Esai Opini Wawasan

77 Tahun Indonesia Merdeka dalam Wajah Yosua

Oleh Abdullah Wong

Abdullah Wong
Abdullah Wong

“Waktu dari sesuatu adalah kehadiran,” demikian ungkap Syekh Akbar Ibn Arabi. Waktu dari ayah adalah anaknya; dan waktu bagi anak adalah ayahnya”. Kau berada dalam waktuku, dan Aku berada dalam waktumu, artinya aku berada dalam kehadiranmu dan dirimu berada dalam kehadiranku. Sebagai kehadiran, waktu senantiasa melangsungkan kesaksian demi kesaksian. Dan setiap kita adalah para penyaksi yang senantiasa hadir di sekujur pusaran waktu.

Saat ini, ketika Closed Circuit Television atau CCTV menjadi sumber kekuasaan jenis baru karena dijadikan pengawas bagi masyarakat untuk mengawasi tindakan yang tidak diinginkan, kesaksian perilaku masyarakat pun kini disandarkan kepada CCTV. Lalu bagaimana jika CCTV dilenyapkan sebagai barang bukti?

Dalam konsep panopticon, Michel Foucault mensyaratkan disiplin diri sebagai metode. Pengawasan menyeluruh terhadap tubuh bagi Foucault mengantarkan kesadaran sikap bukan merasa ada yang mengawasi, tapi kesadaran bahwa kita sejatinya saling mengawasi.

Penjahat boleh saja menghilangkan barang bukti seperti CCTV, tapi penjahat tak dapat menghilangkan kesaksian yang menubuh dalam waktu. Ketika kehadiran atau kemewaktuan kita adalah kesaksian, maka siapapun seharusnya eling lan waspada karena senantiasa menjadi saksi. Begitulah hakikat perjalanan dan kesaksian Sang Waktu.

Terkait dengan kesaksian yang telah mewaktu kita dapat melacak kesaksian waktu terhadap Steven Sund, Kepala Polisi Capitol AS yang resmi mengundurkan diri dari jabatannya lantaran kecaman luas atas kegagalan lembaga yang ia pimpin dalam mencegah serangan kekerasan di Capitol AS 2020.

Kesaksian juga terjadi pada April 2021 ketika Kim Potter, polisi yang menembak mati Daunte Wright, pria kulit hitam dalam insiden di pinggiran Kota Minneapolis, bersama dengan Kepala Kepolisian setempat Tim Gannon mengundurkan diri dari dinas kepolisian.

Selanjutnya pada tanggal 3 Juni 2021, Takashi Tanaka, seorang Kepala Kantor Polisi Fukaya Jepang, mengakui perbuatannya sekaligus mengajukan pengunduran diri setelah diketahui pada tanggal 29 Mei 2021 mencuri kertas toilet. Menurut pejabat investigasi, siang itu, kepala polisi Tanaka diketahui mabuk di rumahnya di Kota Konosu. Di malam hari, ketika Tanaka berniat pulang ke rumah dinas di Fukaya, ia berhenti sejenak di sebuah fasilitas komersial dekat Stasiun JR Konosu. Tanaka mengaku sakit perut lantaran minum alkohol. Secara reaktif ia mencuri lima rol kertas toilet dari fasilitas komersial itu. Tanaka mengambil tisu toilet untuk disimpan di mobil dalam perjalanan ke rumah dinas.

Kemudian pada tanggal 10 Februari 2022, Cressida Dick, Kepala Kepolisian London, juga mengundurkan diri setelah rangkaian skandal yang mengguncang kepolisian di ibu kota Inggris saat itu. Skandal besar itu meliputi rasisme, seksisme dan kasus pembunuhan perempuan muda yang dilakukan oleh seorang polisi aktif. Di tahun 2017, Dick tercatat sebagai perempuan pertama Inggris yang memimpin Kepolisian Metropolitan London, yang sering disebut Scotland Yard. Tapi sejak Walikota London, Sadiq Khan, menyatakan tidak percaya lagi kepada kepemimpinannya, Dick menyatakan, “tidak punya pilihan lain selain mundur.”

Dan pada Jumat, 8 Juli 2022, mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe meninggal dunia usai ditembak Tetsuya Yamagami saat sedang berpidato di Kota Nara Jepang. Tak lama setelah Shinzo Abe dibunuh, Kepolisian Jepang secara kesatria segera mengakui kegagalannya dalam memberikan pengamanan bagi mantan Perdana Menteri Jepang itu. Kepala Kepolisian Nasional Jepang, Komjen Itaru Nakamura, saat itu dengan sangat menyesal menyatakan, “Kami sangat prihatin bahwa mantan Perdana Menteri Shinzo Abe ditembak dan dibunuh, polisi tidak memenuhi tugas mereka untuk memberikan keamanan. Sebagai seorang polisi, saya menyesalinya. Berhadapan situasi sulit seperti ini, kami memahami bahwa masalah bukan hanya pada tindakan polisi di TKP, tapi tanggung jawab saya juga sangat berat sebagai pemimpin kepolisian, yang harus mengelola semua polisi di daerah.

Jika diteruskan, masih banyak ragam kesaksian yang mewaktu dalam menghadirkan rasa malu dan sikap kesatria ketika aparatus hukum melakukan pelanggaran hukum. Tak hanya pelaku utama yang segera menyatakan mundur ketika terbukti bersalah, pimpinan yang berada di atas garis komandonya juga ikut malu lantaran tidak becus menjadi pemimpin.

Kesaksian di atas adalah kisah-kisah nyata yang sungguh terjadi di luar negeri. Tapi kita, jangan berharap kisah di atas bakal terjadi di republik ini. Negeri yang konon dipenuhi para kesatria gagah berani. Negeri yang konon katanya memiliki kecintaan tanah air dengan kekuatan religi. Jika berharap sikap malu dan kesatria berlangsung di negeri ini, maka itu hanya mimpi. Karena saat ini, para pemimpin kita lebih takut kehilangan jabatan tinggi ketimbang kehilangan martabat dan harga diri.

Skandal penembakan polisi terhadap polisi yang didalangi perwira tinggi berpangkat jenderal di Duren Tiga itu sejatinya bukan hal yang mengagetkan. Petaka yang tengah menimpa kepolisian ini, sejatinya sebuah ranjau yang lama dipasang oleh oknum kepolisian itu sendiri. Seperti senjata makan tuan, ranjau itu malah meledakkan kotak pandora yang berisi topeng-topeng bopeng para oknum kepolisian yang selama ini rapi ditutupi.

Para pejabat atau aparatur negeri ini agaknya lupa bahwa negeri ini didirikan dengan tirakat dan kepedihan yang sangat panjang oleh anak-anak bangsa ini. Bukan hanya harta dan tenaga, bahkan nyawa yang ditumbalkan untuk berdirinya republik ini! Rakyat Indonesia mungkin lemah tak berdaya saat melihat kebohongan dan pengkhianatan para abdi negeri. Lalu kepada siapa rakyat akan mengadu saat pelindung mereka ternyata pandai merekayasa dan suka bermain disinformasi?

Meski lemah, rakyat tak pernah berdiam diri. Doa-doa tulus anak-anak bangsa ini sejatinya senjata paling mematikan bagi siapapun yang berani merusak kesakralan republik ini. Siapa yang tahu jika para pahlawan dan pendiri bangsa sebenarnya melakukan enkripsi wasiat dan amanat yang kapanpun dapat menghancurkan siapapun yang mengkhianati negeri ini.

Rakyat memang lemah. Tapi doa-doa dan ratapan rakyat dapat menjadi sumpah yang bertuah. Lewat enkripsi wasiat dan amanat para leluhur negeri ini, para pendiri republik ini pasti tidak terima kepada pengayom rakyat yang arogan dan kehilangan hati nurani. Sehingga doa-doa tulus anak negeri ini seperti misil yang memburu siapapun yang culas dalam memimpin negeri ini. Jika Presiden Soekarno pernah berkata, “Siapa menabur angin, akan menuai badai,” maka yang terjadi saat ini, “siapa yang merekayasa hukum akan terjebak oleh rekayasa hukum yang diciptakan sendiri”.

Yosua, Tak Sekadar Nama
Setiap waktu, kita berhadapan dan bersinggungan dengan nama-nama. Nama ayah, nama ibu, nama anak, tetangga, hingga nama-nama sahabat yang berseliweran dengan kita, lewat kontak di gawai hingga media sosial yang kita gunakan. Bagi umat Islam, bismillah atau dengan Nama Allah juga tak lepas dalam kegiatan sehari-hari. Paragraf ketiga pada pembukaan UUD 1945 juga menyebut nama Tuhan. Dan kartu tanda pengenal kita, juga dimulai dari nama. Apakah nama sekadar nama tanpa punya pewahyuan yang mendalam bagi kehidupan spiritual kita?

Nama Yosua punya kedekatan hermeneutik dengan Yesus. Bermula dari Musa yang memanggil “Hosea” dengan panggilan yang punya makna spiritual mendalam menjadi “Yosua” atau “Yehosua” (Lihat Bilangan 13:16). Setelah pembuangan di Babel, sebutan Yosua menjadi “Yesua” (Nehemia 3:19), yang artinya “Yehova menyelamatkan”. Dari Yesua inilah orang Yunani menyebut “Iesous,” yang kemudian lazim dibaca Yesus. Meski berbeda–yang satu dalam bahasa Aram dan terakhir dalam bahasa Yunani–antara Yosua dan Yesus sama-sama bermakna “Yehova menyelamatkan”.

Bagaimana dengan Brigadir Yosua yang ditembak di rumah jenderal Duren itu? Ia bukan Yosua bin Nun yang dipanggil Hosea oleh keluarganya yang bermakna “keselamatan.” (Lihat Bilangan 13:8). Brigadir Yosua juga bukan Yosua bin Nun yang diberi perintah untuk membawa kaum Israel ke negeri yang dijanjikan. (Lihat Ulangan 31:22-23). Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat hanya nama dari seorang polisi yang tewas di rumah yang seharusnya memberi jaminan keamanan bagi dirinya. Sekali lagi, Brigadir Yosua bukanlah Yosua bin Nun atau pun Yesus.

Selain nama Yosua, dalam Alkitab juga ditemukan nama Eliezer. Jika Yosua bermakna pertolongan Tuhan; maka Eliezer bermakna Tuhan telah menolongku. Apakah kehadiran nama mereka di hari kemerdekaan republik ini hanya sebagai kebetulan? Bukankah nama-nama indah itu pemberian orang tua mereka yang saat disandangkan kepada anak-anaknya diiringi dengan doa dan harapan? Jika kita percaya akan doa-doa tulus rakyat negeri ini, maka hal ini bukan soal kebetulan lagi. Sampai di sini kaum beriman di negeri ini mestinya insyaf bahwa pewahyuan Tuhan senantiasa mengalir menghampiri kita melalui apa dan siapapun, bahkan melalui nama-nama.

Akhirnya, lewat catatan singkat ini, penulis hendak menyampaikan kepada para pemimpin, pejabat, petinggi, pengayom, dan pelindung rakyat yang sedang mengemban amanat di negeri ini: silakan kalian berbuat sesuka hati. Silakan bohongi dan khianati rakyat di negeri ini. Silakan teruskan kerakusan dan ketamakan kalian sebagai pengkhianat negeri. Silakan habiskan usiamu untuk mengeruk dan menguras kekayaan negeri ini. Silakan puaskan nafsu buasmu untuk menghalalkan segala cara demi kepentingan sendiri. Silakan langgengkan kekuasaan kalian dengan cara menjadi mafia atau menyusun dinasti.

Dalam Dirgahayu RI Ke-77 ini, kita dapat melihat wajah Indonesia melalui wajah Yosua. Wajah yang menyingkap betapa negeri ini masih nyata dijalankan oleh para kaum bedebah yang menindas rakyat yang lemah. Rakyat memang lemah dan begitu lelah untuk terus menjadi saksi. Tapi doa-doa tulus anak negeri ini, akan terus menghabisi semua pengkhianat negeri ini tanpa henti. Ingatlah, sebuah Negeri Suci yang dibangun para wali ini, jangan pernah coba-coba kalian khianati!

Abdullah Wong, Aktor, penulis naskah drama, esai, juga pengaji tasawuf. Selain Budayawan yang aktif dalam gerakan Saptawikrama Lesbumi PBNU.

Artikel Terkait

One Comment

  1. Gila. Sebuah ulasan yang tak terbayang. Saat orang2 sibuk membahas kasus per kasus, Abdullah Wong dengan sangat jeli menyorot substansi dari persoalan yang sedang menimpa di polisi RI. Tulisan yang dibangun dengan nalar yang sangat kuat juga didukung referensi yang tidak terbayang. Benar-benar tulisan yang beda dalam melihat suatu persoalan. Canggih. Dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button