Esai Opini Wawasan

Pekan Muharram Karangrena dan Pesan Gus Dur

Tradisi kebudayaan dan agama bukan sesuatu yang terpisahkan melainkan saling melengkapi satu sama lain. Inilah pesan Gus Dur yang tersirat dalam Tradisi Pekan Muharram yang menjadi perhelatan rutin warga Nahdliyin di Desa Karangrena Maos dalam menyambut tahun baru Hijriah.

Tradisi Pekan Muharram 1444 H, Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap sebagai basis masa tradisi kebudayaan yang dipadukan dengan konteks keagamaan.

Memang penting eksistensinya menjaga suatu nilai tradisi dalam keberagamaan. Bagaimana sebuah tradisi yang lahir dari kebudayaan itu dapat menguatkan sisi keagamaan manusia di dalamnya.

Warga Nahdatul Ulama (NU) Desa Karangrena sendiri yang telah melaksanakan Tradisi Pekan Muharram 1444 H dari tanggal 20 Agustus 2022 sampai dengan acara puncak 27 Agustus 2022 dengan berbagai kegiatan merawat tradisi keberagamaan khususnya ke-islaman.

Pekan Muharram Karangrena rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Lantas bagaimanakah Pekan Muharram Karangrena ini menjadi sesuatu yang melengkapi antara tradisi prodak dari kebudayaan dengan keberagamaan bagi masyarakat Desa Karangrena itu sendiri?

Apakah antara beragama dan berbudaya tidak ada titik singgung, yang mana itu harus berjalan sendiri-sendiri, tidak bebarengan dalam merawat satu sama lainnya?

Beragama dan Berkebudayaan

Satu hal yang mungkin banyak orang telah lupa bahwa sesuatu itu menjadi kuat dan besar; merupakan sebuah kerelaan bagaimana nilai-nilai akan sebuah tradisi itu dilangsungkan.

Tentu ini menjadi sebuah perspektif yang lebih mendasar. Pandangan yang lebih radikal pada suatu peranan pengetahuan yang telah berkembang bagi manusia.

Maka sama halnya antara beragama dan merawat sebuah tradisi sebagai prodak kebudayaan. Tidak dapat lepas dari peran pengetahuan akan kebudayaan itu sendiri, yang berkembang sebagai sebuah tradisi kehidupan di dalam masyarakat.

pekan muharam karangrena

Yang mana dari roda-roda tradisi itulah sesuatu yang menggerakan, menguatkan, dan medekatkan satu sama lain. Praktisnya melengkapi apapun yang melekat bagi kehidupan manusia termasuk menjadi beragama, harus sekaligus melakukan praktik-praktik tradisi dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat.

Baca juga

Gus Dur pernah berkata bahwa dalam konteks beragama salah satunya islam, yang menjadi basis masa terbesar mengakar sebagai bangunan agama mayoritas di indonesia.

“Islam itu timbul dari basis kebudayaan. Jika itu dihilangkan kemungkinan ada dua. Pertama kebudayaan akan mati, kedua islam akan hancur”. Kata Gus Dur

Pesan Gus Dur seseorang harus menjadi pemikir yang sehat. Bagaimana beragama sendiri berpegang pada nilai-nilai kebudayaan dan tradisi. Sekiranya itulah yang dilakukan oleh Gus Dur.

Sebab selain sebagai seorang Ulama yang besar. Gus Dur adalah Politikus yang handal sampai titik tertinggi menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke- 4.

Gus Dur sendiri berhasil menorehkan pesan-pesan demokrasi yang mendasar bagi masyarakat Indonesia melalui prularitas, toleransi, dan humanisme. Yang mana antara berbangsa dan bernegara tidak ada sekat-sekat yang membatasi termasuk identitas keagamaan yang ada.

Maka dalam perspektif beragama bagi Gus Dur, penting merawat kebudayaan seperti dijelaskan dalam kata-katanya bahwa; basis berbudaya dalam beragama itu sangat penting. Sebaliknya jika antara agama dan budaya tidak dipadukan, keduanya akan sama-sama binasa.

Itulah yang menjadi titik perjuangan seorang Gus Dur. Tokoh komplit yang pernah hidup sampai titik puncak apa yang menjadi garis perjuangan hidupnya. Baik di bidang politik-demokrasi, keberagamaan, dan juga tokoh ulama toleran yang besar tidak hanya di cintai dari kalangan islam tetapi juga agama lain di Indonesia.

Sebab itu, bagaimanakah pesan Gus Dur sendiri tentang kebudayaan dalam keberagamaan memiliki relevansi dengan “Tradisi Pekan Muharaam” yang dilakukan Warga Nahdatul Ulama di Desa Karangrena dalam merawat tradisi berkebudayaan sekaligus merawat keagamaan?

Pekan Muharram Karangrena  

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebagai salah satu tokoh agama islam yang besar. Gus Dur juga merupakan seorang intelektual progresif, budayawan, dan cendikiawan muslim yang produktif dalam berkarya.

Selain itu Gus Dur yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun (1983-1985) sekaligus terpilih menjadi ketua PBNU pada tahun 1984. Membuat kegamangan besar bagi tokoh-tokoh islam kususnya dari kalangan pesantrean yang mempertanyakan Gus Dur.

Seniman yang identik dengan urakan, orang-orang nakal dan lembaga kesenian yang identik jauh dari agama itulah yang menjadi akar pertentangan terhadap Gus Dur saat itu di identitaskan sebagai seorang sekuler.

Akan tetapi dengan pengetahuan Gus Dur yang sangat holistic. Gus Dur dapat diterima di kalangan manapun, yang itu justru menjadi pelajaran penting bagi keberagamaan bahwa beragama itu sekaligus menjadi berbudaya yang tidak akan jauh dari seni, tradisi dan nilai-nilai yang mengakar di masyarakat.

Pekan Muharam Karangrena

Oleh karena itu tradisi Pekan Muharram Karangrena yang dilaksanakan tiga tahunan sekali itu sebagai basis tradisi dan merawat kebudayaan sekaligus keagamaan yang ada di Desa Karangrena sejalan dengan apa yang mungkin digagas dan diperjuangkan oleh Gus Dur beragama sekaligus berkebudayaan.

Seperti diketahui ada berbagai kegiatan keagamaan sekaligus tradisi kebudayaan yang dilakukan di dalam kegiatan Pekan Muharram Karangrena 1444H. Salah satunya adalah pawai Ta’aruf sekaligus bersih-bersih sampah plastik, Sunatan Masal, Tahlil Masal, Lomba Hadroh, Solawat Situduror dan Pengajian Akbar.

Menjadi catatan tersendiri mengapa Nahdatul Ulama dapat menjadi organisasi keagamaan yang besar di Indonesia. Selain dari peran ulama besarnya seperti Gus Dur dan lain sebagainya dikalangan NU yang memiliki peranan kuat di dalamnya.

Nilai-nilai tradisi dalam kebudayaan yang mengakar kuat dimasyarakat yang terus dirawat dan dijalankan juga merupakan kekuatan bagi Jamiyah Nahdatul ulama itu sendiri. Bahwa antara tradisi kebudayaan dan agama bukan sesuatu yang terpisahkan melainkan saling melengkapi satu sama lain.

Dan Tradisi pekan Muharaam Karangrena adalah salah satu upaya merawat tradisi budaya dan keagamaan yang jauh sebelumnya sudah eksis dibanyak wilayah di Indonesia.

Artikel berjudul Pekan Muharram Karangrena dan Pesan Gus Dur ini ditulis oleh Toto Priyono, Kontributor NU Cilacap Online yang juga seorang penulis humaniora.

Editor: Naeli Rokhmah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button