Jejak Ulama

Manaqib Sayyidah Fathimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha

Manaqib Sayyidah Fathimah Az Zahra Radhiyallahu Anha; ditulis oleh Sayid Machmoed BSA menjelang Milad SAYYIDAH FATHIMAH AZ ZAHRA Putri Rasulullah Muhammad ﷺ dari pernikahan dengan Sayyidah Khadijah yang lahir pada hari Ahad 23 Januari (versi Miladiyah) atau 20 Jumadil Akhir (versi Hijriyah).

Sayyidah Fathimah Putri Rasulullah SAW

Fatimah Putri Rasulullah SAWSayyidah Fathimah seorang putri kesayangan Baginda Rasulullah ﷺ, buah cinta dari pernikahan Baginda Rasulullah ﷺ dan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid; dilahirkan pada tgl 20 Jumadil Akhir 5 tahun Sebelum Nabi Muhammad ﷺ di angkat menjadi Rasul; ia adalah jantung hati yang sangat dicintai oleh Sayyidina Muhammad SAW dan Sayyidatuna Khadijah ra.

Sayyidatuna Khadijah ra setiap melahirkan mengantar anak-anaknya agar disusui, sebagaimana adat orang-orang Quraisy, kecuali Fathimah ra. Sayyidatuna Khadijah sendiri yang menyusuinya karena cintanya yang mendalam, karena kemiripannya dengan Rasulullah SAW juga karena Sayyidah Fatimah adalah anak terakhir sehingga ia mendapat perhatian khusus. Sayyidah Fathimah mendapat “gelar” dengan Az-Zahra’ karena warna kulitnya putih indah bercampur dengan kemerah-merahan.

Sebagian mengatakan Fathimah disebut Az Zahra karena ia menerangi penduduk langit sebagaimana tampak penduduk bumi gemerlapnya bintang yang ada di langit. Sayyidah Fathimah juga bergelar Al-Batuul atau suci, karena ia tidak putus dan bersemangat dalam beribadah.

Sebagian mengatakan ia dengan sebutan Al-Batuul karena tidak ada wanita di zamannya yang menandingi kemuliaan, keagungan dan derajat Sayyidah Fathimah Az Zahra. Sayyidah Fathimah juga dipanggil “Ummu Abiha”, Fathimah mendapat gelar dari ayahnya ﷺ Ummu Abiha, sebagai ibu bagi ayahnya.

Karena sepeninggal ibunya yaitu Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fathimah selalu membantu Rasulullah SAW dalam segala hal, selalu siap siang dan malam demi kepentingan ayahnya hingga akhir hayat Nabi ﷺ selalu dalam khidmat ayahnya, oleh karena itu Sayyidah Fathimah bergelar Ummu Abiha, cukup bagi Fathimah gelar tersebut merupakan satu kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.

Sayyidah Fathimah “Menyerupai” Rasulullah SAW

Sayyidah Fathimah Az Zahra adalah paling miripnya manusia dengan Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah ra: “Tidak pernah aku melihat manusia yang mirip dengan Rasulullah dalam segi diam, bicara, juga dalam berjalan atau cara duduknya seperti Fathimah binti Muhammad.

Rasulullah SAW setiap didatangi Fatimah, berdiri dari tempat duduknya dan mencium kening Sayyidah Fathimah dan mendudukkan Fathimah di tempat duduknya. Begitu juga Fathimah jika didatangi Rasulullah SAW.”
Imam Anas bin Malik ra berkata:

“Tidak ada yang mirip dengan Rasulullah SAW seperti Sayyidina Hasan bin Ali KRW dan Sayyidah Fathimah binti Muhammad.”

Sayyidah Aisyah: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling menyerupai Nabi SAW dalam kata-katanya atau cara bicaranya seperti Fathimah.”

Sayyidah Fathimah mempunyai tempat khusus di hati Rasulullah SAW sungguh banyak sekali Rasulullah SAW memberikan bisyaroh pada Sayyidah Fatimah.

Sayyiduna Ali krw bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapa yang paling engkau cintai, aku atau Fathimah?”

Rasulullah SAW menjawab: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai sedang engkau lebih mulia darinya.”

Rasulullah SAW juga bersabda,: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai di antara keluarga-keluarga ku”
Sayyidah Aisyah ra pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ?”

Sayyidah Aisyah ra menjawab, “Fathimah, dan dari golongan lelaki yaitu suaminya (Ali bin Abi Talib ra).”
Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya, maka telah menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah gembira, maka telah membuatku gembira. Semua nasab terputus di hari kiamat kecuali nasabku.”

Manaqib Sayyidah Fathimah

Manaqib Sayyidah Fathimah Berapa banyak riwayat yang menyebutkan kemuliaan, kecintaan, juga kekhususan Sayyidah Fathimah dalam hati Rasulullah ﷺ. Yang mana akan kita lihat dalam riwayat hidupnya (manaqib ini). Kelahiran dan Masa Kecil Sayyidah Fathimah Az Zahra ra

Hari-hari pun berlalu, Nabi ﷺ sholat didalam rumah dan mengajari Sayyidatuna Khadijah ra, anak-anak perempuannya, serta Sayyidah Fathimah dalam bimbingan ayahnya yang penuh kasih sayang. Belajar kemuliaan, ibadah, juga bersimpu di hadapan Allah

Belajar zikir, juga bagaimana tatacara mengabdi kepada Allah di umur yang sangat kecil, ia terdidik untuk naik ke darjat yang tinggi. Sampai ketika umur Sayyidah Fathimah 7 tahun, Allah memerintahkan Nabi ﷺ menampakkan dakwahnya, “Fasda’ bima tu’mar wa’ridh ‘anil musyrikin.” Juga diperintahkan untuk memperingatkan keluarganya, “Wa andzir asyirotakal aqrobiin.”

Maka Rasulullah ﷺ melaksanakannya dan menampakkan dakwahnya. Ketika Nabi ﷺ menampakkan dakwahnya, Sayyidah Fathimah Az Zahra dalam umur yang masih kecil itu sebagai gambaran dan suri tauladan dalam dakwah ini.
Nabi ﷺ berkata: “Wahai kaum Quraisy, bani Abdul Muttholib, Abas bin Abdul Muttholib, Shofiyyah ‘ammati (ibu saudara), selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa atas kalian di depan Allah.

Kemudian Nabi ﷺ menujukan pembicaraan ke Sayyidah Fathimah, dan berkata: “Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah.”

Masa Kecil Sayyidah Fathimah

Sebagian orang heran dengan hadits ini juga ketika melihat periwayat hadis ini adalah Bukhari Muslim. Bagaimana Nabi ﷺ menujukan pembicaraannya kepada kaum Quraisy, bapak-bapak saudaranya, juga ibu saudaranya, kemudian menujukannya kepada anak kecil yang berusia 7 tahun?

Tidak lain karena Nabi ﷺ tahu kekhususan, keistimewaan dan pengetahuanya yang luas juga karena kecerdasannya dalam meresap ilmu yang diberikan Nabi ﷺ.

Coba kita renungkan apa yang ada dalam hati Zahra’, sedang beliau dalam umur yang masih kecil ketika mendengar ayahnya mengkhususkan dalam khithobnya?

Tidak diragukan lagi khitob yang ditujukan ayahnya semakin membuat semangat dan menggerakkan Sayyidah Fathimah serta memberi kekuatan yang luar biasa dalam hatinya. Seakan-akan Nabi memberikan amanat yang besar dan mengkhususkan dengan perintahnya.

Di masa kecilnya, Sayyidah Fathimah selalu ikut di belakang ayahnya kemana beliau pergi. Mengikuti ayahnya ketika berjalan di jalan-jalan Makkah, karena kaum Quraisy telah menyakiti Nabi ﷺ bahkan mengirim pengintai untuk mengintai Nabi ﷺ.

Fathimah khawatir dengan keadaan ayahnya. Sayyidah Fathimah telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekerasan yang tidak pantas anak sekecil itu melihatnya.

Fatimah Putri Rasulullah Pribadi Yang Kuat

Pribadi Yang Kuat

Para ulama’ berkata bahwa Fathimah tumbuh dengan pertumbuhan yang sangat bagus. Mempersiapkan anak cucu yang ada di rahimnya, dan menumbuhkan sifat keimanan yang kuat. Kerana di masa sekecil itu, Fathimah menghadapi banyak cobaan yang berat, maka terbentuklah dalam diri Fathimah kepribadian yang kuat dan mandiri, yang mana dengannya memberikan kesiapan atas dirinya untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Suatu hari Sayyidah Fathimah keluar, yang mana tidak tergambarkan dalam benak kita anak perempuan sekecil ini yang sangat lembut hatinya, rahmat terhadap sesama, seseorang yang penuh rasa kasih sayang, yang terdidik di rumah yang penuh keistimewaan, keluar mengikuti ayahnya menujuh Ka’bah.

Ketika Nabi ﷺ sedang melakukan ibadah, Sayyidah Fathimah menunggu ayahnya di sampingnya. Ketika ayahnya sedang sujud, datang manusia paling celaka yaitu Uqbah bin Abi Mu’ait beserta teman-temannya, mendekati Nabi yang sedang sujud, dan Uqbah menginjakkan kakinya di atas kepala Rasulullah ﷺ, kemudian menarik Nabi dan mencekiknya dengan sangat keras sehingga mata Nabi ﷺ menonjol keluar.

Kemudian datang Sayyidina Abu Bakar ra dengan berlari, berusaha mencegah. Sedangkan Fathimah hanya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri yang diiringi air mata dan berdoa. Kemudian Uqbah dan teman-temannya berpindah memukuli dan menyiksa Sayyidina Abu Bakar ra

Fathimah bergegas menolong ayahnya dan membawa pulang. Pulang dalam keadaan menangis dan penuh kesedihan dalam hati Fatimah. Anak sekecil itu menyaksikan ayahnya dianiaya orang-orang Quraisy, di mana seharusnya mereka berbuat baik, karena ayahnya adalah orang yang terkenal pemurah, jujur, yang selalu diperbincangkan kejujurannya.

Ayahnyalah yang menyelesaikan pertikaian Quraisy dalam meletakkan Hajar Aswad, dan menyelamatkan Quraisy dari perpecahan dan permusuhan. Sayyidah Fatimah mengalami derita yang mendalam di masa pertumbuhannya. Di masa kecil yang seharusnya tidak mengenal kecuali kasih sayang, kelembutan, dan kegembiraan.

Akan tetapi Sayyidah Fatimah hidup dengan penderitaan ini dan mulai merasakan kesedihan atas ayahnya ﷺ.
Maka kembali Nabi ﷺ ke rumahnya duduk didampingi Sayyidah Fatimah, yang hanya bisa membisu dan menatap wajah ayahnya. Dengan air mata yang terus mengalir atas apa yang telah menimpa ayahnya.

Kasih Sayang Sayyidah Khadijah

Kemudian Sayyidah Khadijah menghampiri Nabi ﷺ dengan penuh kasih sayang, merawat, membersihkan dan mengusap bekas darah dan lebam yang ada di wajah Rasulullah ﷺ akibat pukulan-pukulan orang Quraisy.

Tanpa disadari Sayyidah Khadijah menetiskan air mata dan bertanya atas apa yang terjadi, Nabi ﷺ pun menceritakannya: Suatu hari Rasulullah ﷺ keluar, dan Fathimah mengikuti di belakangnya menuju ke Ka’bah. Kemudian Nabi ﷺ melakukan sholat dan Fathimah duduk di samping ayahnya.

Sedangkan di samping Ka’bah orang-orang Quraisy sedang berkumpul. Tiba-tiba datang salah satu dari mereka membawa bungkusan yang berisi kotoran dan darah onta yang baru melahirkan yang sangat bau dan menjijikkan mendekati Nabi ﷺ dan menuangkannya di punggung, leher serta kepala Nabi ﷺ. Mereka menertawakan Rasulullah ﷺ, bergembira, menari-nari sambil bertepuk tangan. Bahkan ada yang sampai jatuh terlentang kerana terlalu kuat tertawa.

Rasulullah ﷺ tetap khusyuk dalam sujudnya. Fathimah menangis dan menghampiri ayahnya. Dalam keadaan menangis Fathimah menghampiri ayahnya, sambil membersihkan kotoran-kotoran yang ada di bahu ayahnya seraya berdoa atas orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bangun dalam keadaan marah dan berdoa: “Ya Allah, celakakanlah Uqbah bin Abi Mu’ait, celakakanlah Hisam bin Hakam, celakakanlah Utbah.”

Maka Demi Allah, tidak disebut nama mereka kecuali terbunuh di perang badar. Maka Nabi ﷺ pulang, sedangkan air mata Fathimah terus mengalir. Ketika sampai dirumah Fathimah membersikan kepala ayahnya dan mencuci baju ayahnya dalam keadaan menangis.

Baca juga: Jangan Pernah Lupakan Sayyidah Hajar

Jantung Hati Rasulullah SAW

Maka Nabi ﷺ berkata: “Wahai jantung hatiku, janganlah kau menangis karena Allah selalu menjaga ayahmu.”
Suatu hari Sayyidah Fathimah keluar dan menemukan kaum Quraisy sedang merencanakan sesuatu, sepertinya kali ini mereka menginginkan hal yang besar, bukan meletakkan kotoran akan tetapi mereka merencanakan sesuatu yang dahsyat.

Mereka memikirkan bagaimana membunuh Nabi ﷺ. Ketika mendengar khabar ini, maka Sayyidah Fathimah berlari dengan cepat. menuju Ka’bah dan memeluk ayahnya, sedang wajah Sayyidah Fatimah pucat dengan penuh rasa cemas.

Nabi SAW bertanya, Apa yang telah terjadi wahai anakku?

Sayyidah Fatimah menjawab: “Wahai ayahku, mereka merencanakan sesuatu dan akan membunuhmu.
Aku takut terjadi sesuatu atasmu.

Maka Nabi SAW berkata: “Tenanglah wahai anakku, sesungguhnya Allah SWT selalu menjaga ayahmu.”

Nabi SAW berkata: “Berdirilah bersamaku.”

Maka Sayyidah Fatimah berdiri bersama ayahnya, keluar dari Ka’bah dengan hati yang teguh. Sedangkan orang Quraisy bersiap-siap menghadang Nabi SAW. Nabi menghadap mereka dengan berdoa dan lewat di depan mereka dengan penuh haibah (wibawa) Orang-orang Quraisy terdiam seribu bahasa dan hanya melihat Nabi SAW melintas di depan mereka. Hati dan fikiran Sayyidah Fathimah tenang.

Sayyidah Fathimah yakin bahwa ayahnya dalam lindungan dan penjagaan Allah, yakin bahwa Allah tidak menyerahkan ayahnya pada orang-orang kafir kecuali atas musibah yang mengangkat ayahnya ke martabat dan derajat yang tinggi.

Fatimah Az Zahra Jantung Hati Rasulullah SAW

Melewati Gangguan dan Ujian

Yang sangat Rasulullah SAW sesalkan adalah bahwa ujian dan gangguan yang diterima muncul dari orang terdekat sendiri,yaitu Abu Lahab (paman Nabi SAW) dan isterinya, Ummu Jamil.

Setiap hari Sayyidah Fathimah menemukan duri-duri dan kotoran di depan pintu rumahnya, dan Nabi SAW tetap sabar membersihkannya, tidak berbicara. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, Sayyidah Fatimah melihat ayahnya tetap sabar dan berusaha untuk sabar. Ayahnya selalu bermujahadah atau berusaha dan bersyukur. Yang mana tidak keluar dari lisannya kecuali kata-kata yang baik, juga tidak menyimpan dalam hati kecuali hal-hal yang baik.

Sayyidah Fathimah mengambil pelajaran yang sangat berharga yaitu Ar-Rahmah dari Rasulullah SAW.
Kemudian Quraisy melibatkan keluarga Nabi SAW dalam permusuhannya, tetapi Nabi SAW tetap melindungi keluarganya dari gangguan Quraisy.

Ummu Jamil (isteri Abu Lahab) berkata: “Wahai kedua anakku kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian tetap bersama anak-anak Muhammad.”

Utsbah dan Utaibah, anak Abu Lahab menikah dengan Ruqayyah dan Ummu Kulsum, puteri Nabi SAW. Maka Utsbah dan Utaibah menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kulsum.

Di tengah panasnya terik matahari, kedua puteri Nabi SAW tersebut berjalan meninggalkan rumah suaminya. Perempuan yang masih muda dan cantik kembali ke rumah ayahnya dengan hati yang penuh luka dan kesedihan.
Bayangkan, bagaimana keadaan seorang anak perempuan yang baru saja melaksanakan pernikahan, dan merasakan manisnya kasih sayang dan kegembiraan harus merasakan pedihnya dan pahitnya perceraian?

Mereka tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Mereka tidak melakukan dosa apapun. Akan tetapi karena keras kepala, kebencian dan kebodohan. Maka, kembalilah Ruqayyah dan Ummu Kulsum dengan hati penuh kekecewaan. Fathimah menyambut kakak-kakaknya dengan aliran air mata.

Bayangkan, apa yg terlintas di benak Fathimah? Mereka pergi dengan kegembiraan di malam pengantin, dan kembali dengan penuh kesedihan dan kekecewaan, Fathimah dan kedua kakaknya duduk di kamar saling menangis. Sedangkan Sayyidah Zainab telah menikah dengan Abul Ash bin Robi’.

Orang-orang kafir Quraisy terus menekan dan memaksa Abul Ash agar menceraikan puteri Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidah Zainab. Akan tetapi Abul Ash tidak menghiraukan perkataan Quraisy karena Abul Ash sangat mencintai Zainab, dan Zainab pun sangat mencintainya.

Sayyidah Fathimah Usia Remaja

Sayyidah Fathimah Usia Remaja

Ketika umur Sayyidah Fathimah 10 tahun, datang perintah untuk hijrah ke negeri Habasya. Karena keadaan muslimin di Makkah sangat memprihatinkan atas gangguan-gangguan orang Quraisy. Di satu sisi, Rasulullah SAW telah menikahkan puterinya Ruqayyah dengan Sayyiduna Uthman

Sayyiduna Uthman adalah orang pertama yang hijrah dalam islam ke negeri Habasya berserta isterinya Ruqayyah. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Uthman adalah orang yang pertama kali hijrah dengan keluarganya setelah Nabi Luth AS.”

Ruqayyah mendapatkan kedudukan yang mulia ini (sebagai orang yang pertama hijrah dalam Islam).
Kita lihat bagaimana Nabi SAW meneguhkan keluarganya. Yang mana keluarga beliau selalu terdepan dalam ujian dan cobaan, selalu terdepan dalam perkara-perkara yang sulit.

Puteri beliau adalah wanita yang pertama kali hijrah (menempuh perjalanan yang penuh kesulitan di tengah terik matahari dan melewati gurun pasir yang penuh rintangan). Sayyidina Uthman dan Sayyidah Ruqayyah kembali dari Habasya, saat turunnya wahyu Surat An-Najm dan mengira bahwa orang Quraisy telah masuk Islam.

Sayyidah Fathimah gembira setelah lama berpisah dengan seorang kakak tercinta. Fathimah menyambut dengan gembira dan berpelukan. Kemudian mereka kembali untuk kedua kalinya ke Habasya, setelah terbukti bahwa khabar ke Islam Quraisy adalah dusta.

Masih tetap rumah dan keluarga yang mulia ini dalam keadaan seperti ini. Yang ini pergi, yang ini datang.
Yang ini menikah, yang ini diceraikan. Cobaan demi cobaan silih berganti, akan tetapi Rasulullah SAW laksana gunung yang kekar tidak bergerak sedikitpun, pantang menyerah dan selalu sabar.

Bayang Bayang Kafir Quraisy

Di mana tidak berlalu waktu atau hari melainkan dikorbankan demi agama ini. Sayyidah Fathimah Az Zahra bertambah dewasa dan sampai di umurnya yang ke 12 tahun, di tahun ke-7 dari kenabian, tepatnya di bulan Muharram, orang-orang kafir Quraisy sepakat dalam suatu rencana yang sangat buruk. Mereka sepakat untuk menulis perjanjian yang berisikan kesepakatan untuk memboikot Rasulullah ﷺ.

Dalam Syi’ib atau lembah Abi Muthalib semuanya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, baik yang muslim atau yang kafir. Dalam isi surat perjanjian itu, mereka sepakat utk memutuskan semua hubungan dengan mereka

Tidak menikahi mereka, tidak jual beli dengan mereka, mencegah segala sebab-sebab masuknya rizieq ke mereka, tidak menerima perdamaian sampai Bani Abdul Muthalib menyerahkan Rasulullah utk dibunuh
Mereka menggantungkan surat perjanjian itu dalam Ka’bah.

Bertambah parah keadaan Rasulullah SAW bersama Sayyidatuna Khadijah. Di mana Sayyidatuna Khadijah sebelum Islam adalah wanita terkaya di negeri Arab, baik dari laki-laki atau perempuan, Bahkan dikatakan kalau semua harta orang-orang Quraisy dikumpulkan tidak bisa menandingi harta Sayyidah  Khadijah.

Sayyidah Khadijah begitu melimpah hartanya. Akan tetapi dia sekarang berada dalam boikotan di lembah Abi Thalib. Mereka tertimpa atas apa-apa yang menimpa. Keadaan lapar yang sangat amat luar biasa mereka lalui 2 atau 3 hari tidak secuil makanan pun masuk ke dalam perut mereka. Bahkan mereka sampai dalam keadaan memakan dedaunan yg ada di sekitar mereka (bahkan tampak urat mereka berwarna hijau).Sedangkan pemboikotan bukan seminggu, sebulan, atau setahun.

Tetapi mendekati 3 tahun, dalam keadaan yang sangat amat memprihatinkan ini. Setahun telah berlalu, dan Sayyidah Fathimah Az Zahra berumur 13 tahun, Fathimah mendekati ibunya melewati tangisan-tangisan bayi dan rintihan anak-anak kecil kepada ibunya karena lapar.

Akan tetapi yang sangat menakjubkan adalah, mereka saling menahan dan menutupi satu sama lain agar tidak ada yang saling cemas. Bahkan Rasulullah SAW menampakkan wajah yang cerah walaupun dalam keadaan yang sama, agar mereka tidak cemas.

Sungguh merupakan pemandangan dan pelajaran yang indah. Satu sama lain ingin membantu mengembang risalah kenabian, Rasulullah SAW sangat sabar menghadapi apa yang terjadi. Hari dan malam pun berlalu.
Ketika semua orang tertidur, semua mata tertutup. Terdengar teriakan, “Aaaahk.. Aaaahk.”

Dari banyak segi diiringi isak tangis bayi karena sangat lapar. Hal ini disebabkan hari-hari yang mereka lalui di tengah panasnya gurun, bahkan tidak sepotong roti pun masuk ke perut mereka. Begitu juga keadaan Sayyidah Fathimah dan Sayyidah Ummu Kultsum, sedang Sayyidah Ruqayyah bersama suaminya dalam rantauan di negeri Habasya. Tubuh Sayyidah Fathimah tampak sangat kurus bahkan seolah-olah kulit perutnya melekat dengan tulang punggungnya karena sangat lapar.

Namun, Sayyidah Fathimah Az Zahra dengan sekuat tenaga menahan apa yang terjadi demi tegaknya agama Islam. Di satu sisi, Sayyidah Khadijah jatuh sakit dan berada di tempat tidurnya. Sehingga memberikan bekas yang sangat menyakitkan bagi Fathimah dan Ummu Kultsum. Betapa seringnya Fathimah tidak tidur malam menjaga dan melayani ibunya. Tampak terlihat suatu perilaku yg sangat mulia dan indah dari akhlak Fathimah yg bersumber dari seorang ibu.

Pelajaran dari Sayyidah Fathimah Az Zahra

Suatu pelajaran yang seharusnya dan seandainya para wanita di zaman sekarang ini mempelajarinya. Ini merupakan suatu akhlak yang dapat mengangkat ke derajat yang tinggi.

Pelajaran dari Sayyidah Fathimah Az ZahraSayyidah Fathimah Az Zahra setia mendampingi dan duduk di samping ibunya yang dalam keadaan tidak dapat bergerak dan berbicara. Kemudian datang Rasulullah SAW, merasa dengan kedatangan Rasulullah, Sayyidatuna Khadijah dengan sekuat tenaga menahan segala rasa sakit. Berdiri dengan semangat dan menampakkan ketegarannya di depan Rasulullah SAW. Sayyidah Khadijah berusaha menutupi rasa sakitnya sehingga tidak menambah beban Rasulullah SAW. Sayyidah Fathimah melihat kejadian yang sangat menakjubkan dan begitu indah.

Terdapat pelajaran yang sangat berharga, melihat ikatan cinta yang agung, yang luar biasa, dan murni. Sebuah rasa dan pengorbanan cinta yang tidak mengetahui rasa ini baik langit ataupun bumi. Subhanallah.

Seorang istri mencintai suaminya sampai ke derajat yang sangat tinggi ini. Sebuah cinta yang menimbulkan rasa tidak ridha jika suaminya melihat apa yang terjadi atasnya, sedangkan ia dalam keadaan sakit yang sangat parah.
Tidak ingin menambah beban kesediaan suaminya, tidak ingin suaminya sedih atasnya.

Sungguh ini pelajaran yang berharga bagi para wanita. Sayyidah Fathimah Az Zahra tumbuh semakin dewasa, masa kecilnya berlalu dalam pemboikotan 13, 14, 15, berlalu dalam kesusahan dan derita dalam pemboikotan yang penuh kesengsaraan.

Suatu hari, datang Sayyidina Bilal bin Rabbah ke tempat pemboikotan dengan sembunyi-sembunyi membawa sepotong roti yang tersimpan di ketiaknya agar tidak terlihat oleh orang kafir Quraisy. Sayyidina Bilal mendekati Rasulullah SAW dan memberikan sepotong roti ke Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun menghampiri dan menyuapi Fathimah, kemudian menyuapi Ummi Kultsum, juga Sayyidatuna Khadijah dengan penuh kasih sayang.

Keadaan demi keadaan dalam penuh kesusahan telah dilalui oleh keluarga yang sangat suci, keluarga yang dicintai Allah SWT. Akhirnya, selesailah pemboikotan ini, selesai dengan sebab mujizat yang agung.

Rasulullah telah memberi khabar bahwa isi dari surat penjanjian telah dimakan oleh anai-anai kecuali bagian yg tertulis nama Allah (surat tersebut berada dalam kotak yang terkunci dan diletakkan di dalam Ka’bah). Maka selesailah pemboikotan tersebut, akan tetapi peristiwa pemboikotan itu berdampak sangat buruk. Selang beberapa hari datang kabar yang sangat menyedihkan yaitu kabar meninggalnya Abu Thalib.

Baca Juga >> 11 Ramadhan Haul Ummul Mu’minin Sayyidah Khadijah Al Kubro

Shallu ala Nabi Muhammad 🌹

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button