Feature & Figur

Panggilan Gus, Antara Nasab, Nasib dan Nusub

Dalam dunia pesantren Jawa, biasanya anak Kiai yang laki-laki akarb dengan panggilan Gus, sedangkan untuk yang perempuan dipanggil Ning.

Kita mencatat ada banyak sekali Kiai bahkan Ulama yang hingga wafat masih akrab dengan panggilan Gus. Contoh Gus Dur, Gus Munif, Gus Solah, Gus Maksum, Gus Din dan lainnya.

Wikipedia mencatat, Gus adalah gelar Jawa yang populer dikalangan santri di pesantren dan masyarakat tradisional terutama di Pulau Jawa. Menurut KBBI, Gus adalah nama julukan atau nama panggilan kepada laki-laki.

Dalam kilasan waktu dan sejarah panggilan Gus tidak hanya berlaku untuk anak Kiai saja. Biasanya santri-santri yang mempunyai llmu & Pemahaman yang lebih tinggi juga dipanggil Gus, dan tidak berarti semua anak Kiai yang dipanggil Gus itu mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang lebih tinggi.

Bahkan banyak di antara Kang Santri lebih pintar dari seorang anak Kiai yang dipanggil Gus tersebut. “Sebagian Gus” ada yang belajar dengan Kang Santri tanpa gengsi.

Dilihat dari tingkatan tersebut, jelas tampak perbedaan yang mencolok. Status Gus itu ada tiga tingkatan,

  • Pertama Gus Nasab, ialah orang yang memang secara urutan nasab mengarah pada bapaknya yang Kiai. Mungkin juga kakek dan buyutnya juga seorang Kiai, tetapi tidak menutup kemungkinan ia mendapatkan nasab Gus itu dari ayahnya saja.
  • Kedua Gus Nasib, ialah orang yang entah secara keberuntungan atau karena jerih payah mencari ilmu agama di pesantren, ia dipanggil dengan sebutan Gus. Biasanya orang ini disegani karena keilmuannya yang tinggi atau sebab menjadi menantu kiai. Gus Nasib yang beruntung, biasanya mereka dijodohkan sang Kiai dengan anak perempuannya, atau biasa disebut dengan Ning. Inilah yang dinamakan Gus Nasib atau nasib yang memilihnya menjadi Gus.
  • Ketiga adalah Gus Nusub. Mereka yang masuk dalam kriteria tingkatan ini adalah orang-orang yang berambisi besar. Entah saking terobsesinya ingin menjadi Gus atau niatan lain, mereka sengaja “nusub-nusub” (mencari celah) dengan mencari pangung atau memproklamirkan diri sebagai gus hanya bermodal nekat. Mereka yang berada di tingkatan Gus Nusub, terkadang juga mencari perhatian dengan cara apapun, berharap disebut gus. Sedikit sekali orang yang bisa masuk ke ‘maqam’ Gus Nusub kecuali berahir dengan malu sebab hanya pengakuan bukan sebab keilmuannya.

Dari berbagai kisah yang ada di dunia nyata, kebanyakan Gus Nusub mereka dicoba dengan banyak penyakit hati, adapun penyakit hati tersebut antara lain: sombong, ujub, kemaki, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, jarang sekali mereka yang berada pada ‘maqam’ “Gus Nusub” bisa melewati cobaan tersebut. Dan bagi mereka yang lulus dari cobaan, mereka cenderung untuk masuk pada sikap “ngoco ing njero” (instropeksi).

Jelas sudah perbedaan ‘maqam’ antara “Gus Nasab, Gus Nasib, dan Gus Nusub”. Apapun perbedaannya tetap saja mereka adalah orang yang dipanggil dengan sebutan “Gus”. Tidak peduli anak seorang Kiai, tidak menutup kemungkinan dia orang pintar agama (santri). Jadi berbahagialah mereka yang mempunyai nama AGUS ngak perlu nasab, nasib, nusub, sudah dipangil “Gus“.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × 4 =

Back to top button