Tirakat, Tradisi Laku Spiritual

NU CILACAP ONLINE –  Tirakat merupakan sebuah tradisi laku spiritual yang biasa ditempuh seseorang dengan penuh tekad guna mencapai sesuatu yang diinginkan.

Kata “tirakat” merupakan penjawaan dari kata bahasa Arab, yakni thariqah yang bermakna jalan atau jalan yang dilalui.

Tirakat kerap dijumpai pada suatu tradisi masyarakat tertentu, istilah tersebut di kalangan pesantren dikenal dengan riyadhah yakni upaya-upaya yang bersifat spiritual seperti puasa, shalat tahajud, merutinkan bacaan ayat tertentu, membaca Dalail dan lainnya.

Tirakat menitik beratkan pada usaha lahir dengan ketentuan meninggalkan sesuatu yang kurang menguntungkan menuju sesuatu yang lebih menguntungkan. Apa saja, tidak terbatas pada hal-hal meninggalkan makan maupun minum.

Namun yang paling mudah dalam pemahaman umum kita adalah berpuasa atau mengurangi makan.

Jadi tirakat sesubgguhnya jalan tekad memerangi hawa nafsu, nafsu manusia, nafsu enak-enakan dan lainnya.

Sedikitnya ada 4 macam istilah laku tirakat yaitu puasa nahun, puasa mutih, ngrowot dan tarku dzir rūḥ (meninggalkan makanan yang bernyawa).

Dalam melaksanakan puasa tirakat harus berniat ikhlas karena Allah SWT, mencari ridla-Nya, menjalankan perintah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak mencari yang selain disebutkan.

Puasa tirakat tersebut pun dilaksanakan di luar hari tasyrik atau hari-hari besar yang dilarang menjalankan puasa.

Dan yang paling utama adalah cara mengamalkan atau melakukan tirakat ini harus diketahui karena terdapat perbedaan di antara setiap laku tersebut, tergantung bagaimana ijazah yang diberikan oleh kiai, ajengan, atau guru.

Beberapa Jenis Tirakat

1️. Puasa Nahun; ada 4 macam:
a) Ndalail Shalawat; puasa biasa 3 tahun sambil membaca solawat Dalāilul khairat. Setelah selesai 3 tahun bisa diulangi dan diulangi lagi.
b) Ndalail Qur’an; puasa biasa 1 tahun sambil membaca al-Qur’an setiap bulan khatam. Setelah selesai 1 tahun bisa diulangi dan diulangi lagi.
c) Ndawud; sehari puasa sehari tidak, bebas sampai kapan pun.
d) Puasa Nahun bebas; puasa terus sampai berapa tahun, terserah, bebas lamanya.

2️. Puasa mutih (yaitu yang dimakan hanya nasi putih). Puasa mutih ini menurutkan dawih dan berdasarkan ijazah dari gurunya.

3️. Ngrowot (makan selain nasi). Biasanya Makan hanya buah buahan dan sayur sayuran.

Ngrowot ini dengan berpuasa atau tidak, boleh pilih. Waktunya juga bebas, sampai berapa tahun atau ngrowot terus.

4️. Tarku dzir rūḥ (tidak makan yang bernyawa). Ini biasanya dengan puasa dan menurut ijazah dari guruya.

Baca juga Tirakat Gus Dur

Apa Saja Manfaat Tirakat ?

Tirakat faedahnya banyak sekali. Yang terpenting ialah tekad dalam rangka untuk mengejar lekas tercapainya cita-cita dan permohonan.

Dengan cara meninggalkan atau mengurangi dalam menggunakan perkara yang mubah dan halal dan untuk meninggikan derajat di sisi Allah SWT.

10 manfaat atau faedah tirakat, yaitu:

1. Jernih hatinya.
2. Lunak hatinya.
3. Patah hatinya, merasa hina dan hilang kesombongannya.
4. Tidak melupakan cobaan dan siksa Allah.
5. Menghilangkan syahwat bermaksiat.
6. Menolak tidur dan selalu berjaga.
7. Memudahkan tekun beribadah.
8. Menyehatkan badan dan menolak dari penyakit.
9. Meringankan biaya hidup.
10. Mementingkan orang lain dan untuk bersedekah dengan sisanya .

Demikian dituturkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 3 Karya al-Imam Al-Ghazali  (1058-1111) dengan keterangan uraiannya yang cukup luas dan panjang.

Baca juga Teks Shalawat Jauharatul Kamal

Selain itu faedah tirakat juga tersebut dalam kitab al-Minahus Saniyyah karya ulama terkemuka dari Kairo, Mesir, Sayid Abdul Wahab Asy Sya’rani (1493-1565),

“Tak ada yang tercepat untuk menundukkan nafsu daripada lapar.”

Maka orang yang rajin tirakat akan memiliki kekhususan tersendiri di antaranya;
1. Peka terhadap gejala alam.
2. Tajam penglihatan vathinnya.
3. Bisa tahu akan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
4. Mudah tercapai hajat-hajatnya.
5. Waskita (memiliki daya kesaktian).
6. Ampuh keilmuannya .
7. Manjur tiupannya.

Demikian tirakat sebagai tradisi laku spritual para Nabi dan Rasul serta para waliyullah yang adalah orang-orang yang rajin tirakat. Rajin menyendiri, berkhalwat, rela berdua-duaan hanya kepada Tuhannya.

Maka tirakat maupun riyadhah adalah suatu karunia, anugerah yang sangat agung dari Allah SWT yang akan diberikan kepada siapa saja yang mau berusaha. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button