Esai Opini Wawasan

NU dan Asa Tahun 2021

Terompet tahun baru 2021 telah ditiup, kembang api dinyalakan. Isarat bagi semuanya termasuk NU, memulai lembaran baru dengan asa dan semangat yang berapi-api, namun tetap menghibur. Lembaran baru yang menurut saya ngeri-ngeri sedap

Mengapa ngeri?

Rentetan peristiwa tumbangnya Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) atau Organisasi Politik (Orpol) sekilas membanggakan. Tapi kalau menurut saya pribadi, mohon maaf, patut disukuri. Cuma tidak terlalu membanggakan karena Ormas atau Orpol seperti MASUMI, FPI, HTI dan lain-lain tumbang bukan karena kehebatan/keberhasilan DA’WAH /PROGRAM NU. Tapi karena tanda tangan penguasa yang punya NYALI dan peduli KESELAMATAN BANGSA. Ibarat kontes, kalau NU merasa menang, menurut saya bukan karena hebatnya NU, tapi karena lawan terkena diskualifikasi. Syukur, tapi apa yang kita banggakan?

Karena (mengambil satu sampel saja), ORMAS atau organisasi kemasyarakatan yang mungkin sebagian dari kita merasa gembira karena TUMBANG oleh stempel 6 pejabat, tak perlu waktu yang lama hidup kembali dengan wajah yang lain, kalaupun tidak maka kemungkinan mereka akan menjadi Klandestin yang bisa menjadi bom waktu yang tak terkendali.

Di sisi lain, NU (menurut saya, dan siapapun boleh tak sepakat), perlu bertanya pada diri sendiri, kenapa ormas/orpol yang anti NU semakin laris manis? Sudahkah LDNU, LP MA’RIF dan Lembaga lain yang NU miliki bekerja optimal? Sesuai tuntutan era milenial yang bukan saja soal Medsos, tapi juga pola pikir, gaya hidup, pendidikan yang perlu disikapi dengan bijak?

NU besar, sepakat. NU Keramat, kita oke. Pendiri NU paara Wali Ulama hebat. Kitapun setuju. Tapi menurut saya KAROMAH, KEHEBATAN, KEBESARAN orang dulu, tidak akan begitu saja kita warisi tanpa kualitas kerja bukan dengan membanggakan kebesaran.

Albert J. Dunlap yang kesohor dengan nama Al Dunlap dari Scott Paper saking sombongnya sempat menjuluki dirinya sebagai “RAMBO BERBUSANA FORMAL” dan sesumbar perusahaanya Scott Paper akan membuat pesaingnya kecut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Perusahaanya Scott Paper diambil alih oleh pesaingnya, Kimberly Clark, perusahaan yang dengan direkturnya Darwin Smith; orang yang tidak pernah membanggakan kebesaran perusahaanya.

Kebesaran klub sepak bola negara ratu Elizabeth, ARSENAL pun pernah tumbang oleh Arek-Arek Suroboyo dengan dengan NIAC MITRA nya. Mike Tyson “sileher beton” bisa tersungkur oleh petinju yang di pandang sebelah mata oleh Douglas. Tidur macan pun akan jadi tontonan, kalau cuma macan kertas.

Menkeu SRIMULYANI pernah menyatakan bahwa di instansinya banyak ASN yang dari gari keras, dan bukan tidak mungkin di instansi lain juga ada.  Artinya mereka sangat ahli bergerak di wilayah-wilayah yang vital, sementara sebagian orang kita yang punya posisi kadang kurang gregret semangat da’wahnya.

Sedapnya dimana?

SEDAP karena Alhamdulillah kita masih (setidaknya sampai tahun 2020), banyak warga kita yang masih mau ngurusi NU walau tanpa imbalan. Namun demikian yang jadi pertanyan dalam diri saya sendiri, masihkah ada dua puluh (20) tahun yang akan datang generasi kita yang mau benar-benar kerja? (tidak sekedar di lantik) untuk NU dengan merogoh kocek sendiri?

Masih ada orang yang seperti teman saya yang mau memegang tiga jabatan di NU. Tidak sekedar menerima jabatan tapi benar kerja full sesuai fungsinya dengan mengurangi jatah nafkah istri. Padahal beliau rumahpun masih ngontrak/belum punya rumah sendiri. Masihkah NU yang sebesar ini tidak peduli dengan kader yang sangat militan dan dedikasi yang tinggi? Masihkah dua puluh tahun yang akan datang, NU cuma bisa menjual syafaat pada para pengurus.?

Di Sidareja, Saya betul-betul merasa bangga dan terima kasih pada Warga NU. Pengurus NU di manapun di Kabupaten Cilacap atas kerja nyata, kerja keras mereka pada penangan BANJIR yang lalu. Kalau kekompakan, kerja nyata tanpa mengenal lelah, satu komando bisa di wujudkan di bidang lain, maka harapan NU jaya bukanlah sesuatu yang imposible.

Gerakan koin NU, NU Care LazisNU juga mulai dirasakan oleh warga. Kalau saja bisa (kita do’akan) sukses, NU bukan saja bisa Mendakwahkan (isi kandungan) Qur’an dan Hadits, tapi juga dengan Cicis (uang, Red.). Ini penting. Tidak sedikit, karena urusan Cicis, urusan ke-NU-annya jadi kempis. Setidaknya NU bisa menjawab hal itu.

Jangan sampai dua puluh tahun yang akan datang ketidakadilan masih dipelihara di NU. Coba kita renungkan bersama dan mulai dipikir untuk dua dekade ke depan. Sama-sama ngurusi NU dan lembaga di bawah NU, kerjapun tidak jauh beda sama-sama mendatangi rumah warga. Tantanganya tidak jauh beda. Itu harus mulai dipikirkan yang di atas supaya tidak terjadi kesenjangan dan grundelan warga. Tapi prospektif dua dekade yang akan datang, bukan sekarang.

NU dan Asa tahun 2021 sebagai warga yang lemah, penuh harapan. Saya berharap NU semakin jaya. Bisa menyesuakan dengan perkembangan zaman. Dan para pengurus NU di semua tingkatan semakin kompak, kreatif dan prospektif.

Ada satu pertanyaan/Pekerjaan Rumah yang tersisa dari dibubarkanya HTI kemudian FPI oleh pemerintah: masihkah sebagian kita mengangap politik tidak penting? Masihkah kita akan terus berpencar pencar? Yakinkah anda Presiden RI periode tahun 2054-2059 tidak akan berbalik membuburkan NU dan malah kembai mengizinkan HTI, FPI? Jawaban yang tepat terserah anak cucu. Kita mungkin sudah purna hidmah atau mungkin purna hayat.

NU dan Asa Tahun 2021 harus terus digelorakan. Terima kasih.

Ditulis oleh Kyai Ahmad Nasibun, Rais Syuriyah MWCNU Sidareja, Cilacap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × one =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button