Kisah Lahirnya Hari Santri Nasional

Lahirnya Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober di seluruh penjuru Nusantara tidak terlepas dari peran seorang kiai bernama Thoriq bin Ziyad. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Babussalam, Banjarejo, Pagelaran, Malang, Jawa Timur. Yuk simak kisah lahirnya Hari Santri.

Kepada NU CILACAP ONLINE KH Thoriq bin Ziyad yang akrab disapa Gus Thoriq, menceritakan proses lahirnya Hari Santri Nasional tersebut.

Diceritakan gagasan Hari Santri Nasional berawal dari kegelisahannya yang mendalam. Dia mengaku resah atas sejarah kiprah santri kiai di Indonesia hampir tidak pernah tersentuh. Sementara budaya pop semacam hari Valentine dan bahkan Halloween dari mancanegara itu mudah sekali masuk ke Indonesia.

Ada juga yang meragukan fungsi dari gagasan itu, apakah adanya Hari Santri menimbulkan iri dan cemburu bagi anak bangsa lain yang bukan santri?

Hal itu disadarinya sebagai resiko, karena setiap ijtihad maupun gagasan yang dilontarkan akan mendapati respon baik bahkan buruknya.

Diceritakan pada 2009, Hari Santri Nasional (HSN) pertama dideklarasikan pada 18 Desember. Saat itu bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram di Pondok Pesantren Babussalam yang berada di Desa Banjarejo.

Ketika deklarasi HSN pertama itu dihadiri beberapa tokoh, seperti Yenny Wahid, Saifullah Yusuf, dan kiai Kholil Asad Syamsul Arifin dari Situbondo.

Sebenarnya, ungkap Gus Thoriq, deklarator pertama HSN adalah KH Abdurrahman Wahid (Presiden ke-4 RI), namun sebelum gagasan itu terwujud, Gus Dur mendahului wafat.

Demikian kuat intihad dan keinginan KH Thoriq Bin Ziyad agar hari santri ditetapkan dan dirayakan secara nasional. Sampai-sampai dirinya menggunakan jalur politik masuk ke Partai Demokrat. Hal ini agar dia punya akses langsung ke pemerintah yang saat itu dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dua tahun kemudian yakni pada 2011 bertepatan pada 1 Muharram, masih tetap
di Pesantren Babussalam yang dipimpinnya, peringatan Hari Santri Nasional di pesantrennya pun dihadiri oleh Anas Urbaningrum.

Lalu tahun berikutnya (2012), peringatan Hari Santri Nasional dilangsungkan di Universitas Negeri Jember (Unej).

Namun ijtihad dan upaya kiai muda itu tidak membuahkan hasil, bahkan justru mendapat olok-olok, “jika ada Hari Santri maka harus ada Hari Kiai juga.”

Pada 27 Juni 2014, ketika menjelang Pilihan Presiden berlangsung, Jokowi lakukan safari politik ke Pesantrennya. Di pesantren inilah membicarakan kontrak politik membuat peringatan Hari Santri.

Jokowi pun seperti akan penuhi permintaannya dengan diperkuat para alim ulama yang hadir saat itu. Bahwa di akhir pidato Jokowi menyatakan siap berjuang dan Insya Allah jika dia terpilih jadi presiden, akan menetapkan Hari Santri Nasional.

Ketika Jokowi memenangkan Pilpres 2014, secara resmi mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri.

Gus Thoriq pun sebagai pencetus ide adanya Hari Santri Nasional itu mengapresiasi penetapan Hari Santri tersebut. Namun menurut dia ada satu hal yang masih belum terwujud. “Keppres Nomor 22 Tahun 2015 menetapkan Hari Santri, bukan Hari Santri Nasional,” tegasnya.

Pilpres jokowi tahun 2014 kunjungi pp babissalam banjarejo malang
Foto ini di tengah berita pada narasi kampanye pilpres jokowi tahun 2014.

Ia berharap santri di seluruh Indonesia lebih diperhatikan, dihargai, dan diapresiasi sebagaimana harapan, keinginan bersama kiai, dan rekan-rekan kalangan pesantren ketika menggagas Hari Santri Nasional.

“Demikian pun kita patut bersyukur, Hari Santri sudah resmi diperingati secara nasional sebagai Hari Santri Nasional, yang penting jihad santri jayakan negeri. Pokonya tiada henti.” pungkasnya. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button