Dokumentasi

20 Tahun Gus Dur Dilengserkan, Ini Ungkapan Allisa Wahid

20 Tahun sudah (23 Juli 2001- 23 Juli 2021, Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden Republik Indonesia, dan berikut ini ungkapan sekaligus tulisan Allisa Wahid, puteri KH Abdurrahman Wahid.

Mengenang Presiden Gus Dilengserkan. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan secara politis oleh parlemen (MPR dan DPR) melalui Sidang Istimewa (SI) MPR RI pada tanggal 23 Juli 2001.

Sebelum melaksanakan SI MPR, Gus Dur mengganti dengan menerbitkan Dekrit Presiden. Perlawanan ini bukan untuk mempertahankan jabatannya sebagai presiden, tetapi menentang langkah yang menurutnya inkonstitusional.

Gus Dur tak kuasa memegang air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena meminta tidak mengucapkan terang kepada para ulama tentang politik yang dihadapinya. Dengan mendorong para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu akan membahas tentang Sidang Istimewa yang akan diadakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena akan dilengserkan, tetapi melihat para ulama dan pendukungnya yang memiliki komitmen kuat untuknya harus kecewa ia akan lengser.

Gus Dur menahan ribuan orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada pertentangan dan pertumpahan sesama anak bangsa. Laporan Kompas 300.000 relawan berani mati siap berangkat ke Jakarta.

Jauh-jauh hari Gus Dur menyambangi sejumlah ulama di beberapa pesantren. KH Muhammad Yusuf Chudlori Tegalrejo, Magelang dalam ‘Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017)’ mengungkapkan pesan Gus Dur berupa satu kalimat yang menurutnya terus terngiang di telinga, membekas di hati, dan tidak akan pernah hilang.

Gus Dur berkata, “Kalau tawakal, kamu berjuang dan layak hidup”. Pesan tersebut disampaikan Gus Dur kepada para kiai yang diundang jelang pelengseran sebagai presiden. Kalimat seperti ini mendukung dan benar-benar jitu menjadi pembuktian untuk Gus Dur setelah lengser. Tawakal menjadi sumber kekuatan Gus Dur yang semakin menantang kehidupannya demi kepentingan bangsa Indonesia.

Sementara itu putri mendiang almagfurlah Gus Dur, Alissa Wahid, mengungkapkan sedikit ceritanya disaat genting itu. Kisahnya begini.

“Dulu di istana saya disuruh Gus Dur membawa ibu & adik adik pulang ke Ciganjur.
“Keadaan sudah bahaya, biar Bapak sendiri saja yang hadapi di istana.” Karena ingat nasib Bung Karno,

Saya Melawan. Eyel_eyelan. Apapun yang terjadi kalau Bapak ditangkap Kami akan ikut. He wouldnt be alone.”

Info moncong panser sudah mengarah ke istana, sudah saya dengar. Kata Gus Dur.

Beliau nggak bisa tenang kalau tetap ada di istana, apalagi cucu pertama, bayi saya baru berumur 40 hari. Tapi kisah Bung Karno menghantui saya. Makanya saya ngeyel nangis tidak mau pergi.

Saya terus membayangkan Bung Karno sendirian, keluarganya sulit menjenguk, tidak terawat dengan baik. Saya tidak ingin terjadi pada Gus Dur. Kalaupun Beliau kalah secara politik dan harus diasingkan, Kami harus tetap bersama beliau. Kami siap. That’s is. That’s all.

Alhamdulillah tak terjadi. Rakyat membanjiri istana, bertekad lindungi Gus Dur. Lalu Beliau umumkan akan keluar istana. Besoknya rakyat menjemput dan mengawal Beliau lewat pintu gerbang depan istana, menuju panggung rakyat di Monas. Kalah politik. Tetap bermartabat.

Dan hari ini tepat 20 Tahun yang lalu Presiden KHvAbdurrahman Wahid meninggalkan istana Kepresidenan. Dan pesan yang selalu dikenang darinya ialah Tak ada jabatan didunia ini yang layak dipertahankan dengan tetesan darah (KH Abdurahman Wahid / Gus Dur)

Saya menulis ini kok jadi mbrebesmili… (Allisa Wahid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fifteen + 19 =

Baca Artiikel Terbaru Lainnya
Close
Back to top button