Innalillah, Sutak Wardiono, Seniman Serba Bisa Malang, Wafat

NUCOMInnalillahi wainnailaihi Rojiun. Dunia seni budaya Jawa Timur berduka atas berpulangnya Sutak Wardiono. Seniman serba bisa, koreografer, dan sutradara ludruk terkemuka asal Malang, yang juga pengurus Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), beliau Wafat, pada Sabtu, (28/03/2026).

Almarhum berdedikasi dalam merawat seni tradisional ludruk di tengah arus modernisasi, melalui karya-karyanya yang berbasis kehidupan rakyat dan nilai-nilai lokal, serta keaktifannya dalam pelestarian seni pertunjukan rakyat, salah satunya melalui bimbingan seni lintas generasi.

Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Agustin Nanis Setiati dan tiga anak yakni 1. Luhung Swantara (Laki²) 2. Hayyu Binar Rah Jawani Twantiara (Perempuan) 3. Kidung Timur Rahina Nata (Laki²). Jasad Sutak Wardiono (62), dikebumikan di pesarean Mojolangu RW 01 Candi Telagawangi, Malang, Jawa Timur.

Awal Karier sebagai Penari dan Guru Tari

Sutak Wardiono (1 Juni 1963-28 Maret 2026) adalah seorang seniman senior dari Malang yang memulai perjalanan seninya sebagai seorang penari dan guru tari. Sejak muda, ia telah mendalami berbagai bentuk seni tari tradisional Jawa, khususnya yang berasal dari Malang. Sebagai guru tari, Sutak tidak hanya mengajarkan gerakan yang sudah ada, tetapi juga menciptakan karya-karya tari baru yang menggambarkan karakter budaya Malangan.

Ia terkenal dengan pendekatan uniknya dalam mengajarkan tari, di mana para murid tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga mendalami karakter dan ekspresi sehingga setiap tarian memiliki nyawa. Sutak Wardiono juga aktif dalam berbagai workshop tari, termasuk yang diadakan oleh Dewan Kesenian Kabupaten Malang, untuk membantu para guru tari dalam mengembangkan tarian kreasi yang berakar pada budaya lokal.

Perjalanan dengan Komunitas Kendo Kenceng

Setelah lama berkecimpung dalam dunia tari, Sutak Wardiono mulai mengembangkan seni pertunjukan yang lebih luas dengan mendirikan komunitas Kendo Kenceng. Grup ini berfokus pada seni ludruk, khususnya gaya Malangan, yang dikenal dengan gaya khasnya yang dinamis dan mengakar kuat pada budaya lokal.

Sebelum bernama Kendo Kenceng, komunitas ini mengalami beberapa kali perubahan nama, di antaranya Ludruk Tjap Jenthik, Liswa, dan Sambiworo. Nama Kendo Kenceng akhirnya dipilih untuk mencerminkan semangat dan dinamika dalam berkesenian.

Sebagai pemimpin komunitas, Sutak menggabungkan elemen tradisional dan modern dalam ludruk, sehingga pertunjukan mereka tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya. Kendo Kenceng sering mengangkat tema-tema sosial dan kemasyarakatan dalam pementasannya, membuat seni ludruk lebih dekat dengan masyarakat modern.

Karya-Karya Ludruk dan Tari

Beberapa karya penting yang pernah dipentaskan oleh Sutak Wardiono bersama Kendo Kenceng antara lain:

“Karsinah, Kari Siji Sing Genah” – Sebuah ludruk dengan pendekatan teater modern yang disajikan secara kilas balik.

“Banting Setir” – Mengangkat tema perjuangan masyarakat dalam menghadapi pandemi, dipentaskan secara daring melalui YouTube Cak Durasim.

“Poris Manap” – Sebuah pertunjukan tari yang ditampilkan di Laboratorium Drama Universitas Negeri Malang pada tahun 2015.

“Dagelan Kendo Kenceng” – Menggabungkan unsur ludruk dengan komedi khas Malangan.

Selain itu, Sutak Wardiono juga pernah memenangkan penghargaan dalam Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura) di Jatim Kominfo Festival 2019 sebagai penulis naskah terbaik.

Peran di Lesbumi dan Pengembangan Sholawatan Jawa

Selain aktif dalam dunia tari dan ludruk, Sutak Wardiono juga merupakan pengurus Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia), yang berfokus pada pelestarian budaya Islam Jawa. Salah satu kontribusinya adalah dalam pengembangan sholawatan Jawa, di mana ia menggabungkan unsur seni pertunjukan dengan tradisi sholawatan khas Jawa Timur.

Melalui Lesbumi, Sutak terus menghidupkan nilai-nilai budaya Islam Nusantara, memastikan bahwa tradisi sholawatan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga dapat diterima oleh generasi muda dengan pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif.

Seniman Multitalenta, Penjaga Nilai Islam Nusantara

Sutak Wardiono adalah sosok seniman multitalenta yang telah memberikan kontribusi besar bagi seni pertunjukan di Malang dan Jawa Timur. Dari awalnya sebagai seorang penari dan guru tari, ia terus berkembang menjadi seorang kreator dan pemimpin komunitas seni yang inovatif. Dengan Kendo Kenceng, ia berhasil membawa ludruk ke dalam format yang lebih modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

Melalui keterlibatannya di Lesbumi, ia juga menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Islam Nusantara, khususnya dalam seni sholawatan Jawa. Dengan semua kontribusinya, Sutak Wardiono tidak hanya menjadi pelestari budaya, tetapi juga seorang inovator yang membawa seni tradisional ke masa depan.

Baca juga: Harlah NU 102, Lesbumi dan JATMAN NU Gelar Muktamar Kebudayaan Nusantara 2025 di Pekalongan

Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas IV) Lesbumi NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button