Esai Opini Wawasan

H Imam Tobroni: Makmur Masjidnya, Sejahtera Jama’ahnya

Makmur Masjidnya, Sejahtera Jama’ahnya, merupakan gambaran ideal bagaimana mejandikan fungsi masjid secara lebih menyeluruh. Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah SAW memilih membangun
masjid sebagai langkah pertama dari niatnya membangun masyarakat madani.

Konsep masjid pada masa itu ternyata tidak hanya sebatas tempat shalat saja, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat (kabilah) tertentu, melainkan masjid menjadi tempat sentral seluruh aktivitas keumatan, yaitu sentral pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dari sini kita bisa menempatkan indikator kemakmuran masjid dan kesejahteraan jama’ahnya dalam konteks fungsi masjid yang lebih luas.

Allah SWT berfirman, yang artinya; “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).

Masjid bagi umat Islam adalah simbol eksistensi dan keberadaanya. Artinya indikator untuk menilai sejauh mana umat Islam ada dilihat dari bagaimana jumlah masjidnya. Tentu ini tidak bisa disalahkan karena masjid menjadi tempat bertemu, berkumpulnya umat Islam. Maka dari jumlah masjid yang ada dapat di baca umat Islam adanya.

Namun tentu itu akan menjadi bumerang bagi umat Islam itu sendiri, manakala itu hanya dilihat dari sisi simbol formalnya saja. Sebab betapa banyak masjid berdiri dan sangat megah, namun kenyataan belum menggambarkan keterkumpulan jumlah jamaah, kecuali di saat shalat Jumat saja. Ini pasti menjadi bahan pertanyaan, mengapa demikian?

Kita mesti menyadari fenimena yang terjadi, mesjid hadir dan berdiri hanya untuk memenuhi hajat dan kebutuhan spiritual jamaah an sich. Yakni sebatas jamaah lima waktu, solat Jumat, dan sesekali untuk kegiatan istighosah, peringatan hari besar. Dan apalagi kebutuhan dua hal selain solat jumat kini telah dapat dipenuhi secara virtual. Lalu kemana masjid kita akan berlabuh dengan repeesentasi keseluruhan kebutuhan umat.

Keadaan yang menyedihkan misalnya baru baru ini ada seorang marbot masjid, dan selama ini telah banyak membantu masjid, sakit lumpuh dengan tanggungan biaya untuk kelyarga cukup besar. Mesjid tidak hadir membantu, ada jamaah rumahnya dekat masjid rusak mau roboh, mesjid juga tidak peduli, bahkan saat jamaah mesjid sakit tidak punya biaya berobat , saat ada jamaah miskin tidak bisa makan juga masjid tidak memiliki respons of crisis atas persolan jamaahnya.

Bahkan dana masjid menumpuk tersimpan di tabungan, ditambah pembangunan terus berlangsung, dengan semangat berlomba untuk saling berebut bagusnya bangunan masjid dengan sesama masjid lainya.

Sungguh menyaksikan kejadian demikian sangatlah ironis, mmsjid ternyata belum bisa hadir memberikan rasa nyaman apalagi sampai dengan memiliki respon untuk mengangkat harkat dan martabat jemaah nya. Masjid telah lupa dan disibukan dengan pemahaman dan cara berpikir sangat ritualistik.

Baca Artikel Terkait

Dan diluar urusan tersbut dianggapnya adalah persoalan pribadi dan personal jamaah masing masing. Padahal tentu tidak lah bisa dipisahkan antara tanggung jawab keagamaan dengan tanggung jawab sosial. Dan jelas jelas teks Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa termasuk golongan yang mendustakan agamanya, yakni mereka yang lupa akan nasib anak yatim, dan tidak memperhatikan kehidupan orang miskin.

Revitalisasi peran masjid adalah keniscayaan yang tidak boleh ditunda, bila ingin tugas kemasjidan untuk memakmurkan ya dapat dilakukan secara maksimal dan sempurna. Saatnya bukan masjid yang membutuhkan jamaah untuk hadir dan atau untuk dimintai bantuan dan infaknya. Namun jamaahnya lah yang memang sungguh membutuhkan masjid karena selama ini masjid hadir dalam setiap problem dan masalah yang dihadapi umat untuk mencari solusi dan jawaban.

Saat ada jamaah yang sakit, masjid telah hadir dengan kartu sehat jamaah, ada jamaah yang yang miskin, masjid membahtu dengan program anjungan tunai beras dan sembakonya, bagi lansia sakit masjid telah menyiapkan pemeriksaan gratis lansia, anak anak yatim jamaah masjid telah disiapkan kartu beasiswa belajar.

Bila masjid hadir memakmurkan jamaah , maka denfan sendirinya masjid akan makmur kehadiran para jamaah unt membangun kebersamaan spiritualitasnya di masjid. Wallahu alam

~Artikel Makmur Masjidnya, Sejahtera Jama’ahnya, ditulis oleh H Imam Tobroni S.Ag., MM., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 + eight =

Back to top button