Taushiyah

Al-Qur’an Sebagai (Perisai) Pembela, Apa Maksudnya ?

Al-Qur’an Sebagai (Perisai) Pembela, Taushiyah Ramadhan oleh Kiai Sya’roni Jazuli Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Cilacap.

Al-Qur’an sebagai Perisai

Untuk menguatkan tentang kenabian seorang maka Allah SWT menganugerahi kepada semua Nabi yang terpilih berupa kitab suci; terutama Nabi-Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Sebagaimana Allah Menurunkan Kitab Suci Zabur, Taurat, Injil; begitu juga Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai Mukjizat terbesar Nabi akhir zaman Yaitu Nabi Muhammad ﷺ

Sampai Al-Qur’an harus dipedomani, diamalkan, dikaji, dan dipelajari oleh seluruh umat Islam. Supaya umat Islam betul betul mengenal Al-Qur’an , tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri.

Bahkan untuk mengenal Al-Qur’an sendiri pun kita Umat Islam dituntut untuk belajar banyak ilmu ilmu yang mendukung tentang Al-Qur’an. Kalau kita kembali kepada Firman Allah SWT Surat An-Nahl Ayat 64

وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Artinya ” Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman

Kita Umat Islam harus berpedoman kepada Al-Qur’an kemudian disempurnakan dengan berpedoman kepada Al Hadits , Ijma dan Qiyas. Sabda Nabi Muhammad ﷺ

قْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

Artinya : Yang artinya: “Bacalah kalian semua Al-Qur’an, sesungguhnya (bacaan) itu nanti dapat menjadi perisai yang menemani sahabatnya.”

Maksud dari Hadist di atas; kita diperintahkan untuk menbaca dan membaca Al-Qur’an. Setelah membaca kita supaya mempelajarinya. Setelah dipelajari kita akan tahu tujuan dari pada Al-Qur’an sendiri dan setelah kita tahu tujuan daripada Al-Qur’an itu sendiri kita baru bisa mengamalkan Isinya.

Nabi Muhammad ﷺ berpesan kepada umat islam untuk membaca Al-Qur’an agar kelak ketika sampai di hari kiamat sudah dipanggil oleh Allah SWT; maka setiap ayat ayat Al-Qur’an yang kita baca ketika kita masih hidup di dunia ini, maka akan menjadi perisasi, dan pembela kita, akan menolong kita orang orang yang gemar membaca Al-Qur’an. Inilah maksud dri Al-Qur’an Sebagai (Perisai) Pembela

Al-Qur’an Melaknat ?

Bagaimana caranya kita membaca Al-Qur’an, tentunya kita disuruh belajar mempelajarinya dengan kaedah Ilmu tajwid dan ‘Ulumul Qur’an. Untuk belajar kita harus berhati-hati karena hari ini banyak orang belajar Al-Qur’an tapi tidak menggunakan guru tidak menggunakan ahlinya apalagi di zaman ini banyak orang mempelajari Al-Qur’an  dengan menggunakan huruf huruf gedrik (Latin bahasa Indonesia).

Hati hati karena di situ akan terjadi banyak sekali penyimpangan penyimpangan lafadz. Karena untuk mempelajari bacaan Al-Qur’an  itu harus menggunakan Mahrajulhuruf yaitu dengan tulisan lughat bahasa Arab.

Jika Al-Qur’an ketika cara membacanya sudah berbeda maka akan berbeda pula artinya. Ketika kita membaca Al-Qur’an sudah salah membaca kemudian artinya berbeda maka itu bertentangan dengan isi kandungan Al-Qur’an.

Kelak nanti di akhir zaman akan banyak orang membaca Al-Qur’an. Tapi Al-Qur’an justru melaknat dirinya. Ini yang kita khawatirkan. Kami mengajak saudara saudara selaku kaum muslimin di manpun berada; ayo belajarlah jangan pernah malu untuk belajar Al-Qur’an kalau kita malu dan tidak belajar Al-Qur’an tentunya kita tidak akan bisa membacanya.

Perisasi dan Obat

Selain Al-Qur’an Sebagai (Perisai) Pembela, ia juga sebagai perisai dari bahaya dan penyakit. Allah SWT berfiman dalam Surat Al-isra Ayat 83 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Artinya : Dan Kami Turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

Selain Al-Qur’an diturunkan sebagai Rahmat dan penolong orang yang beriman dan Al-Qur’an juga menjadi Obat (Syifa ). Al-Qur’an selain perisai, ia adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat.

Jika seseorang yang sakit konsisten berobat dengan Al-Qur’an dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran, dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kukuh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya.

Mari kita bersama-sama belajar Al-Qur’an; karena demi Allah sampai kiamat pun kita tidak akan bisa mempelajari Al-Qur’an dengan secara detail secara langsung, minimal kita mengenal dari pokok pokok dari pada Al-Qur’an tersebut.

Orang yang Dibela Al-Quran

Perlu diperhatikan untuk membacanya harus dengan baik dan benar ini tentunya kalau kita ingin menjadi orang yang dibela oleh Al-Qur’an maka kita belajarlah Al-Qur’an. Ketika kita sesudah membaca Al-Qur’an sering mendangar ditutup dengan kalimat Shadaqallahul ‘Adhim, karena yang maha benar hanya Milik Allah SWT.

Yang berikutnya dari segi makna’ memaknai Al-Qur’an itu juga tidak sebagaimana memaknai kalimat kalimat yang lain karena dalam Al-Qur’an ini banyak sekali kajian kajian ilmu di dalamnya yang tidak hanya sekadar langsung dibaca kemudian rampung begitu saja.

Kita pelajari, kita baca minimal kita setiap hari baca karena sebagaimana tadi kita sampaikan bahwa bacalah Al-Qur’an karena Al-Qur’an nanti di akhirat akan menjadi pembela (perisasi) kita, penolong kita.

Kesimpulannya orang orang yang akan dibela oleh Al-Qur’an adalah orang orang Islam’ yaitu umat umat Rasulullah Muhammad ﷺ; yang senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai imamnya.

Yang kedua orang orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedomannya. Kemudian yang ketiga apalagi sampai lebih utama menghafalkan Al-Qur’an  orang yang bisa menghafalkan 30 (tiga puluh) juz; maka tempat yang layak bagi mereka di surganya Allah SWT.

Jangan pernah kita lewatkan membaca Al-Qur’an  meskipun kita membacanya tidak harus banyak melainkan dengan istiqomah. Itu akan lebih utama dari satu hari sepuluh ayat atau mungkin lima ayat setelah habis shalat dua ayat. Stu ayat tapi Rutin istiqomah itu akan lebih baik akan lebih berpahala dari pada panjenengan baca sekali baca bisa 30 (tiga puluh) juz; setelah itu tiga tahun tidak pernah baca Al-Qur’an  Lagi. Wallahu A’lam Bishawab.(Khayaturrohman).

Baca Juga >> Menyikapi Seruan Kembali Kepada Al-Qur’an dan Hadits

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button