Kiai Abbas Buntet, Ulama NU, Calon Pahlawan Nasional 2025

NU Cilacap Online – KH Abbas Abdul Jamil (1883-1946) adalah tokoh penting asal Buntet Cirebon yang tak hanya peduli pada pendidikan, tapi juga telah mengukir sejarah dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Ini dia Kiai Abbas Buntet sosok Ulama NU, Calon Pahlawan Nasional 2025.

Kiai Berjuluk Singa Jawa Barat

Kiai yang berjuluk “Singa Jawa Barat” ini adalah pendiri Pesantren Buntet Cirebon, lahir 25 Oktober 1883,

Dia juga salah satu ulama pendiri perguruan NU. Wafat pada 1 Rabiul Awal 1330 H bertepatan dengan Perjanjian Linggajati 15 November 1946.

Makamnya selalu ramai diziarahi, terletak di Makbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren, Cirebon.

Kiai Abbas Buntet tersohor karena kepemimpinan dan strategi militernya, terutama dalam pertempuran Surabaya melawan Sekutu Inggris dan NICA pada 1945.

Baginya waktu paling tepat untuk melakukan penyerangan dalam berjihad melawan penjajah adalah saat menjelang fajar.

Semua santrinya saat itu wajib menguasai ilmu perang, dengan digembleng lalu dikirim bertempur. Bahkan Pesantrennya kala itu menjadi markas besar laskar Hizbullah, basis perjuangan umat Islam melawan penjajah.

Selain itu, Kiai Abbas juga aktif mengonsolidasikan jaringan ulama pesantren untuk turut serta berjuang. Sehingga Julukan “Singa Jawa Barat” melekat padanya.

Sumpah Pemuda, Kurikulum Pesantren

Kiai Abbas adalah tokoh yang bukan hanya alim dalam ilmu agama, tapi juga pejuang sejati. Sejak muda, beliau sudah terlibat dalam Sumpah Pemuda dan mengusulkan Bahasa Indonesia masuk dalam kurikulum pesantren di Buntet.

Pendiri Perguruan NU 1938

Kecintaan Kiai Abbas terhadap pendidikan mendorongnya bersama, KH Ahmad Chalim (Pahlawan Nasional 2023), untuk membentuk Perguruan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1938. Langkah tersebut merupakan tonggak penting dalam perjuangan intelektual umat Islam Indonesia.

Selain sebagai pendidik, Kiai Abbas dikenal sebagai tokoh anti-diplomasi saat penjajahan Belanda kembali mengancam kemerdekaan Indonesia pasca-Proklamasi.

Pada peristiwa 10 November 1945, Kiai Abbas tegas menolak negosiasi dengan penjajah dan justru membakar semangat perlawanan rakyat.

Perjuangannya begitu kuat dan menjadi motivasi umat Islam untuk berani melawan penjajah, hingga akhirnya Indonesia merdeka.

Ulama Wujudkan Kemerdekaan

Kiai Abbas tak hanya ulama, tokoh pendidikan, tapi benar-benar pejuang, komandan perang resolusi jihad, bertempur secara langsung melawan penjajah.

Kisah perjuangan Kiai Abbas Buntet bersama para ulama lainnya, laskar Hizbullah, dan para santri menjadi bukti nyata bahwa peran pesantren begitu besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kisah perjuangan ketokohannya telah diabadikan dalam sebuah buku “Dari Pesantren ke Medan Perang: Kiprah Kiai Abbas Buntet dalam Revolusi Surabaya 1945”, karya Farid Wajdi dan Jajat Darojat. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button