Rising Star Tanpa Akar, Bahaya Kepemimpinan Instan

NU CILACAP ONLINE – Apa jadinya bila kawula muda terjangkiti oleh syndrom the rising star?. Ingin dipandang sukses di usia muda, dengan mengabaikan maturing proces yang semestinya harus dilalui oleh para pemuda calon pemimpin bangsa.

Ketika banyak anak muda terkikis idealismenya oleh pamor kekuasaan, larut dalam hiruk pikuknya politik, dan gebyar selebrasi kemenangan, ada beberapa anak muda memilih jalan sunyi, menjaga idealismenya, walau tidak kaya, karena tanpa fasilitas istimewa kekuasaan dan tidak populer karena jauh dari panggung fantasi dan sorotan kamera publik.

Ia memilih jalan sederhana, berpijak kepada kaki sendiri, dan bergantung kepada ikhtiar dan doa untuk menjaga idealisme. Tidak korupsi, tidak jumawa. Tetapi lebih menuju empowerment ekonomi mikro, yang bisa bermanfaat bagi idealisme perjuangan.

Kita, saat ini tahu, bahwa beberapa anak muda, melesat karier politiknya, bukan karena kemampuannya membangun karier dari bawah, tapi karena diblow up oleh kekuasaan dan uang.

Mereka terjangkiti oleh syndrom the rising star. Ingin dipandang sukses di usia muda, dengan mengabaikan maturing proces yang semestinya harus dilalui oleh para pemuda calon pemimpin bangsa.

Kita pernah melihat, seorang perempuan muda telah menjadi bendahara parpol tertentu dan terjerat kasus korupsi. Dia adalah koruptor termuda yang tercatat dalam sejarah kelam negeri ini.

Banyak anak muda yang istilah jawa, keduga wani kurang prayoga. Durung becus kaselak besus. Layu sebelum berkembang, matang sebelum waktunya. Baca Inayah Wahid; Gus Dur Bangun Demokrasi Bersama Etika

Tidak mengapa anak muda mulai memimpin negeri ini, asal rekam jejaknya diketahui oleh publik sebagai pemuda yang sejak awal telah menempa diri dalam proses-proses sosial poltik.

Publik telah mengetahui kiprah nyatanya dalam perjuangan dan pengabdian masyarakat. Sehingga dia lahir tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Bukan sosok pemuda yang tiba-tiba tampil memimpin negeri ini tanpa rekam jejak pengabdian dan perjuangan yang jelas. Begitu tiba-tiba terjadi, dan ini sangat berbahaya bagi rakyat.

Kecerdasan sosial ini diperlukan bagi anak muda calon pemimpin. Bukan karena bapak, ibu atau familinya yang sedang berkuasa, tetapi anak muda yang dikader secara alamiah, dan telah siap dewasa menjadi pemimpin rakyatnya.

Kedewasaan memang tidak ditentukan oleh umur. Kedewasaan ditentukan oleh, kata Imam Zainal Abidin bin Husein, oleh kefasihan lidah dan kecermelangan hati. Pernyataan Beliau disampaikan di hadapan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, ketika Khalifah menanggil semua gubernur-gubernurnya.

Tibalah kesempatan untuk bicara Gubernur dari Hejaz. Tampilah seorang anak muda. Khalifah menyarankan agar yang maju adalah yang tua. Baca juga Membaca Idealisme Kepemimpinan Gus Dur

Pemuda itu kemudian berkata kepada khalifah, bahwa ukuran kedewasaan seseorang itu bukan ditentukan oleh umur dan usia. Tapi oleh kefasihan lidah dan kecermelangan hati. Baca H Paiman Sahlan; Pendidikan Dan Kaderisasi Jangan Diabaikan

Seandainya ukuran dewasa adalah umur, maka banyak yang lebih berhak menjadi khalifah daripadamu, wahai Umar Bin Abdul Aziz

Khalifah tertegun dengan jawaban pemuda tersebut. Lalu bertanya, siapakah dirimu wahai anak muda?

Aku adalah Zainal Abidin Bin Husein Bin Ali.

Khalifah terkejut, dan berkata, pantas, harimau tentu menurunkan harimau. Karena Imam Zainal Abidin adalah keturunan Ali Bin Karomallohuwajh dan Rasulullah SAW. .

Akhirnya wakil dari Hejaz itu dipersilakan untuk berbicara.

Kuncinya adalah, seorang pemimpin itu harus pandai berkomunikasi, menyampaikan ide-ide dan gagasan serta cerdas dalam membaca persoalan-persoalan yang dihadapi umat atau negara. Sehingga pandai pula mencari jalan keluar agar rakyatnya sejahtera. Walaupun ia masih muda.

Penulis : Toufik Imtikhani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button