Agama dan Pancasila Bukanlah Sesuatu yang Bertentangan

Agama dan Pancasila itu bukanlah sesuatu yang bertentangan. Hubungan, relasi antara Agama dengan Pancasila di Indonesia sudah berjalan baik. Karena nilai-nilai agama dan Pancasila tidak saling bertentangan. Artikel Agama dan Pancasila itu bukanlah sesuatu yang bertentangan berikut ini menjelaskan hubungan antara Agama dengan Pancasila. Berikut ini artikel selengkapnya:

Mengapa Agama dan Pancasila tidak bertentangan?

Agama dan Pancasila itu bukanlah sesuatu yang bertentangan, karena pada dasarnya pancasila itu adalah Instalasi dari nilai-nilai agama. Bung Karno menggali nilai-nilai local wisdom yang ada di Indonesia atau nilai-nilai agama yang ada di Indonesia.

Namun kemudian diakumulasi menjadi nilai-nilai yang kemudian diaktualisasikan menjadi Pancasila versi Bung Karno yang digabung dengan nilai-nilai Sosialisme. Semacam ideologi internasional yang berpengaruh terhadap Indonesia diambil dari sari patinya oleh Bung Karno lalu digabung dengan nilai-nilai local wisdom tadi itu dan nilai-nilai agama yang ada di Indonesia.

Lalu Pancasila nya Bung Karno ini disempurnakan ketika dirumuskan bersama-sama dengan para tokoh-tokoh yang lain sehingga akhirnya menjadi Pancasila yang sekarang di mana nilai Ketuhanan Yang Maha Esa itu berada di sila yang pertama. Itulah sebabnya maka orang banyak menyebut bahwa Pancasila itu ideologi sekaligus juga adalah kristalisasi nilai-nilai agama.

Hubungan Pancasila dengan Agama-Agama

Jadi tidak bisa dipertentangkan antara agama dan Pancasila. Itu adalah sesuatu yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung sehingga banyak orang mengatakan bagi  bangsa Indonesia bahwa Pancasila itu adalah kalimatun sawa dalam bahasa Islamnya.

Artinya dia menjadi semacam garis pedoman bersama buat kita rakyat Indonesia. Umat Islam misalnya sangat  yakin dengan Pancasila itu karena sila pertama adalah tauhid nilainya. Bahkan kalau kita lihat dari sila pertama sampai sila ke lima semuanya itu adalah nilai-nilai yang islami.

Begitu juga misalnya ketika kita tanya dengan agama lain, umat Kristiani misalnya sama bahwa sila pertama itu adalah nilai ketuhanan yang sesuai dengan agama Kristiani. Karena misalnya Trinitas, dalam kepercayaan teologi Orang Kristiani, tiga itu bermakna satu, misalnya begitu.

Dan seluruh agama-agama tetap saja berkeyakinan bahwa Pancasila itu adalah kristalisasi nilai-nilai yang ada di mereka. Begitu juga misalnya orang yang agamanya masih kepercayaan, bahkan agama-agama di Indonesia yang tidak resmi dari agama-agama yang selama ini dianut oleh banyak orang itu juga sama.

Baca: Gus Dur dan Fenomena Ancaman Kelangsungan Pancasila

Pancasila itu selalu tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Sehingga tidak ada alasan untuk mempertentangkan antara agama dengan Pancasila. Kira-kira seperti itu.

Kalau terkait dengan apa yang dibicarakan oleh ketua BPIP, itu sebenarnya adalah kalimat-kalimat yang menurut saya adalah kalimat yang elaborasinya saja yang kurang tepat dari bapak Yudian Wahyudi.

Saya kira persoalan elaborasi saja. Karena kalau kita lihat-lihat kalimat-kalimat yang dia bicarakan sebelumnya, dia lebih kepada persoalan bahwa bagaimana Pancasila itu dan bagaimana hubungannya dengan agama dalam hal ini, agama diatasnamakan.

Agama diatasnamakan oleh sekelompok kecil orang yang beragama Islam seakan-akan itu adalah mengatasnamakan mayoritas, kan seperti itu. Itu lebih berkaitan dengan persoalan politik yakni agama dan politik. Agama yang dipolitisasi, konteksnya lebih ke arah situ.

Jadi agama tidak bisa dipolitisasi dan diatasnamakan oleh sekelompok kecil padahal umat Islam itu mayoritas di sini. Maksud dia kira-kira seperti itu. Tapi saya kira karena dia bermasalah dalam mengelaborasi, maka kemudian terjadi orang banyak salah paham. Saya kira itu masalahnya.

Kelompok Radikal yang merongrong Pancasila

Ya, karena begini, Pancasila itu bisa disalahpahami oleh setiap orang. Pancasila bisa juga dikatakan sebagai ideologi sekuler oleh kelompok kelompok Islam yang kanan, kan begitu. Karena memang ada sejumlah orang menganggap bahwa negara Islam itu merupakan keharusan mutlak, dan dia harus menjadi bagian dari perjuangan hidupnya.

Maka sebelum cita-cita mendirikan negara Islam itu terwujud, dia akan selalu mengatakan bahwa Pancasila itu ya toghut kafir. NKRI itu ya harus dibuang jauh-jauh. Karena kata mereka, kita itu harus mendirikan negara Islam atau khilafah, dan seterusnya. Sehingga dengan demikian Pancasila itu maka persoalan persoalan yang bertentangan dengan masalah agama.

Kenapa ada paham seperti itu? Karena mereka itu memahami agama secara tekstual. Jadi agama itu harus dipahami baik secara tekstual, tapi juga harus dipahami kontekstual. Kalau agama dipahami dengan cara kedua-duanya, dihubungkan dengan tekstual maupun kontekstual, Insya Allah kita tidak salah di dalam memahami agama.

Tetapi kalau misalnya kita memahami secara tekstual saja, ya pasti akan timbul pemahaman-pemahaman untuk menyalahkan konsep-konsep yang sudah ada. Misalnya agama yang dianut oleh mayoritas Islam Indonesia itu adalah Islam moderat.

Baca : NU ditekan tapi tetap Mempertahankan Pancasila

Orang-orang yang berpaham Islam moderat di Indonesia itu adalah orang-orang yang memahami bahwa bentuk negara yang ada sekarang NKRI ataupun ideologi Pancasila itu, itu adalah merupakan kesepakatan bersama antara para tokoh ketika mendirikan republik ini. Sehingga, maka banyak yang mengatakan bahwa negara ini adalah negara kesepakatan.

Kalau Muhammadiyah misalnya, mengatakan Darul ‘Ahdi Wassyahadah, kalau kita, Kyai Ma’ruf misalnya mengatakan Darul Mitsaq,  Almitsaqul Wathoni, kesepakatan nasional yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Itu namanya disebut Darul Mitsaq.

Di dalam Al-quran disebutkan kesepakatan itu menjadi bagian dari negara Islam. Kalau kita bersepakat dengan orang lain, maka kesepakatan itu tidak boleh dikhianati. Kalau kita mengkhianati terhadap kesepakatan itu berarti kita termasuk bagian dari orang yang tidak menjalani agama dengan baik karena kita khianat terhadap kesepakatan.

Padahal kita sudah bersepakat untuk mendirikan bersama-sama mendirikan republik ini dengan berbagai pertimbangan. Yaitu suku, kultur, agamanya beragam. Sehingga kemudian tidak mungkin kita bisa memaksakan satu kehendak, tetapi ada titik temu. Nah Itulah kesepakatan-kesepakatan negara kesepakatan.

Nah orang yang mempunyai pemahaman agama secara tekstual, pasti tidak memahami model-model kesepakatan seperti ini, dia gak mau tau. Oleh karena itu ya gak perlu digubris, karena orang gak mau tau. Dan itu juga taruhlah orang yang paham keagamaannya itu, ya terlalu dangkal lah. Jika seperti itu, ya sudah gak usah dianggap. Kita harus tolak orang-orang yang punya pemahaman seperti itu.

Radikalisme harus dihadapi secara tegas

Oiya, jadi program dari pemerintah itu; memang radikalisme itu harus dihadapi secara tegas. Jadi awalnya kan tidak radikalisme, tapi awalnya adalah intoleransi. Intoleransi itu terjadi ketika kita berbeda dan tidak suka terhadap kelompok yang lain dari kita.

Nah ketika kita tidak suka dan kita tidak mau kehadiran orang itu di depan kita, itu kita sudah memulai satu sikap yang namanya intoleransi. Dan intoleransi seperti ini adalah bibit awal dari kita untuk memahami sesuatu secara radikal yang cenderung ekstrim. Dan ketika kita sudah intoleran, maka tahap berikutnya adalah radikalisme dan ekstrimisme.

Baca: PBNU Minta Waspadai Radikalisme Agama

Dan ekstrimisme itu artinya kita sudah tidak sepakat dengan banyak konsep selain apa yang kita pahami. Jadi jika konsep kita itu adalah Islam begini, maka ketika orang lain tidak sepakat dengan konsep saya, maka dia tidak akan setuju dengan itu. Ini sudah ada kehendak untuk memaksa orang lain. Ketika orang lain gak mau dengan apa yang kita pahami, kita harus paksakan. Pemaksaan itu sudah masuk tahap ketiga, namanya terorisme.

Jadi mulai dari tahap intoleransi sampai tahap ketiganya terorisme itu harus kita hadapi dengan tegas. Dan menghadapinya itu tidak hanya di sektor hilir saja seperti yang dihadapi Densus  88 ataupun aparat lain yang sejenisnya, itu banyak mereka berorientasi menghadapi terorisme di sektor hilir.  Tapi di pemerintahan sekarang melalui pemerintahan pak Jokowi yang kedua bersama Kyai  Ma’ruf Amin itu kita akan menghadapi  ini semuanya mulai dari hulu sampai ke hilir.

Hulu nya apa? Di bidang pendidikan. Nah di bidang pendidikan kita harus bagaimana agar intoleransi, bibitnya saja itu tidak boleh muncul. Itu misalnya mulai dari awal kita harus mengajarkan kepada anak didik kita ketika mulai dari awal, SD, PAUD, bagaimana kita mengajarkan tentang nilai-nilai keberagaman.

Baca: Pendidikan Karakter untuk Meredam Radikalisme

Keberagaman nilai itu tidak hanya harus jangan khawatir bahwa kita tidak taat kepada agama. Tingkat ketaatan kita tetap 100% taat kepada agama kita. Tetapi ketika kita toleransi kepada yang lain bukan berarti mengurangi tingkat ketaatan kita yang 100% itu.

Jadi walaupun kita itu bisa beragam dan bersama-sama dengan sahabat-sahabat yang lain kita mengembangkan persaudaraan seagama, sebangsa, kemanusiaan, itu tidak akan mengurangi keimanan kita secara 100%. Jadi itu yang penting untuk dipahami bersama-sama di tingkat hulu pengajaran seperti ini tidak hanya pengajaran yang sifatnya lisan, tapi pengajaran dalam bentuk tingkah laku, akhlaqul karimah itu dibangun dari awal dengan cara kita bersama-sama orang lain yang terutama tidak seagama maupun sesuku dengan kita sering bercampur baur.

Sehingga dengan demikian, maka yang akan terbaur itu adalah rasa empati kita bagaimana merasakan kalau saya menjadi orang lain, begitu pula sebaliknya dan seterusnya. Perbedaan-perbedaan itu semuanya berinteraksi terus menerus. Sehingga kita terbiasa untuk berbeda.

Selama ini salah satu kelemahan di tingkat hulu di pendidikan kita itu, kita tidak banyak mengajarkan bagaimana empati itu, bagaimana kita menjadi orang lain, bagaimana kalau kita menjadi kelompok lain dan seterusnya. Itu yang perlu kita ajarkan bersama-sama.

Ini yang saya kira di hulu seperti itu sampai ke hilir tadi itu. Nah ini yang saya kira harus ditekankan bersama-sama, tidak hanya dari pemerintahan begitu juga dari pihak pihak masyarakat sebagai stakeholder keseluruhan dari negara ini bergerak bersama-sama. Karena apa?

Karena ini sangat penting. Karena kalau ini bisa kita bangun bersama-sama Insya Allah Indonesia akan menjadi negara maju ke depan. Tapi kalau ini bisa gagal dan kita diganggu oleh ajaran-ajaran baru, ideologi baru yang berlatar belakang agama, kita bisa gagal membangun negara yang dicita citakan oleh founding father kita. Saya kira begitu.

Membangun paham beragama yang moderat

Saya kira potensinya keberhasilannya besar, tapi kalau soal yang berkaitan dengan potensi mereka yang mengganggu, ya ada saja pasti yang mengganggu. Tapi negara saya kira tidak boleh kalah karena mereka itu kecil kelompoknya, harus kita hadapi bersama-sama.

Kita yakin semuanya bahwa negara ini akan terus maju. Akan kita bangun bagaimana pendidikan kita supaya menjadi kompetitif dengan bangsa bangsa yang lain. Maka pemahaman masalah-masalah ideologi negara ini harus selesai. Ideologi-ideologi yang lain yang berlatar belakang agama harus disingkirkan. Karena apa? Karena kalau kita ingin menjadi negara maju, maka kita harus mempunyai pemahaman moderat, islam wasathiyah yang kompatibel dengan kemajuan dari peradaban.

Nah kalau kita sudah bisa membangun paham atau cara beragama yang moderat, maka Insya Allah itu akan kompatibel dengan kita membangun peradaban yang maju.

Sebagaimana Rasulullah membangun masyarakat Madinah itu adalah Rasulullah membangun dengan menyebutkan dirinya sebagai orang yang toleran. Makanya dia menyebut “ma huwal islam?” al islamu addinu tasamuh.”

Jadi Islam itu adalah agama yang toleran menghargai perbedaan dan keyakinan orang lain. Nah, kalau kita sudah bisa berempati untuk menghargai orang lain, maka negara ini mempunyai potensi untuk maju.

Kita sekarang masih berada di negara berpendapatan menengah atau yang disebut dengan middle income country. Tapi ada kecenderungan kita itu terkena trap (jebakan). Maka banyak yang menyebut para ahli ekonomi, menyebut Indonesia ini sebagai “middle income country trap”.

Jadi negara kelas menengah yang akan terjebak tidak naik kelas. Untuk menjadi apa? Untuk menjadi “high income country”. Menjadi negara maju. Negara maju itu adalah yang income perkapitanya itu mencapai 12.000 Dollar minimal per orang. Kita sekarang baru 4.000 sekian.

Jadi, untuk bisa naik jadi negara maju, dengan pendapatan 12.000 dollar per kapita per orang, 12.000 lebih ke atas nanti, itu syaratnya memang harus kompatibel antara pemahaman keagamaan dengan demokrasi, itu yang pertama.

Pemahaman keagamaan dengan modernitas dan pemahaman keagamaan dengan bagaimana kita bisa menjadi peradaban yang maju lewat pembangunan-pembangunan manusia yang pinter-pinter, maju, sehingga kita bisa berkompetisi dengan yang lain. Tapi kalau diganggu oleh paham-paham yang intoleran, maka cita-cita yang tadi itu akan gagal. Oleh karena itu, harus kita hadapi bersama-sama orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu.

Artikel Agama dan Pancasila itu bukanlah sesuatu yang bertentangan, selesai.

Artikel Agama dan Pancasila itu bukanlah sesuatu yang bertentangan merupakan transkrip dari wawancara majalah Risalah NU dengan Juru Bicara Wakil Presiden RI. H Masduki Baidlowi  terkait posisi agama dan Pancasila. Dimuat di Majalah Risalah NU Edisi 104/Tahun XIII/1441H/Maret 2020 M. (Admin)

 

About admin

Admin Utama Situs Islam Aswaja: menghadirkan aktivitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap --juga Organisasi di tingkat bawahnya, termasuk Lembaga dan Badan Otonom NU-- secara Online. Salam Perjuangan untuk Pengkhidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya. Dan silahkan datang kembali.

Check Also

Ketua PWNU Jawa Tengah

Keutuhan NKRI Menjadi Tanggungjawab NU

Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi tanggungjawab NU. Sebagai pendiri negara Indonesia ini, NU …

Leave a Reply

Your email address will not be published.