Esai Opini Wawasan

Bomber Milenial Yang Galau

Di saat memasuki paruh terakhir Bulan Sya’ban, katakanlah, buku catatan amal diangkat dan diganti dengan lembaran yang baru, bomber – bomber milenial muda usia ini, yaitu yang menyerang Gereja di Makasar dan Mabes Polri, membukanya dengan tindakan teror, sekaligus menutup hidupnya dengan cara yang buruk.

Tentu ini terjadi juga di saat seluruh kaum muslimin justru berharap dengan senang, menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan banyak berdoa, agar umur bisa menggapai Bulan yg penuh maghfiroh.

Bomber milenial yang galau ini justru dalam keputusasaan hidup. Mungkin melihat suatu kenyataan yang dilihatnya, jauh dari harapan-harapannya. Atas nama agama dan syurga, dia mencoba menjinakan keputusasaannya itu, agar lebih dapat diterima sebagai sebuah kebenaran.

Jiwa yang muda. Masyarakat yg muda, Usia muda, pemahaman agama yang muda. Terlalu naif untuk melihat kasunyatan hidup secara realistis.

Dengan meminjam analisa Margaret Mead, dalam Cultur and Comitment: The Study of Generation Gap,( 1967), saya katakan, bahwa generasi yang serba muda itu, vakum nilai-nilai. Penuh kegoncangan, kegalauan, dan kekacauan. Inilah yang oleh Mead, dikatakan sebagai tipologi masyarakat pre-figurative, di mana nilai-nilai lama, agama, tradisi, mulai ditinggalkan, sedangkan nilai-nilai baru, belum begitu mapan.

Ini misalnya, tercermin kepada, pikiran-pikiran tentang tradisi keagamaan yang selama ini dijalankan oleh generasi figurative, mereka haram-haramkan, bid’ah, khurafat, dll. Pemerintah dan negara sebagai warisan masa lalu, dituduh toghut, kafir, dan sebagainya.

Sementara pemahaman nilai-nilai baru yang mereka kenal, sebatas kulit, tidak mendalam, dan mungkin hanya menerima informasi dari satu pihak saja, yang kemungkinan besar, dipenuhi dengan manipulasi dan distorsi, atau kamuflase, misal melalui indoktrinasi.

Tahapan menuju post-figurative, untuk segera keluar dari tahapan pre-figurative yang penuh dengan goncangan itu, terlalu lamban karena adanya gap antar generasi. Kurangnya pendekatan orang tua, tokoh agama dan masyarakat, terhadap generasi muda, membuka ruang terputusnya pewarisan nilai-nilai tradisi dan agama yang penuh kearifan.

Ruang kosong ini dimanfaatkan oleh pihak ketiga, dan menfasilitasi proses transformasi kepada nilai-nilai baru yang a-historis. Sebuah nilai-nilai yang tercerabut dari akar sejarah sosial, budaya, dan tradisi agama.

Maka muncullah generasi milenial yang radikal. Sebab aslinya mereka sedang mencari identitas dirinya, setelah semuanya tercerabut dari akar sejarahnya akibat turbulensi jaman yang begitu cepat. Mereka adalah generasi yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, sehingga mengalami alienasi, anomie dan frustasi. Jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan itu semua adalah, pemberontakan sosial, salah satunya dengan aksi teror. **

~Artikel Bomber Milenial Yang Galau, ditulis oleh Taufik Imtihani (Cilacap,010421)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twenty − 10 =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button