Esai Opini Wawasan

R20, Upaya NU Terlibat Perdamaian Dunia Melalui Peran Agama

R20  atau Religion 20 menjadi agenda perdamaian dunia yang diinisiasi oleh NU bersama dengan tokoh agama dunia. Mungkinkah Agama mampu menjadi solusi bagi penanganan konflik yang terjadi di dunia? Bagaimanakah harapan dan tujuan utama R20 tersebut?

Konflik dan Perdamaian

Di tengah situasai konflik yang tengah berkecamuk di berbagai belahan dunia, Eropa, Timur Tengah dan lainnya; upaya perdamaian untuk kesejahteraan bersama umat manusia sangat penting dilakukan secara bersama.

Unsur-unsur kemanusiaan harus dikedepankan oleh siapapun kelompok-kelompok dari latar belakang apapun; termasuk kalangan agama dan agamawan untuk dapat menyeimbangkan konflik dan perdamaian itu.

Konflik yang menuju pada peperangan; baik konflik politik, pertahanan militer, dan kuasa atas sumber daya alam, tidak akan mengahasilkan suatu apapun bagi umat manusia.

Dan Konflik hanya akan ada kesengsaraan umat manusia, yang nasibnya terkatung-katung dengan sejumalah ketidakpastian akan hidup mereka di tanah air mereka sendiri; tempat tinggal, lahan pertanian, kesehatan, pendidikan dan sumber daya kehidupan lain.

Akibat dari konflik dan peperangan semuanya itu tidak akan dapat dioptimalkan dengan dengan cara apapunoleh masyarakat dunia yang ada, sebagai sebuah keuntungan. Konflik justeru akan membawa ancaman bagi keberlangsungan kehidupan. Bukan hanya umat manusia tetapi semesta di dalamnya termasuk hewan dan ekosistem alam sebagai tempat penunjang kehidupan.

Sebab berkonflik adalah ketika senapan dan senjata selalu dikedepankan. Merasa bahwa dengan itu konflik dapat diselesaikan melalui kekuatan saling beradu senjata untuk satu pengakuan atas “kemenangan” masing-masing.

Oleh karena itu ilusi-ilusi akan kemenangan melalui kedigdayaan kehendak akan kuasa manusia benar-benar harus dilampui bersama. Bahkan ini harus menjadi gerakan semua pihak organisasi masyarakat dunia untuk dapat melampaui hal tersebut; termasuk organisasi  masyarakat yang ada di Indonesia.

“Bahwa masalah kedamaian merupakan upaya saling mengenal satu sama lain, saling berkompromi satu sama lain, dan saling menjaga satu sama lain untuk tidak saling merugikan satu sama lain”.

Untuk itu, upaya ormas atau organisasi masyarakat dalam menyurakan perdamaian melalui jejaring satu sama lain, penting untuk dibangun melalui peran-peran mereka seperti peran agama, social budaya, dan politik.

Ketiga peran tersebut, yang tengah menjadi dasar atau pondasi kehidupan manusia hidup bermasyarkat; semua harus mampu setidaknya mengurangi atau menghilangkan konflik yang diakibatkan oleh hal itu antara agama, social-budaya dan politik yang mungkin dapat terjadi.

R20 dan Perdamaian Dunia

Maka menilik bagaimana peran-peran agama dan agamawan yang akan dipertemukan di Indonesia membahas isu agama dan perdamaian dunia yang di inisiasi oleh ormas islam terbesar di Indonesia yakni Nahdatul Ulama (NU) pada peringatan satu abad berdirinya organisasi itu.

Dengan mengusung tema besar merawat peradaban dunia melalui “R20” atau Religion 20 yang akan dilaksanakan bulan November 2022 nanti menambah rangkaian G20 yang akan dilaksanakan juga di Indonesia sebagai tambahan rentetan acara G20.

Tentu ini akan menjadi lompatan besar eksistensi agama di Indonesia; bahwa “agama” yang juga isunya terkadang turut berkontribusi pada konflik-konflik di dunia.

Dengan duduk bersama lintas agama seluruh dunia, diharapkan berdiskusi serta membahas isu tentang agama, mampu mencairkan dan mempererat persaudaraan atas nama kemanusiaan melalui peran-peran agama di dunia menuju sebuah kedamaian umat manusia.

“Bahwa untuk berdamai dengan konflik dibutuhan melampaui kepentingan-kepentingan atas nama pribadi maupun kelompok termasuk dari kelompok beragama atau orang-orang yang terlibat dalam kepentingan beragama”.

R20 dan Nahdlatul Ulama (NU)

R20 atau Religion 20 yang akan mempertemukan pemimpin agama besar di dunia seperti Paus Fransikus pemimpin Gereja katolik Roma dan Raja Nordom Sidamoni sendiri merupakan upaya Nahdatul Ulama (NU) dan umat islam di Indonesai turut serta dan menjadi fasilitator, yang akan terus berkomitmen pada perdamaian dunia, yang secara tidak langsung agama-agama yang ada di dunia juga rawan akan konflik yang terjadi.

Seperti apa yang diungkapkan oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf dikenal juga dengan sapaan Gus Yahya dalam Rapat Pleno dan Kick Off Harlah NU satu abad Senin (20/06); tujuan dari adanya R20 supaya agama berhenti menjadi bagian dari masalah tetapi harus mampu bergerak menjadi solusi bagi permasalahan tersebut yang ada di dunia.

Gus Yahya juga menyampaikan agama kerap menjadi masalah karena terkadang ada pihak-pihak yang memperalat agama untuk sejumlah kepentingan-kepentingan lain diluar dalam konteks beragama.

Apresiasi Terhadap R20  

Sebagai upaya menyadari potensi konflik yang melibatkan agama, apresiasi terhadap R20 memang layak diberikan kepada pihak-pihak yang akan terlibat termasuk Nahdatul Ulama sebagai ormas islam tersebar di Indonesia sekaligus inisiator gelaran pertamuan dan diskusi tersebut bagi pemimpin agama dunia.

Adanya R20 nantinya juga akan mempererat demokrasi dunia, yang mana kebebasan berserikat dan berkumpul dalam sebuah organisasi bagi kelompok-kelompok masyarakat beragama diharapkan mampu dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan dunia, yang ramah pada kemanusiaan dan juga keberlangsungan hidup lingkungan melalui peran-peran apa yang dapat dilakukan agama.

Selain itu dengan berkumpulnya dan berdiskusi masalah atau solusi yang dapat dilakukan agama bagi peradaban dan perdamaian dunia. Adanya gelaran R20 diharapkan dapat menjadi lompatan perdamaian dunia yang lebih baik. Peka pada isu-isu kemanusiaan dan konflik yang terus menjadi pemandangan besar dunia, yang masih terjadi hingga saat ini diseluruh penjuru dunia.

Maka optimalisasi peran agama saat ini menjadi sangat penting; bahwa agama-agama di dunia selain memperbaiki nilai-nilai spiritalitas dan religusitas manusia, juga harus menjadi salah satu solusi untuk mendamaikan manusia dalam konflik dan mencegah konflik itu terjadi di dunia melalui peran-peran keagamaan yang ada. [Toto Priyono]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

three × 4 =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button