Islam Aswaja

Islam Nusantara yang Moderat dan 4 Simpul Jalan Tengah

Islam Nusantara menjadi bagian inheren dalam paradigma Islam Aswaja ala Nahdlatul Ulama (NU) dengan ciri moderat, jalan tengah. NU, organisasi yang didirikan oleh para Kiai, untuk mencari jalan tengah dalam prinsip kehidupan beragama dan bernegara.

Konsep jalan tengah atau moderat inilah yang menjadikan NU selalu punya prinsip yang khas; dengan berpijak pada dalil dalil ushul fiqh sekaligus tidak meninggalkan nilai nilai kultural yang membentuk islam nusantara.

Prinsip akidah Nahdlatul Ulama berpijak pada Ahlussunah Wal Jamaah dengan pintu teologi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan  Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Sedangkan  dalam bermadzhab para kiai nu menganut empat madzhab: Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Prinsip Ahlussunah menjadi pedoman utama, dalam gerak langkah dan pemikiran warga Nahdliyin, ajaran Ahlussunah tidak mengenah kekerasan dan terorisme. Menurut KH Said Aqil Siradj “  kita ini adalah umat yang modern yang penuh toleran, dan moderat, agar menjadi contoh bagi umat yang lain”.

Apa sih Islam Nusantara?

Islam  Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dangan nilai nilai teradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tahh Air, dengan demikian Islam Nusantara ini buan barang baru di Indonesia.

Islam Nusantara merupakan identitas dari konsep Keislaman yang diusung oleh Nahdlatul Ulama (NU); sebuah gerakan dan konsep dakwah yang diajarkan oleh Ulama Ulama Nahdaltul Ulama; yang tidak lepas dari warisan Ulama Ulama terdahulu yang tersambung dengan model dakwah Walisongo.

Inilah yang menjadi tipikal khas gerakan dakwah NU untuk membumikan Islam yang ramah dengan karakter lokal dengan tradisi dan budaya setempat, dengan demikian Islam Nusantara tidak sekedar mengimpor Islam Ala Timur Tengah. Akan tetapi menjerihkan islam dengan memadukan unsur unsur lokal agar islam lebih terterima dan membumi.

Baca Juga : Agama dan Pancasila Bukanlah Sesuatu yang Bertentangan

4 Simpul Jalan Tengah

Islam Nusantara dengan 4 simpul jalan tengah (moderat)- nya, sebagai berikut:

Pertama, semangat Keagamaan (Al-Ruh Al-Diniyyah). Semangat keagamaan yang ada di dalamnya bukan untuk mengedepankan formalisasi agama, melainkan mengutamakan Akhlaqul karimah. Ini sejalan dengan misi utama kedatangan Nabi Muhammad yang membawa misi untuk menyempurnakan Akhlaqul Karimah.

Kedua, semangat Kebangsaan (Al-Ruh Al-Wathaniyyah). Setiap umat Islam di Negeri ini hendaknya mempunyai nasionalisme, Cinta Tanah Air. Hal tersebut sudah terbukti dalam sejarah pra-kemerdekaan, para ulama bersama para pendiri bangsa yang lain saling bahu membahu untuk mewujudkan kemerdekaan, dan bersama-sama untuk melahirkan Pancasila sebagai Falsafah bernegara. Bahkan, para ulama menegaskan Pancasila sebagai dasar Negara sudah bersifat final.

Ketiga, semangat Kebhinnekaan (Al-Ruh Al-Ta’addudiyyah). Setiap umat Islam harus mengenali dan menerima keragaman budaya, agama, dan bahasa. Tuhan pasti bisa jika hendak menjadikan makhluk-Nya seragam, tetapi Tuhan sudah memilih untuk menciptakan makhluk-Nya beragam agar di antara mereka saling mengenali, menghormati, serta merayakan kebhinnekaan.

Keempat, semangat Kemanusiaan (Al-Ruh Al-Insaniyyah). Setiap umat Islam hendaknya mampu menjadi prinsip kemanusiaan sebagai pijakan utamanya. Persaudaraan kemanusiaan harus diutamakan dalam rangka menjaga tatanan sosial yang damai dan harmonis. Islam pada hakikatnya adalah agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Keempat karakter tersebut memang secara distingtif menjadi unsur pembeda antara Islam Nusantara dengan Islam Ala Timur Tengah. Salah satu yang mencolok perbedaannya karena Islam Ala Timur Tengah cenderung bersifat Politis. Sedangkan Islam Nusantara bercorak moderat sekaligus bersifat kultural.

Ekspresi Islam Nusantara

Contoh ekspresi Islam yang ada di Nusantara oleh Walisongo,  yaitu mentransformasikan Sesajen dengan menjadi tradisi Slametan, merupakan wajah ramah yang dicontohkan Islam Nusantara, bila pada awalnya Sesajen diniatkan untuk mempersembahkan makanan kepada roh roh ghaib.

Tidak demikian dengan tradisi Slametan. Dalam tradisi Slametan adalah memberikan makanan kepada tetangga dan warga Muslim untuk didoa’kan agar mendapat keberkahan bersama. Setelah memanjatkan doa maka Sesaji atau Makanan yang ada diberikn sebagai Ubo Rampe Slametan. Inilh tradisi indah Ala Walisongo dalam wujud transformasi tradisi Sesajen menjadi Slametan yang Khas Islam Nusantara.

Anas Mubarok, Aktifis Media Nahdliyyin Kedungreja, Kontributor NU Cilacap Online

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button