Esai Opini WawasanSeni Budaya

7 Tradisi Suroan Cilacap, Akulturasi Budaya Nusantara

Oleh KH Maslahudin

Sebagai bentuk memuliakan bulan Sura, banyak tradisi di Indonesia mengisinya. Di Cilacap misalnya, setidaknya  7 tradisi Suroan (dari kata Sura) yang masih eksis dilaksanakan hingga sekarang. 7 tradisi ini merupakan akulturasi budaya nusantara yang ada di masyarakat dengan nilai-nilai agama Islam.

Bulan ‘Asyura atau Muharram merupakan bulan yang istimewa baik bagi umat Muslim maupun masyarakat dalam kultur Jawa. Bulan ini menjadi pembuka kalender hijriyah juga pananggalan Jawa. Orang Jawa lebih akrab menyebut bulan Sura atau Suro.

Berikut 7 Tradisi Suroan Cilacap yang eksis di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama di Cilacap

1. Tradisi Suroan atau Muharraman

Tradisi Suroan yaitu tradisi menyambut kedatangan bulan Sura atau Muharram. Pada tradisi ini, umat muslim berkumpul di masjid atau mushola pada pergantian Tahun baru Hijriyah. Mereka mengadakan doa bersama awal tahun dilanjutkan membaca yasin dan tahlil. Selesai acara, mereka lanjut kepungan atau makan bersama.

Tradisi ini dipercaya tafaaulan (meniru) kepada Nabi Saw pada saat hijrah dari Makkah ia keluar rumah menuju Madinah. Saat itu, Nabi menaburkan pasir kepada orang kafir yang mengepung rumahnya sambil membaca surat yasin. Dengan kuasa Alloh, kepala mereka tertunduk kaku tidak bisa mengangkat dan tidak bisa melihat. Pada akhirnya misi untuk membunuh Rasululloh SAW gagal.

Dengan membaca Surah Yasin, maka diharapkan akan akan selamat dalam perjalanan hidup dan bisa menyingkirkan segaka rintangan yang menghadang dalam hidupnya.

2. Sedekah Bumi Atau Selamatan Bumi

Sedekah Bumi Atau Selamatan Bumi adalah tradisi syukuran untuk bumi. Syukuran ini untuk mensyukuri hasil bumi (sedekah hasil bumi) yang telah dinikmati oleh warga desa. Biasanya sedekah bumi dilaksanakan di Balai kampung atau Balai Desa.

Selain sedekah bumi, ada juga sedekah laut. Sedekah ini adalah syukuran untuk mensyukuri tangkapan ikan laut bagi para nelayan. Konon bumi dan laut diciptakan pada bulan Muharram atau bulan Sura.

Sebenarnya yg dicipta pada bulan Sura itu bukan hanya bumi dan laut, tetapi gunung dan langitpun juga dicipta pada bulan Sura. Oleh karenanya saat melaksanakan slametan atau sedekah bumi & sedekah laut, oleh kiai dikrenah (direkayasa) agar diniati sedekah gabungan (segab). Yakni sedekah bumi, laut, gunung dan sedekah langit. Hal ini dikarenakan, kita manusia butuh langit, butuh gunung dan butuh yang lainnya.

3. Slametan Brokoih (Mbrokoih)

Di bulan Sura ini ada pula yang mengadakan slametan brokoih. Brokoih (brokoh+akhiran i) berasal dari bahasa Arab (Barokah). Selamatan Brokoih berlaku bagi orang tua yang anak-anaknya sudah mentas (menikah) semua. Ini ditandai dengan menopause bagi perempuan sehingga sudah tidak bisa mempunyai anak lagi.

Wanita yang telah menopause dianggap umurnya barokah, karena di umur yang sudah relatif tua masih diberi kesempatan melihat anak-anaknya mentas (berumah tangga) semua. Si nenek tersebut merasa plong marem rampung ulieh momong anak (lega dan puas) karena tugas mengasuh anak sudah sukses. Ia merasa gembira bisa menangi putu (menjumpai cucu). Maka sang nenek bersyukur agar sisa umurnya diberi barokah. Oleh karena itu, sang nenek menyelenggarakan slametan brokoih agar dapat barokah dari Alloh swt.

Dalam acara brokoih biasanya menyembelih ayam untuk dibuat ingkung (ayam utuh yang dimasak dengan santan).

Dalam falsafah Jawa, ingkung artinya ingkang linangkung (yang utama). Cara memasak ingkung, kepala dibenamkan ke dalam belahan dada sedangkan kakinya ditekuk ke atas. Itu maknanya sudah usia tua jangan sombong. Kalaupun banyak kebaikan lebih utama disembunyikan. Ceker atau kaki di atas, artinya meskipun sudah tua tapi tetap masih enerjik dan semangat kerja.

Untuk teman lauk nasi, biasanya dilengkapi dengan kluban. Kluban disebut juga urap, merupakan ramuan dari berbagai macam sayuran. Rasanya akan menyatu oleh bumbu yang membuatnya menjadi lezat.

Kluban yang terdiri dari bermacam sayuran bermakna, bahwa orang kalau sudah tua mempunyai banyak anak, menantu dan cucu. Dalam keluarga macam-macam karakternya. Bagaimana agar yang berbeda karakter ini bisa menyatu, maka nanti akan dipengaruhi oleh bumbu, yakni bumbu kesabaran, keramahan, kekeluargaan, kedamaian dan kebahagiaan.

Menu berikutnya adalah kupat dan lepet. Keduanya adalah makanan yang bungkusnya terbuat dari janur kuning. Lepet adalah sejenis makanan tradisional berbahan dasar beras ketan dicampur parutan kelapa dan garam. Bahan-bahan itu dibungkus janur kuning dengan arah daun kelapa memutari isi lepet untuk kemudian direbus. Rasanya empuk dan gurih.

Sedangkan kupat adalah sejenis lontong tapi dibungkus dengan janur juning. Kupat yang dipake adalah kupat selamet. Kupat selamet bentuknya kecil bulat.

Setelah siap segala sesuatunya, tetangga diundang untuk berdoa dan makan bersama dengan sistem legowo. legowo singkatan ana sing dileg, ana sing digowo. Maksudnya makan dulu terus membawa oleh-oleh brekatnya untuk dibawa pulang.

4. Besik Kubur

Besik Kubur adalah tradisi Suroan yang dilaksanakan dengan bebersih pekuburan atau panembahan bersama sanak keluarga. Usai membersihkan kuburan atau panembahan mereka akan berdoa dipimpin oleh tokoh agama setempat. Usai berdoa, mereka makan bersama di area pekuburan. Tradisi Suroan besik kubur ini sampai sekarang rutin dilaksanakan di Pekuburan Surowani Kawunganten Lor, Kecamatan Kawunganten Cilacap.

5. Santunan Yatim dan Dhuafa

7 Tradisi Suroan Cilacap yang ke lima adalah santunan Yatim dan Dhuafa. Di bulan Sura banyak yang melakukan santunan untuk anak yatim dan dhuafa. Kebiasaan ini mengikuti petunjuk Nabi saw untuk memuliakan anak yatim dan dhuafa. Ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW,”Saya (Muhamad saw) dan orang yang menanggung beban anak yatim akan bersama-sama masuk surga, sambil mengacungkan kedua jari tengah (jari penuduh dan jari penunggul)”.

6. Mayoran (Makan Enak) Bersama Keluarga

Tanggal 10 ‘Asyura, biasanya dijadikan sebagai momen istimewa untuk mayoran keluarga. Mayoran adalah istilah makan enak atau makan spesial. Tradisi ini mengacu pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muhamad bin Maisaroh ia berkata:

آن من وسع على عياله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائرالسنة

Artinya; Sesungguhnya orang yang melapangkan ekonomi kepada keluarganya pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), maka Allah SWT akan melapangkan/memudahkan, memberi banyak rizki kepadanya sampai pada akhir tahun tersebut. (Tanbihul Ghofilin 123).

7. Puasa Tasu’a dan ‘Asyura

Puasa Tasu’a dan ‘Asyura adalah puasa sunnah pada tanggal 9 dan 10 muharram. Pada malam 10 Sura melaksanakan sholat sunat ‘Asyura 4 rokaat ( dua salaman), setiap rokaat setelah membaca surat alfatihah sekali trus membaca surat ikhlas/qulhu 51X. Adapun hikmahnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab ‘Iaanatuttholibin, bisa melebur dosa 50 tahun

Upacara dan ritual serta selametan semua itu bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT, agar mendapat ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian. Selain itu, selametan juga untuk menciptakan dan memelihara keselarasan di dalam masyarakat atau di dalam kehidupan sosial sehingga senantiasa tercipta dan terjaga keadaan seimbang dan harmonis di antara unsur unsur dalam alam raya ini.

Demikian 7 tradisi Suroan Cilacap. Ini baru sebagian dari banyaknya tradisi Suroan di Cilacap. Pada kenyataannya, masih banyak tradisi lainnya mengingat luasnya wilayah Kabupaten Cilacap. Ibarat kata, Desa  mawa cara, setiap desa mempunyai adatnya sendiri. Begitu juga halnya pada kebiasaan menyambut bulan Muharam.

Wallohu a’lam bisshowab

~Artikel 7 Tradisi Suroan Cilacap, Akulturasi Budaya Nusantara ditulis oleh KH Maslahudin, Wakil Rais Syuriyah PCNU Cilacap.

Penyunting: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

3 × four =

Back to top button