Esai Opini Wawasan

Skala Prioritas Membangun Nasionalisme Dan Mentalitas Bangsa

Membangun mental dan mentalitas bangsa dalam wujud nasionalisme saat ini, adalah hal yang mendesak, bahkan skala prioritas, di tengah kepungan dan propaganda ideologi dan gerakan trans-nasional yang merongrong keutuhan bangsa.

Sasaran pembangunan nasionalisme ini terutama penting diarahkan kepada generasi pasca reformasi yang secara umum bersifat a-historis, a-ideologis. Ini dikarenakan pada periode itu ada “the missing link” dari gerakan ideologi nasional.

Reformasi adalah sebuah periode transisi dari era Orde Baru kepada era berikutnya. Periode ini banyak ditandai dengan banyak hal, salah satunya adalah, bahwa sesuatu hal yang bernilai Orba adalah buruk, dan perlu dihilangkan agar tidak diketahui oleh generasi pasca-reform. Orba dipandang sebagai ‘masa kegelapan’ bagi perjalanan sejarah bangsa.

Maka, periode Orba tidak perlu diketahui oleh generasi muda. Padahal diantara para pelaku reformasi adalah anak kandung Orba. Kelompok ini sesungguhnya kelompok yang ingin cuci tangan dari dosa dan noda mereka di masa Orba. Era reformasi yang katakanlah, cek kosong itu, membuka lorong-lorong politik bagi para petualang untuk tetap menjadi bagian penting dari kekuasaan, walau rezim terus berganti.

Salah satu hal penting yang dianggap buruk dari Orba adalah, pola-pola indoktrinasi ideologi Pancasila, yang kemudian diaplikasikan sebagai Penataran P4. Sistem indoktrinasi ini dinilai buruk oleh generasi reformasi. Kenapa begitu singkat menilai, padahal selama 3 dasawarsa pola-pola indoktrinasi itu tak bergeming?

Reformasi sudah berjalan lebih dari dua dasawarsa, namun hampir tak ada suatu pola yang sistemik dan masif dalam mendidik generasi pasca-reformasi terhadap ideologi Pancasila dan UUD 45. Apalagi kebijakan arah pembangunan Bangsa. Di masa Orba, hal-hal seperti itu mudah untuk diketahui oleh masyarakat, salah satunya lewat Paket Penataran P4.

Bahkan untuk anak setingkat Sekolah Dasar, banyak anak bangsa sudah hafal Pancasila beserta butir-butir silanya, hafal UUD 45 beserta pasal-pasal dan penjelasannya, serta mengerti arah kebijakan pembangunan yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Baca Artikel Terkait:

Di situ diajarkan juga pelajaran dan pendidikan tentang wawasan nusantara dan wawasan wiyata mandala, sehingga rasa kebangsaan tumbuh secara perlahan. Kegiatan penataran pun berlanjut hingga tingkat SMP, SMA dan perguruan tinggi, dengan jumlah jam yang berbeda.

Bandingkan dengan metode perpeloncoan bagi siswa baru saat ini, yaitu suatu kegiatan yang minim orientasi nilai. Penataran P4 dengan paket dan polanya jelas lebih bisa dipertanggung jawabkan.

Yang terjadi saat ini, banyak anak Bangsa tak hafal Pancasila, apalagi UUD 45. Bagaimana mereka paham ideologi bangsanya? Bagaimana mencintai bangsanya, jika ideologinya saja tak hafal, tak paham?

Mereka juga tidak paham bagaimana dengan arah dan strategi pembangunan pemerintah? Cuek pasti tak mengerti. Yang diketahui adalah, jika arah pembangunan itu, tak sesuai dengan keinginan dirinya, maka mereka langsung benci kepada pemerintah, demo berjilid-jilid, menuduh pemerintah dzalim, dan sebagainya. Kebencian itu kemudian dimanfaatkan oleh kelompok trans-nasional untuk menghancurkan nasionalisme anak bangsa dengan framing agama,!

Nah, inilah yang lebih mendesak bagi kita. Membangun nasionalisme anak negeri. Saya bukan agen Orba yang ingin bangkit kembali, bukan. Namun saya menilai bahwa pola-pola pendidikan ideologi dari Orba, bisa kita adopsi kembali, dengan modifikasi dan penyesuaian dengan tuntutan jaman. Bukankah NU mengajarkan kepada kita, untuk mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik?

Nah, kita harus melakukan pendekatan ilmiah kepada warisan Orba, terhadap pola-pola pendidikan ideologi. Siapa tahu di sana ada butir-butir pasir di laut yang bisa membantu bangsa kita, memupuk rasa nasionalisme generasi muda.

Sebagian kebaikan itu telah saya uraikan. Ini penting dan mendesak, dan harus menjadi skala prioritas, daripada kita menguras energi untuk membicarakan, memikirkan nasib dan pertempuran bangsa Lain, sementara bangsa kita menghadapi ancaman dari dalam.

~Artikel Skala Prioritas Membangun Nasionalisme Dan Mentalitas Bangsa ditulis oleh Taufik Imtihani, Pojok Cilacap, 25-05-2021

Editor: Naely Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × 3 =

Back to top button