Islam Aswaja NU, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika

NU CILACAP ONLINE – Islam Aswaja NU, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi Muqoddimah Komisi Program Kerja Munas dan Konbes NU 2021, sekaligus sumber gerakan Islam ala NU yang diperjuangkan dari Indonesia untuk seluruh penjuru dunia, bagaimana deskripsi lengkapnya?

NU dan Aswaja

Pengokohan Islam Ahlussunnah wal Jamaah Al Nahdliyah, Ideologi Islam ahlussunnah wal jamaah NU (Islam Aswaja NU, red.) kini menghadapi tantangan yang tidak ringan karena masuknya ideologi global ke tanah air, baik yang bersifat ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Setelah masa reformasi, di mana setiap kelompok bebas menyampaikan aspirasinya, termasuk kelompok Islam radikal yang selama ini mendapat tekanan. Sebagian opini media massa, pejabat dana aparat keamanan sengaja atau tidak sangat mendukung gerakan Islamisasi itu dengan bebragai motif yang berbeda.

Padahal eksperimentasi Islam radikal ini sangat berbahaya bagi kerukunan dan keutuhan bangsa ini. Sebab Islam benar-benar ditampilkan dalam bentuk pedang dan kekerasan. Penyebaran ektremisme agama dan terorisme ini secara langsung berperan menciptakan gelombang pasang Islamofobia di kalangan non-Muslim.

Moderatisme adalah paham yang selalu mencari jalan tengah dari dua kecendrungan, tidak condong (ekstrem) kanan dan kiri. Ideologi transnasional liberalism baik dari Barat maupun radicalism Islam di Timur sama berbahaya dan sama-sama merusak. Masuknya ideologi transnasional ini ke Indonesia dapat merusak tatanan Indonesia dan juga NU.

Sebagai organisasi Ahlussunnah wal Jamaah terbesar di dunia, NU berkomitmen menjaga kekuatan eksisitensi budaya kepribadian jati diri Islam. NU menawarkan wawasan dan pengalaman Islam Nusantara kepada dunia sebagai paradigma Islam yang layak diteladani, bahwa agama menyumbang kepada peradaban dengan menghargai budaya yang telah ada serta mengedepankan harmoni dan perdamaian.

Islam tidak menggalang pemeluk-pemeluknya untuk menaklukkan dunia, tapi mendorong untuk terus-menerus berupaya menyempurnakan akhlaqul karimah, karena hanya dengan cara itulah Islam dapat sungguh-sungguh mewujud sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

Simak Video Pidato Presiden Soekarno.

Islam Nusantara secara teguh mengikuti dan menghidupkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal jamaah yang mendasar, termasuk tawassuth (jalan tengah, yaitu jalan moderat), tawaazun (keseimbangan; harmoni), tasaamuh (kelemah-lembutan dan kasih-sayang, bukan kekerasan dan pemaksaan) dan i‘tidaal (keadilan).

Nahdlatul Ulama akan berjuang untuk mengonsolidasikan kaum Ahlussunnah wal Jamaah sedunia demi memperjuangkan terwujudnya dunia di mana Islam dan kaum Muslimin sungguh-sungguh menjadi pembawa kebaikan dan berkontribusi bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.

NU harus terus menerus melakukan penguatan ideologi di tingkat pengurus dan basis. Gerakan struktural dan kultural NU harus dilaksanakan secara terpadu untuk melawan gerakan transnasional tersebut. Struktur NU mulai dari PBNU, PWNU, PCNU hingga Ranting harus fungsional dan bergerak untuk menjaga Jami’ah NU terus berkembang dan melindungi ideologi Jamia’ah NU dan masyarakat.

Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak bisa dipungkiri bahwa NU mempunyai kontribusi yang besar dalam perumusan Pancasila dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para tokoh dan ulama NU sepakat memilih bentuk NKRI dan ideologi Pancasila karena dinilai paling cocok buat bangsa Indonesia yang multi etnis, agama dan budaya.

Pasca reformasi kita dihadapkan pada situasi yang pelik yaitu bangkitnya gerakan politik identitas. Gerakan ini digaungkan di daerah tertentu oleh beberapa kelompok. Gerakan ini tidak sekedar sebuah perjuangan untuk memperoleh pengakuan (politic of recognition) dan keadilan dalam distribusi kekayaan bangsa kita (politic of distribution), tetapi juga telah mengarah pada gugatan mengenai bentuk negara-bangsa. NKRI digugat, nasionalisme di pertanyakan dan Pancasila disanggah.

NU berupaya menjaga keutuhan bangsa ini di tengah maraknya politik identitas tersebut. Tentu bukan maksudnya untuk menghalangi tuntutan kelompok atau etnis tertentu untuk mendapatkan keadilan. Tetapi di saat yang sama NU juga tidak menginginkan kejadian di Uni Soviet, Yugoslavia ataupun Rwanda yang pecah berkeping-keping setelah sebelumnya dilanda perang saudara, menimpa kita.

NU selalu memagari gerakan politik identitas ini agar tidak melejit menjadi gerakan separatis yang akan mengoyak-ngoyak keutuhan bangsa.

Jika dikaitkan dengan kaidah al-ghayah wa al-wasail, maka melindungi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika bukanlah al-ghayah (tujuan) namun hanya merupakan al-wasail (strategi untuk mencapai tujuan).

Tujuan akhir dari NU terhadap negara kita ini tetap Negara yang mewujudkan keadilan (al-adl) dan mendatangkan kemaslahatan bagi umat (al-maslahah).

Baca juga Pancasila Bukan Wahyu, Tapi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button