Esai Opini Wawasan

Jaga Tradisi dan Budaya, Proyeksi Islam Nusantara

Jaga tradisi dan budaya merupakan sebagian dari proyeksi Islam Nusantara, karena tradisi dan budaya merupakan kekuatan fundamental dari sebuah bangsa, kalimat bijak berikut ini patut kita renungkan; “Jika kamu ingin menghancurkan sebuah bangsa maka lupakan bangsa itu dengan sejarahnya, tradisinya, budayanya,” Kiai Ngabehi Haji Agus Sunyoto (Bapak Kebangkitan Lesbumi NU), 1 Februari 2017.

Jika sang Proklamator mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, maka Agus Sunyoto mengatakan sejarah yang tidak mempunyai tradisi maka akan hilang dari peta dunia.

Demikian tegasnya Agus Sunyoto mengatakan begitu betapa pentingnya mengetahui dan mempertahankan tradisi kita, terlebih lagi bagi kaum Nahdliyyin. Kita harus menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur kita yakni shalafunassholih, Walisongo.

Agus Sunyoto, mencontohkan Islam yang ada di Spanyol sekarang hanya tinggal bangunannya itupun sudah dikuasai oleh umat Kristiani. Hal ini terjadi karena mereka tidak mempunyai tradisi Islam Spanyol. Sama halnya Qurdistan, kerajaan yang besar pada zamannya yang pernah dipimpin oleh Salahuddin Al Ayyubi sekarang tinggal kenangan karena tidak mempunyai tradisi yang dipertahankan.

Lalu Bagaimana dengan Islam di Indonesia?

Kita tahu bahwa di Indonesia begitu banyak tradisi Islam yang diwariskan oleh Walisongo. Diantaranya slametan, tahlilan, ziaroh, takbiran, barjanjen, pisowanan, wayangan dan lainnya. Agar kita tidak dilupakan sejarah layaknya Spanyol, Qurdistan ataupun yang lain. Maka kita harus melestarikan tradisi kita. Apalagi kita tahu bahwa di era globalisasi ini banyak terjadi transnasional.

Banyaknya budaya luar yang masuk di bangsa kita, disitu berimbas pada masyarakat kita. Tidak terlepas kita sebagai warga Nahdliyyin. Hal sepele tapi sangat fundamental yaitu dari segi nama anak-anak bangsa ini. Sudah hilang nama-nama yang berbau Jawa lebih banyak meniru keeropaan. Hal ini terjadi karena logika “Kalau enggak kayak Eropa kita nggak gaul. Kalau yang berbau Jawa kita ndeso dsb”. Logika inilah yang terbangun di masyarakat kita karena setiap harinya dipertontonkan hal yang keeropa-eropaan mulai dari media maupun pejabat-pejabat pemerintah.

Ada sebuah kata-kata bijak “Jika kamu ingin menghancurkan sebuah bangsa maka lupakan bangsa itu dengan sejarahnya, tradisinya, budayanya”. Inilah pentingnya mengapa kita harus

a kita. Dalam melawan transnasional NU menghalau dengan memperkenalkan dan menjaga tradisi melalui “ISLAM NUSANTARA“.

Proyeksi utama dari Islam Nusantara adalah untuk mempertahankan budaya dan tradisi Islam yang ada di Nusantara khususnya yang diwariskan oleh Walisongo.

Alhamdulillah, Islam di Nusantara masih terjaga. Mengapa demikian? Jika kita menengok di negara timur tengah sangat memprihatinkan, mereka perang sesama saudaranya seiman, semuslim, ketika beribadah mereka tidak tenang karena setiap saat bom muncul dan meledak.

Oleh karena itu, mari pelajari dan kita jaga Islam Nusantara sampai ke anak turun kita. Jangan mudah terhasut oleh propaganda-propaganda yang mengatasnamakan Islam karena Islam sesungguhnya adalah cinta akan kedamaian, Islam yang rahmatan Lil Al-Amin. Sekarang tetangga-tetangga kita sedikit banyak termakan oleh propaganda-propaganda tersebut. Jadi mari kita introspeksi diri, kita pertahankan tradisi damai bangsa ini (Disarikan dari Notulen Seminar Kebangsaan Oleh KH Agus Sunyoto)

Penulis: Imam Hamidi Antassalam
Penyunting: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eight − one =

Back to top button