Esai Opini Wawasan

Gus Dur dan Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam

Dalam rangka peringatan kesaktian pancasila 1 Juni kami tengahkan kepada pembaca NUCOM tulisan yang berisi tentang kilasan peristiwa mengenai ‘Hubungan Pancasila dengan Islam’ sebagaimana pernah dimuat di portal Gubug Maya Gus Mus.

Tapi dengan membaca kandungan isi dan maknanya tulisan merupakam kisah istimewa penulis, kisah nyata yang pernah dialaminya yakni ihwal Gus Dur dan Deklarasi beserta sosok kiai lainnya bahas tentang apa hubungan Pancasila dengan Islam ini, ditulis oleh kiai istimewa ialah KH Ahmad Mustofa Bisri, semoga bermanfaat.

Gus Dur dan Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam

Oleh: KH A Mustofa Bisri

Saat membicarakan Khitthah Nahdlatul Ulama dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Situbondo pada 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983, ada 3 Sub bagian Komisi Khitthah yang masing-masing dipimpin oleh KH. Tholchah Mansoer, Drs. Zamroni, dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – rahimahumullah.

Gus Dur waktu itu memimpin Sub. Komisi Deklarasi yang membahas tentang Hubungan Pancasila dengan Islam. Deklarasi di bawah inilah hasilnya:

Bismillahirrahmanirrahim

1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

2. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

3. Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia.

4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.

5. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama

Situbondo, 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983 M

Baca Artikel Terkait:

Rapat untuk merumuskan Deklarasi di atas, hanya berlangsung singkat sekali. Pimpinan (H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) membuka rapat dengan mengajak membaca AL-Fatihah. Lalu mengusulkan bagaimana kalau masing-masing yang hadir menyampaikan pikirannya satu-persatu dan usul ini disetujui. Kemudian secara bergiliran masing-masing anggota Sub Komisi ada dr. Muhammad dari Surabaya, KH Mukaffi Maki dari Madura, KH. Prof. Hasan dari Sumatera, KH. Zarkawi dari Situbondo, dan KH A Mustofa Bisri dari Rembang. Masing-masing berbicara menyampaikan pikirannya berkaitan dengan Pancasila dan apa yang perlu dirumus-tuangkan dalam Deklarasi.

Setelah semuanya berbicara, Pimpinan pun menkonfirmasi apa yang disampaikan kelima anggota dengan membaca catatannya, lalu katanya: “Bagaimana kalau kelima hal ini saja yang kita jadikan rumusan?” Semua setuju. Pimpinan memukulkan palu. Dan rapat pun usai.

Kiai Kun Solahuddin yang diutus Kiai As’ad Samsul Arifin untuk ‘mengamati’ rapat, kemudian melapor ke Kiai As’ad. Ketika kembali menemui Pimpinan dan para anggota Sub Komisi, Kiai Kun mengatakan bahwa Kiai As’ad kurang setuju dengan salah satu redaksi dalam Deklarasi hasil rapat dan minta untuk diganti. Sub Komisi Khitthah pun mengutus A. Mustofa Bisri untuk menghadap dan berunding dengan Kiai As’ad. Hasilnya ialah Deklarasi di atas.

Yang masih menyisakan tanda Tanya di benak saya selaku ‘saksi sejarah’, bagaimana Gus Dur bisa begitu cepat menyimpulkan semua yang disampaikan anggota Sub Komisi dan kelimanya termasuk saya merasa bahwa kesimpulan yang dirumuskannya telah mencakup pikiran kami masing-masing.

Dugaan saya, Gus Dur sudah “membaca” masing-masing pribadi kami dan karenanya sudah tahu apa yang akan kami katakan berkenaan dengan Pancasila, lalu menuliskan kelima butir rumusan tersebut. Dugaan ini sama atau diperkuat dengan fenomena yang masyhur ketika Gus Dur sanggup menanggapi dengan pas pembicaraan orang yang padahal pada saat berbicara, Gus Dur tidur.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fourteen + two =

Back to top button