KH Abdul Chalim: Tokoh NU Dianugrahi Pahlawan Nasional 2023

NU CILACAP ONLINE – KH Abdul Chalim tokoh pejuang sekaligus pendiri Nahdatul Ulama (NU) dari Majalengka, Jawa Barat yang mendapat anugrahi gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo pada hari Jumat, 10 November 2023 bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional.

Bagaimanakah sosok KH Abdul Chalim Kiai yang konon mempunyai garis keturunan dari sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat?  Bagaimana kisah perjuangan selama hidupnya untuk bangsa dan negara hingga mendapat anugrah gelar pahlawan nasional di tahun 2023?

Lantas pelajaran apakah yang kita teladani dari KH Abdul Chalim yang merupakan sosok pejuang serta pendiri NU, yang tidak pernah absen dalam berjuang baik untuk agama, bangsa dan negara?

Peran KH Abdul Chalim di NU

KH Abdul Chalim sendiri lahir di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat pada 2 Juni 1898 dan wafat pada 12 Juni 1972. Merupakan anak seorang Kepala Desa Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Suntamah.

Kakeknya, putra Buyut Liuh yang merupakan anak dari Pangeran Cirebon. Maka jika ditarik lebih jauh, KH Abdul Chalim memiliki silsilah keluarga keturunan Sunan Gunung Djati.

Kiprah  KH Abdul Chalim sebagai pejuang dan pendiri NU bermula dari perkawananannya dengan KH Abdul Wahab Chasbullah. KH Abdul Chalim sendiri merupakan satu dari delapan tokoh utama pendiri Nahdatul Ulama pada tahun 1926.

KH Abdul Chalim selain berkawan dengan KH Abdul Wahab Chasbullah juga bersahabat baik dengan KH Hasyim Asy’ari yang juga salah satu pendiri NU.

Di NU peran KH Abdul Chalim sendiri sangat penting yakni menjadi komunikator kunci para ulama se-Jawa dan Madura. Di sinilah peran Kiai Chalim membuat surat undangan serta mengantarkannya ke seluruh kiai di Jawa agar menghadiri rapat Komite Hijaz pada 31 Januari 1926. Pada momen itu, para ulama bersatu untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya sampai di situ perjuangan KH Abdul Chalim. Dia juga ikut gerilya dalam perang 10 November 1945 di Surabaya yang diawali resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari berjuang dengan para santri-santri lain.

Baca juga 9 Tokoh NU Yang Bergelar Pahlawan Nasional, Siapa Saja?

Pendidikan dan Karir Politik KH Abdul Chalim

Kiai Chalim mengawali pendidikannya di sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di beberapa pondok pesantren.

Beberapa pesantren tersebut di antaranya Ponpes Banda, Ponpes al-Fattah Trajaya, dan Ponpes Nurul Huda al-Ma’arif Pajajar. KH Abdul Chalim juga sempat mengenyam pendidikan di Makkah pada 1913.

Selain sebagai pejuang kemerdekaan yang kuat berperan penting pada perjuangan kemerdekaan dan pergerakan nasional, sosok KH Abdul Chalim juga terjun dalam pentas politik Indonesia. Ia terlibat aktif ketika NU bergabung dalam Masyumi maupun ketika NU menjadi partai politik kala itu.

Baca juga Soal Pemilu 2024, NU Tak Ingin Terlibat Politik Dukung Mendukung

KH Abdul Chalim dalam politik sendiri pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada pertengahan 1972.

Selain ikut berpolitik. KH Abdul Chalim dari Majalengka, Jawa Barat tersebut juga terkenal sebagai ulama yang produktif menghasilkan berbagai karya. Sebagian karyanya ditulis dalam Bahasa Arab-Indonesia, juga Arab-Sunda.

Baca juga Menimbang Peran Tokoh NU Mutakhir, Harus Bagaimana?

Karya KH Abdul Chalim yakni berupa tulisan. Dia menulis beragam tema mulai dari fiqih, tasawuf, tauhid, hingga perjuangan kemerdekaan dan nasionalisme.

Salah satu karya KH Abdul Chalim adalah mahakarya sejarah NU yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab yang berbentuk nadhom (syair)”.

Maka dari perjuangan itu baik dalam bidang politik dan pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia serta karya-karyanya. KH Abdul Chalim di anugrahi gelar Pahlwan Nasional di tahun 2023 menambah torehan tokoh dari Nahdatul Ulama yang di anugrahi gelar pahlawan Nasional.

Sebelumnya, terdapat sejumlah nama tokoh NU yang juga telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Beberapa di antaranya KH Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, dan KH Idham Chalid. (Toto/Naeli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button