke “pelajar” bukan hanya sebatas perubahan nama saja, tetapi ada suatu nilai yang harus kita perhatikan, yaitu IPNU harus bisa menampung kebutuhan kebutuhan pelajar, khususnya gagasan dan keilmuan, sehingga organisasi keterpelajaran ini bisa membawa manfaat bagi anggotanya, tidak hanya wawasan berorganisasi tetapi ada ilmu yang bisa diambil untuk bekal dalam kehidupan sehari-hari.

Hal hal diatas perlu kita perhatikan dengan seksama, jika IPNU lalai dengan agenda yang berbasis pada keilmuan, maka kita juga akan tergerus bahkan hangus di masa yang akan datang.

Hal hal diatas perlu kita perhatikan dengan seksama, jika IPNU lalai dengan agenda yang berbasis pada keilmuan, maka kita juga akan tergerus bahkan hangus di masa yang akan datang.

Kita ambil contoh di grassroots, banyak sudah pimpinan Ranting IPNU yang setiap Minggu, mengadakan agenda amaliyah rutinan, tahlil, yaasinan, atau pembacaan maulid Al barzanji dalam acara itu saya yakin rekan rekan di ranting hanya datang, duduk, mendengarkan, membaca do’a bersama, kemudian makan makan lalu pulang. Kemudian ada anak muda non-NU mengajak diskusi atau bertanya : “mengapa di zaman ini, saat revolusi industri 5.0 kamu masih saja tahlilan, maulidan, apa dasarnya, apakah do’anya akan sampai ?” Pastinya Rekan rekan kebingungan, tidak bisa menjawab dan parahnya bisa terpengaruh oleh paham non-NU itu.

Mengapa bisa seperti itu ? Karena, kita hanya melakukan rutinitas amaliyah semata dan kita tidak mau berusaha memahami apa itu Yaasinan, Tahlilan, maulidan dan amaliyah NU yang lain, kita tak perah ada niatan untuk mempelajari atau mendiskusikannya lebih lanjut dengan kyai kita. Banyak yang menganggap itu hal sepele, remeh temeh tetapi itulah sebabnya prinsip yang harus dibenahi, harus ada bedanya anak muda NU yang ikut ber-IPNU dan tidak, harus ada bedanya NU yang kultural dan struktural.

Harus dipahami, bukan berarti tidak boleh atau melarang agenda amaliyah NU, tetapi kegiatan itu tidak akan menambah wawasan atau ilmu hanya mendapat pahala, jika, rutinitas hanya dijadikan sebagai formalitas, tetapi rutinitas harus ditata dengan niatan ikhlas dan berkualitas, sehingga, tidak hanya pahala saja tetapi pengetahuan dan keilmuan juga didapat.

Contohnya membuat kajian bersama ranting NU tentang amaliyah NU setelah itu lanjut (diskusi dan tanya jawab) walaupun sebentar, tetapi itulah yang membuat IPNU kita penuh makna, sehingga ketika rekan rekan pulang akan ada sesuatu yang didapat, karena ruh IPNU terletak pada ilmu. Artinya IPNU hari ini tidak boleh terlepas dari kegiatan atau agenda yang sifatnya pemikiran, pembelajaran dan penguatan ideologi. Jika kajian keilmuan seperti itu massif dilakukan maka itulah IPNU yang diharapkan. Dan IPNU harus tetap belajar.

Penulis: Rizky Anugerah Pratama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

three − two =

Back to top button