Esai Opini Wawasan

Heroisme Para Masyayikh Nahdlatul Ulama (NU)

Oleh Ahmad Samsul Rijal *)

Heroisme adalah sifat kepahlawanan, yaitu keberanian dalam membela keadilan dan kebenaran, sebagaimana pernah diperagakan oleh para Masyayikh Nahdlatul Ulama sehingga melahirkan para pahlawan dari NU.

Artikel Heroisme Para Masyayikh Nahdlatul Ulama (NU) berikut ini merupakan refleksi dari kader Nahdlatul Ulama tentang nilai-nilai dan sifat serta sanad kepahlawanan para pendiri dan penggerak NU.

Sikap Tegas NU

Hari Santri Nasional (HSN) menjadi titik kordinat yang menempatkan fatwa ‘Resolusi Jihad’ Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari sekaligus sikap tegas Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sumber energi mempertemukan arus kesadaran vertikal dan horizontal saat itu.

Sebuah keputusan yang sangat berat namun strategis mengubah dan membangkitkan naluri perlawanan yang disegani dunia Internasional. Keputusan berat karena terpampang jelas risiko dan tanggungjawabnya lahir-batin mengatasnamakan Tuhan (dimensi teologis).

Keputusan strategis, karena perubahan besar akan terjadi dari nyala api resolusi yang dikobarkan untuk merubah keadaan atau terjadi sebaliknya. Membangkitkan naluri (mentalitas) perlawanan karena spirit dan daya juang santri-awam menemukan titik didih dari hati Ulama/Auliya’. Dan disegani dunia internasional karena benturan arus besar gelombang Resolusi Jihad meruntuhkan peta kekuatan dunia kala itu.

Baca juga: Sejarah Hari Santri Nasional & Isi Kandungan Resolusi Jihad NU

Betapa sekutu sebagai pemenang perang Dunia II -diboncengi NICA- menebar ‘pongah’ dihadapan para militan yang gagah-gagah ditengah para Ulama. Sekutu dipaksa mencatat dalam buku hitam-kelam mereka tentang ‘fatwa Resolusi Jihad’ berdaya ledak melebihi ‘Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki’. Hingga sekutu dan barat alergi dan tidak ingin kata ‘Jihad’ menggema kembali ditengah modernitas, karena dinilai alat primitif, cara orang-orang primitif dari komunitas tradisional yang tidak berorientasi global.

Fatwa Resolusi Jihad

Fatwa Resolusi Jihad itu dari Para Ulama berwibawa dan kharismatik, terutama Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari; Raisul Akbar Nahdlatul Ulama. Isi kandungan Fatwa itu menegaskan posisi agama sebagai sumber kekuatan membangkitkan perlawanan; keyakinan dan kesadaran untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan bahaya kolonialisme.

Mendengar Resolusi Jihad Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober 1945, puluhan hingga ratusan ribu santri dan awam berbondong-bondong menuju palagan Surabaya menyambut kedatangan Sekutu diboncengi NICA yang mendarat 25 Oktober 1945. Tanpa ketrampilan perang, tanpa penguasaan senjata dan tanpa strategi yang memadai, mereka siap dikomando untuk maju di garis depan perang untuk syahid.

“Cak, ndi perange ? ndi musuhe ?”, tanya santri kepada pejuang yang tiarap dan merunduk.

“Nang kono !”, jawab milisi menunjuk arah depan.

“Iku arek-arek santri arep perang opo ndelok ludruk se?”, celetuk milisi melihat rombongan santri tanpa rasa takut maju dimedan perang, dan mereka pun Syuhada’ ditengah laga.

“Pokoke wong krungu Jihad … Jihad… Mbah Hasyim … Mbah Hasyim…, semua orang keluar rumah dan langsung tawur-gelut sambil berteriak ‘Allah Akbar’”, ungkap testimoni para pejuang 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Demikian pula dengan para kiai yang memimpin peperangan ditengah medan pertempuran. Inilah sekelumit kisah heroik Kiai-Santri dalam perang tanggal 27 Oktober hingga 10 Nopember 1945 yang dikenang dengan Hari Pahlawan Nasional.

Mengapa Resolusi Jihad ?

Fatwa Jihad fi sabilillah Hadratussyekh memuat kewajiban berjihad perang secara umum dan khusus bagi setiap muslim Indonesia. Kemudian menjadi sikap Jam’iyyah Nahdlatul Ulama melalui Rapat Besar yang dikenal dengan “Resolusi Jihad fi Sabilillah” dan diperkuat putusan itu melalui Muktamar Nahdlatul Ulama. Resolusi memuat putusan atau kebulatan pendapat berbentuk permintaan atau tuntutan tertulis yang ditetapkan oleh rapat kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Diawali oleh permintaan fatwa Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia kepada Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari, Raisul Akbar NU; “apa yang harus dilakukan warga negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai Indonesia”. Dan “bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia ?, serta sejak diproklamasikan 17 Agustus dan dibentuk 18 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui kemerdekaan Negara Indonesia?”.

Dimaklumi, bahwa Negara Republik Indonesia resmi membentuk tentara penjaga negara pada 5 Oktober 1945, dan pada 10 Oktober 1945 diumumkan pertama kalinya nama dan jumlah tentara di pulau jawa, yakni bernama Tentara Keamanan Rakyar (TKR) berjumlah 10 Divisi setara 100.000 personel dari berbagai unsur milisi pejuang kemerdekaan, dan itupun sebagian besar resimen dan batalyon dipimpin oleh Para Kiai.

Sehingga dari jumlah itu, kemampuan, pengalaman, peralatan, sebaran, sistem komando dan lain-lain, tidak memungkinkan menghadapi Sekutu diboncengi NICA Belanda berjumlah 6.000 dengan persenjataan lengkap dan modern, kapal perang dan armada laut.

Bahwa oleh Dunia paska selesai Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, Indonesia diberitakan sebagai negara boneka bikinan Jepang, bukan atas kehendak rakyat. Dengan demikian Indonesia diartikan sebagai negara yang tidak dibela oleh rakyatnya.

Dalam konteks ini Sekutu menyangka tidak ada lagi perang di Indonesia, tugas mereka melucuti persenjataan Jepang, menegakkan ketertiban walau diboncengi NICA (Netherlands Indies Civiele Administration); Pemerintahan Sipil Hindia Belanda untuk berkuasa kembali di negeri jajahan, Indonesia.

Namun, sangkaan mereka salah; Indonesia telah merdeka dan berdaulat, rakyatnya pejuang tangguh, dan kiai, santri serta pesantren adalah pusat perlawanan fisik yang tidak pernah padam berabad-abad lamanya. Akibat salah sangka ini, Sekutu –sebagai kekuatan pemenang perang dunia ke-2- harus kehilangan 2 jenderalnya yang tewas di medan tempur, dan fakta ini sangat menyakitkan sekutu.

Baca juga: KH Abdul Wahab Hasbullah Pahlawan Nasional Pendiri NU 

Sanad Heroisme Masyayikh NU

Sikap tegas para masyayikh melalui Fatwa Jihad hingga memimpin langsung di medan laga bukanlah sikap dan teladan tanpa sanad (sandaran-rujukan). Sekurangnya Syaikhona KHR. Muhammad Kholil Bin Abdul Latif al Bangkalani dan Syaikhona KH Nawawi bin Umar al Bantani. Keduanya itu guru Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari adalah sandaran teladan ketegasan sikap anti penjajajahan dan ketidakadilan, sekaligus gambaran sikap kedaulatan-kemandirian.

Banyak bukti yang menunjukkannya dan salah satu yang terkenal adalah sikap ‘anti tasyabbuh’; anti meniru dan mengikuti cara-cara hingga karakter sosok-sosok kolonial, pencipta ketidakadilan.

Dalam konteks inilah para masyayikh Nahdlatul Ulama (NU) adalah panutan teladan yang dalam sikap dan tindakan selalu mengedepankan sandaran-teladan sikap dari para pendahulu-pendahulunya. Dari sini pula bisa dipahami kunci kekuatan Nahdlatul Ulama, yakni terletak pada Sanad-Sandaran-Rujukan dalam memahami masalah dan bersikap, bahkan bertindak dalam menyelesaikan masalah.

Karena menanamkan kebenaran dan kebaikan bagi jam’iyyah dan jama’ah an-Nahdliyyah menghendaki keselamatan jalan dan jalur dalam menjaga kemurnian dakwah, perjuangan dan daya juang merubah keadaan.

Baca juga: Usmar Ismail; Pendiri Lesbumi NU, Pahlawan Nasional

Heroisme Masa Kini

Maka, HSN dan Hari Pahlawan Nasional, 10 Nopember adalah momentum reflektif (perenungan) tentang Heroisme Masyayikh NU dengan kekuatan dan kehebatan Sanad-Sandaran-Rujukan dan heroisme kepahlawanan dari para Masyayikh Nahdlatul Ulama dalam membangkitkan kemurnian dakwah, perjuangan serta daya juang dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan berdasar ilmu serta keteladan.

Dalam konteks Jombang terkini, kita bisa belajar dari para Masyayikh Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren dalam membangkitkan dakwah-perjuangan menegakkan kebenaran serta kebaikan berdasar Ilmu-Keteladan.

Salah satunya adalah Almaghfurlah KH Abdul Nashir Fattah. Dalam segala hal, beliau banyak terinsipirasi (tersambung sanad) teladan kepemimpinan dari para guru dan pendahulu Pesantren-Masyayikh NU, serta dari sisi keilmuan dari para masyayikh timur tengah.

Diantara yang sering beliau sebut sebagai sandaran adalah KH Maemun Zubeir Sarang, KH MA. Sahal Mahfudz Pati, KH Abdul Fattah bin Hasyim ayahandanya, KH Abdul Wahab bin Chasbullah Tambakberas, KH Ahmad Bishri bin Syansuri Denanyar, KH Abdul Hamid bin Chasbullah Tambakberas, KH Yasin al Padani, Masyayikh Azhar dan lain-lain.

Maka, sepatutnya bagi kita para Santri, penerus perjuangan Islam Aswaja Al Nahdliyah dan penerus penjaga kedaulatan-kemandirian sikap dalam bermasyarakat bangsa, selalu tersambung dan merujuk kemurnian jalan serta jalur keilmuan dan perjuangan para Masyayikh Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga: 9 Tokoh NU Yang Bergelar Pahlawan Nasional, Siapa Saja?

*) Ahmad Samsul Rijal bin H Imam Sujuthi, tinggal di Jombang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button