Esai Opini Wawasan

Siapakah Tuhan yang Kita Sembah? (Gagasan Manusia Tentang Tuhan)

Jika kita mempelajari ilmu anthropologi tentang Tuhan, maka kita akan menemukan suatu evolusi tentang ide-ide dan gagasan manusia tentang Tuhan. Tentu ini suatu pemahaman manusia pra-agama. Maksudnya, sebelum agama-agama tauhid turun ke muka bumi.

Saya sebut evolusi, sebab penemuan gagasan tentang monotheisme yang sekarang ini, sesungguhnya merupakan suatu perjalanan sejarah kebudayaan yang sangat panjang, dari animisme-dinamisme, polytheisme, hingga monotheisme.

Dalam diskursus monotheisme kontemporer pun perdebatan tentang Tuhan, tak kunjung selesai di antara para pemeluk agama yang monotheistik, walau mereka semua semuanya mendasari kepada kitab suci yang diklaim sebagai kalam Tuhan.

Konsep trinitas injil digugat oleh Qur’an, dan pemahaman Yahudi, digugat oleh Injil. Agama yang turun belakangan selalu meng-klaim sebagai penyempurna agama yang turun sebelumnya. Hal ini menyebabkan di antara agama-agama samawi itu, yang seharusnya bersaudara, muncul pertentangan yang hebat. Padahal mereka merasa sama-sama dari Tuhan. Lalu bagaimana dengan agama-agama yang dituduh sebagai agama bumi, karena tidak mengklaim datang dari Tuhan, seperti Hindhu dan Budha, misalnya?

Masalahnya tentu semua mengaku menyembah Tuhan yang paling benar dan menjajajah pemahaman yang lain menjadi salah. Keimanannya paling suci, dan yang lain adalah syirik.

Jadi, ini persoalan tauhid. Termasuk tentu pemahaman terhadap ilmu tauhid itu sendiri. Kalau memahami epistimologi ilmu tauhid itu sendiri tidak tepat, maka akan gagallah dalam menangkap makna tauhid.
Tauhid, atau ilmu tauhid, bukan ilmu yang mempelajari Tuhan, sebab Tuhan tidak tunduk kepada ilmu. Tapi ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari tentang ide-ide, gagasan, dan konsep manusia tentang Tuhan.
Jadi, pusat pembicaraan ilmu tauhid, tetap pada Tuhan, walau hal ini tentu tidak akan mencapai pemahaman tentang Tuhan yang sebenarnya.

Jadi, bagaimana maksudnya? Tuhan, adalah misteri di balik misteri. Ia dikatakan Maha Besar, maka kebesarannya itu tidak dapat digambarkan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Misteri dan keagungannya tidak dapat dijangkau oleh akal dan ilmu manusia yang terbatas. Manusia dengan ilmunya yang terbatas itu, hanya bisa menduga-duga, membuat konsep tentang Tuhan. Jadi kepercayaan manusia kepada Tuhan, adalah tuhan dalam pikiran, dalam konsep. Manusia membuat konsep tentang Tuhan. Dan Tuhan dalam konsepsinya itulah yang diyakini dan disembahnya. Bukan Tuhan yang sebenarnya. Tapi itu tentu tidak salah.

Karena Tuhan pun berfirman, ana ‘indza dzanni ‘abdibii, aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jadi Tuhan yang selama ini kita sembah, kita imani, adalah Tuhan dalam sangkaan, bukan Tuhan yang sebenarnya. Sebab Tuhan yang sebenarnya, jauh dari persangkaan seorang hamba.

Tuhan dalam konsep, gagasan, ide, dan persangkaan inilah yang dipelajari ilmu tauhid, dan terus menjadi perdebatan dan perbedaan tak berujung pangkal di antara para hamba. Mereka tidak menyadari bahwa manusia punya frame of reference dan field of experience yang berbeda beda. Apalagi pengalaman dan ilmu tentang Tuhan,suatu ilmu tingkat tinggi untuk mengungkap hal yang paling misteri.

Pun dengan metode thoriqoh, tarekat, bisa saja orang menempuh jalan yang sama berangkat dari titik yang sama, dan guru serta amaliyah yang sama, dapat menemukan kesimpulan yang berbeda dengan Tuhan. Kecuali Tuhan datang kepada seorang hamba, dan memberitahukan pengetahuan tentang diri-Nya, Innanii Anallaaha laa Ilaaha illaa Ana, Fa’budnii wa Aqiimishsholaati Lidzikrii..maka pengetahuan ini sesungguhnya relatif mutlak yaitu tentang wujud Tuhan yang sebenarnya.

Pun demikian, tajalli ini sangat tergantung kepada kesiapan seorang hamba, untuk menerima ilmu tentang Tuhan, dari Tuhan itu sendiri. Kapasitas kemampuan seorang hamba, akan menentukan tingkat kesempurnaan pengetahuan dirinya tentang Tuhan.Wallahu a’lam bishshowab.*

~ Artikel Siapakah Tuhan yang Kita Sembah? (Gagasan Manusia Tentang Tuhan) ditulis oleh Toufik Imtikhani (Pojok Cilacap, 200221)

Editor: Munawar A.M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eighteen + nine =

Back to top button