Jejak Ulama

Haul ke 9 Mbah Lim Di Joglo Perdamaian II Doro Pekalongan

Haul Almagfurlah KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Lim ke 9 di gelar Di Joglo Perdamaian II Doro Pekalongan. Mbah Lim dikenal ulama nyentrik dan kharismatik. Mbah Lim adalah tokoh NU, Pendiri Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.

Beliau lahir pada 24 April 1924 di Desa Pengging, Kelurahan Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Lahir dari pasangan R Bakri Teposumarto Bin khasan Minhaj dan RAY Mursilah. Melalui sang ibu, Mbah Lim tersambung nasabnya dengan Sunan Paku Buwono IV, Sunan Bagus yang memerintah Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun 1788-1820. Nama Imampuro yang melekat di belakang namanya adalah nama ayahanda ibunya (kakek), RMNg Imampuro.

Diceritakan, seusai menimba ilmu agama di PGA Mambaul Ulum, Surakarta walau tak selesai Mbah Lim berkelana ke berbagai daerah. Mulai Banten, Cirebon, Madura hingga Jakarta. Di tahun 1950, keadaan membawanya ke Klaten.

Di Tahun 1972, Mbah Lim secara resmi mendirikan pondok pesantren itu. Niat awal menamai pesantrennya dengan Pesantren Tebuireng II, untuk tabarukan pada Mbah Hasyim Asy’ari. Namun dicegah oleh Gus Dur. Akhirnya, oleh Mbah Lim, pesantrennya dinamakan dengan Al-Muttaqien Pancasila Sakti (alpansa).

Dua tahun setelah Gus Dur wafat, Mbah Lim tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pencetus jargon ‘NKRI Harga Mati’ ini dipanggil sang kholik di usia 91 tahun pada, Kamis, 24 Mei 2012. Semenjak saat itu, seluruh santrinya baik di pesantren maupun alumni pesantren secara rutin, istiqomah, mengadakan haul Mbah Lim.

“Bukan hanya sekedar haul biasa, pada tradisi peringatan ini dimaknai dengan bermuhasabah dalam rangka menanam lestarikan kearifan, nilai-nilai budaya, kebangsaan, kenusantaraan yang diajarkan almagfurlah Mbah Lim, disamping doa bersama demi keberlangsungan bangsa Indonesia.” Terang Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pekalongan, Eko Ahmadi, saat dirinya menghelat acara Haul ke 9 KH Moeslim Rifa’i Imampuro (Mbah Lim) pada Kamis Malam, 18/3, di Joglo Perdamaian II Desa Doro, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.

Diceritakan, meskipun Mbah Lim keturunan priyayi, bangsawan Keraton Surakarta Hadiningrat, Namun Mbah Lim memilih meninggalkan lingkungan keraton dan hidup dalam kesederhanaan.

“Sosok Mbah Lim yang sederhana, tapi tidak sederhana mata batinnya, beliau memiliki daya linuwih luarbiasa. Ia dekat dengan masyarakat, bahkan saat sudah wafat kuburannya selalu padat, diziarahi siapa saja, bahkan wakil presiden KH Amin Ma’ruf. Di masa gesangnya pun beliau kerap dikunjungan orang-orang hebat mulai dari Iwan Fals hingga  Presiden Republik Indonesia, seperti KH Abdurahhman Wahid (Dus Dur), Megawati hingga Jokowi.” ungkapnya.

Baca Juga : Mbah Lim, NU dan NKRI (Pencetus Slogan NKRI Harga Mati)

Diceritakan, Mbah Lim dikenal karena sikapnya nasionalis. Saking nasionalisnya, Mbah Lim mewasiatkan agar makamnya dibuatkan joglo perdamaian yang didihiasi dengan warna merah putih yang tak lain warna bendera Indonesia.

“Bagi Mbah Lim, pancasila merupakan dasar Negara yang sudah final, tidak ada falsafah lain yang bisa menggantikannya.” ujarnya.

Tak hanya nasionalis, Mbah Lim kerap memperjuangkan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

“meski beda agama sekalipun toh sesama hamba Allah, sesama anak cucu eyang Nabiyullah Adam AS, dan sesama penghuni NKRI Pancasila”.

Demikian wasiat Mbah Lim tak ubahnya sebuah surat, tertera tanda tangan beliau, tanggal 12 Maulid 1428 Hijriyah, 30 Maret 2007, pukul 16.17 WIB.

Salah satu pesan wasiat Almagfurlah terkait kerukunan itu bisa dijumpai di kompleks makam di joglo perdamaian. Makam di belakang Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila, Dukuh Sumberejowangi, Desa Troso, Karanganom, Klaten.

Mbah Lim wafat 9 tahun lalu. Meski sudah wafat, Kiprah, Wasiat, Jasa maupun ajaran-ajarannya selalu dikenang, diingatan  para santrinya bahkan semua kalangan.

“Diselapan dan weton jemuah wage, kami adakan acara mujahadah rutinan macam ini, kali ini bertajuk ‘Merajut dan mengamalkan Doa Mbah Lim; NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Sepanjang Masa’

Baca Juga : Taushiyah PBNU Tentang Pemilu Presiden 9 Juli 2014

Maksud didirikannnya Joglo perdamaian II (dua) di Doro Pekalongan ini tak lain merupakan tabarukan sang kiai, ‘ngalap berkah’ Mbah Lim, inspirasi dan ide dari beliau, dengan visi bahwa Joglo perdamaian adalah tempat, wahana eling, ingat-mengingatkan setiap kita. Bahwa setiap orang yang mendatangi akan sadar betapa pentingnya menjaga kerukunan antarumat” terang Gus Eko Ahmadi yang juga ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pekalongan.

Haul Mbah Lim ke 9 dihadiri Bupati Kabupaten Pekalongan, KH Asip Kholbihi, Syuriah maupun Tanfidziyah dari Pengurus Majelis Wakil Cabang NU Doro, maupun  Pengurus Ranting NU se Kecamatan Doro, Unsur-unsur Banom dan Lembaga MWCNU Doro, para Alumni Ponpes Pancasila Sakti Klaten wilayah Kabupaten Pekalongan dan Masyarakat umum.

Bupati Kabupaten Pekalongan, KH Asip Kholbihi mengatakan, dalam Haul ada dua pelajaran penting yang bisa diambil, pertama menuturkan dan mengungkap cerita tentang orang orang Sholeh adalah Ibadah, kedua, ajaran Mbah Lim berusaha kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mbah Lim adalah golongan Aulia yang memandang manusia dengan pandangan kasih sayang, itulah ciri ciri orang Sholeh” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

19 − one =

Back to top button