Pondok Pesantren

Bayt el-Tahfidh wa Turots (BTT) “Yasmine” Kroya Diresmikan

Beberapa waktu belakangan ini, animo masyarakat untuk menghafalkan Al-Qur’an terus mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya lembaga-lembaga untuk menghafal Qur’an yang berlatar non pesantren.

Berbeda dengan pesantren yang mengharuskan santri menetap 24 jam, lembaga-lembaga tersebut lazimnya hanya mewajibkan pertemuan dengan durasi terbatas, 2 atau 3 jam dalam sekali pertemuan.

Fenomena seperti ini tentu harus direspons oleh kalangan pesantren. Jamak diketahui bahwa sebenarnya tradisi menghafalkan Al-Qur’an telah hidup selama berabad-abad di banyak pesantren Nahdliyin. Oleh karenanya, penting untuk terus merawat tradisi tersebut sembari menyesuaikan diri dengan perubahan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pada Rabu (16/12) Yayasan Miftahul Huda Kroya mendirikan sebuah lembaga baru yang dikhususkan untuk mempelajari Al-Qur’an dan mengkaji kitab bernama Bayt el Tahfidz wa Turots (BTT) Yasmine.

Lembaga ini ditujukan untuk mendampingi mereka yang berkeinginan mempelajari dan menghafal Quran dan turots, namun masih belum atau tidak memiliki kesempatan menetap di pesantren.

Dalam amanatnya, Rais Syuriyah PCNU Cilacap KH Suada Adzkiya menyatakan bahwa pendirian BTT Yasmine memiliki setidaknya dua manfaat penting.

“Manfaat pertama, adalah dalam sisi agama. Dalam agama jelas dinyatakan bahwa para penghafal Al-Qur’an memiliki posisi istimewa. Kedua, dalam sisi pendidikan, diharapkan bisa membuka peluang-peluang dalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui, banyak perguruan tinggi yang menawarkan beasiswa kepada para pengahafal Al-Qur’an.”

Terpisah, pendiri BTT Yasmine, Ibu Nyai Hj. Masfu’ah, menyatakan bahwa pada prinsipnya lembaga ini berupaya agar pengajaran Al-Qur’an dan turots dilakukan dengan metode yang diterapkan di pesantren-pesantren, yakni mengedepankan keshahihan (benar) dan bersanad, namun sekaligus mudah diadaptasikan dengan kondisi saat ini.

Lebih jauh, ibu yang juga pemilik PT Jadi Baru Group ini menyatakan, “garis besar prinsip pengajaran kami adalah mudah, benar (shahih), dan bersanad. Mudah artinya kami ingin memberikan cara belajar dan menghafal yang memudahkan dan tidak terlalu membebani anak sehingga mereka bisa membagi waktu untuk sekolah dan menghafal. Agar sama-sama jalan.”

“Benar (shahih) berarti kami mengupayakan agar yang dipelajari dan dihafal anak adalah bacaan yang sudah benar, terutama secara pelafalan (makhorijul huruf). Lebih baik agak lama tapi yang dihafalkan benar. Karena, memperbaiki bacaan ketika sudah hafal akan lebih sulit.”

“Bersanad berarti apa yang diajarkan memiliki silsilah hingga Nabi SAW. Para pengajar di sini adalah alumni pesantren tahfidz. Mereka belajar dan menghafal secara talaqi (tatap muka) di hadapan para ulama yang memiliki sanad Qur’an.”

Lebih lanjut, ibu satu putra dan dua putri ini menyatakan bahwa mempelajari dan menghafal Al-Qur’an itu penting. Tapi harus dengan cara yang benar dan dari guru-guru yang memiliki sanad. Munculnya pemahaman dan penafsiran yang ekstrem, baik yang radikal maupun liberal, salah satunya diakibatkan oleh proses belajar yang tidak shahih dan tanpa sanad.

“Seperti sering diamanatkan oleh para guru kami bahwa Al-Qur’an selain bisa merahmati juga bisa melaknati. Oleh karena itu, kami mohon doa agar apa yang kami lakukan ini tergolong yang dirahmati. Sehingga semua yang terlibat, baik guru, santri, pengurus, dan wali santri bisa mendapatkan syafa’at Quran,” pungkas ibu yang juga aktivis Muslimat ini.

Perlu diketahui bahwa para pengajar BTT Yasmine Kroya terdiri dari para alumni pesantren seperti Al-Munawir Krapyak, Sunan Pandanaran Jogja, IIQ Jakarta, Al-Huda Kebumen, dan beberapa pesantren lain.

Kontributor: Irfan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

6 + 13 =

Back to top button