Bangau Bersorban, Penipu yang Berpura-pura Saleh

NU Cilacap Online — Pernah sadar nggak, atau minimal bertanya-tanya, kenapa penipu sering kali tampil paling alim, agamis, religius, dan kalau bicara teduh, lancip, bak orang saleh. Padahal logikanya, yang jujur tidak perlu terlalu banyak gaya, gak perlu aksesoris, bermulut lamis, dan bualan. Berikut cerita Bangau bersorban, Penipu yang berpura-pura saleh.
Pola Watak Manusia
Ternyata leluhur Nusantara sudah membaca pola pada watak manusia ini ribuan tahun lalu, dan mereka meniitipkan pesannya ke relief batu agar tidak terhapus waktu.
Cerita Bangau bersorban ini terpajang pada dinding batu sebagai relief Candi Jago (Jajaghu), Desa Tumpang, Malang, Jawa Timur. Konon pahatan bergambar Bangau Bersorban merupakan peninggalan tradisi megalitik yang kemudian dilestarikan sejak era Singasari abad ke-13 hingga sekarang.
Candi Jago (Jajaghu), Desa Tumpang, Malang, Jawa Timur ini cukup terkenal karena reliefnya yang tajam, satir, dan hobi nyentil. Kisah bangau bersorban, penipu yang berpura-pura saleh, konon adaptasi cerita moral dari kitab tantri Kamandaka (Jataka).
Bangau bersorban yang berpura-pura saleh itu rupanya berhasil kelabui ikan-ikan. Bahasanya halus, tapi tamparannya membekas, begitu pedas rasanya.
Sinopsis
Berikut kisah dan ceritanya singkatnya, Ada bangau tampil alim. Pakai sorban, ngomongnya lembut, mukanya teduh, mulutnya panjang dan lancip. Katanya danau mau kering, maka ikan harus “diselamatkan”. Ikan percaya. Satu diangkut, bangau melahap! Dua diangkut bangau melahap! Tiga, Empat, Lima hingga ikan di danau itu habis bis. Tinggallah kepiting yang juga mau dilahapnya.
Sampai akhirnya kepiting tahu. Sorban aman, topeng jatuh. Kepiting mencekik Bangau pun mati.
Kenapa harus bersorban? Nah ini, Sorban itu konon sebagai identitas orang alim, padahal itu dipakai bangsa mana? Jelas beda bentuk sama blangkon, iket, songkok, peci kan?
Kisah dalam Kitab Tantri Kamandaka
Dikisahkan dari Kitab Tantri Kamandaka, di sebuah danau yang indah bernama Malini, diketahui danau adalah habitatnya para ikan, ada seekor bangau yang punya hasrat besar untuk memakan semua ikan. Bangau pun mencari akal agar keinginannnya tercapai.
Bangau pun selalu patroli di tepi danau Malini itu, dan didekati oleh seekor ikan yang bertanya mengapa ia sekarang berubah sifat dan tidak mau memakan ikan lagi. Bangau pun menjawab bahwa ia telah bertemu dengan seorang suci yang memberinya pelajaran tentang buruknya membunuh sesama.
Di lain hari bangau itu telah bersorban, kembali di tepian danau sambil menangis, ikan pun bertanya apa yang membuatnya menangis? Bangau pun menjawab bahwa ia mendengar percakapan nelayan yang akan menangkap habis semua ikan yang ada di danau tersebut. Ikan pun takut dan meminta perlindungan kepada Sang Bangau.
Bangau pun menyanggupi untuk menolong para ikan dengan memindahkan mereka ke sebuah danau lain yang bernama Andawahana, tempat mereka akan hidup aman dan tidak akan ada lagi yang mengganggu.
Maka mulailah Sang Bangau memindahkan para ikan itu dengan membawa mereka dengan paruhnya ke danau baru, namun para ikan itu tidak dibawa ke danau melainkan dimakan di sebuah batu di bukit.
Lama kelamaan maka habislah ikan di danau Malini, tinggal seekor kepiting di sana. Kepiting itu pun meminta untuk turut dipindahkan ke danau Andawahana agar dapat berkumpul kembali dengan para ikan sahabatnya.
Bangau pun setuju untuk membawa Kepiting ke sana, lalu Bangau pun membawa Kepiting dengan berpegangan pada leher Sang Bangau.
Ketika Kepiting akan diletakkan di batu, dilihatnya banyak sekali duri ikan, jejak para ikan yang dimakan oleh Sang Bangau selama ini.
Tahulah Sang Kepiting bahwa bangau telah menipu para ikan dengan memakan ikan-ikan tersebut. Oleh karena itu, Kepiting meminta kepada Sang Bangau untuk dikembalikan ke danau Malini atau dia akan menjepit leher Sang Bangau sampai putus.
Bangau yang ketakutan segera membawa Kepiting kembali ke danau Malini. Sesampainya di sana, Kepiting meminta untuk diturunkan ke tempat yang lebih dalam lagi. Sang Bangau menurut namun sesampainya di tempat yang dalam, Kepiting menjepit leher Sang Bangau hingga matilah Bangau.
Pesan Universal
Pesannya universal dalam cerita bangau bersorban ini, pertama, jangan percaya iman yang cuma tampil di kostum.
Kedua, Leluhur kita paham, kesalehan bisa dipentaskan, simbol bisa dijadikan jualan. Jadi iman tanpa nalar adalah diskon besar buat penipu.
Ketiga, Bangau bersorban hari ini bisa muncul sebagai: tokoh bermoral di mimbar, figur spiritual full branding, pejabat dengan jargon religius, influencer sales sok beriman (air doa), imigran Yaman yang ngaku cucu nabi. Bajunya bisa menipu. Modusnya sama. Makanya relief ini bukan nyerang iman, tapi mengingatkan kewarasan.
Modus pura-pura, tipa-tipu sudah ada sejak jaman kuno. Dan bukan karena leluhur kita peramal masa depan, akan tetapi membaca pola manusia.
Leluhur kita itu jeli. Mereka sadar satu hal sederhana yakni watak manusia relatif tetap. Yang berubah cuma kostum zamannya.
Simbol, Sindiran Halus
Di era dulu, modus pakai simbol suci untuk kuasai yang polos-polos sudah ada dan berlangsung. Makanya dititipkan lewat cerita, relief, sindiran halus, bukan ramalan, tapi peringatan pola. Ibaratnya Teknologi boleh upgrade, tapi nafsu kuasa dan tipu daya, versi lama yang terus di-update.
Jadi ketika hari ini kita merasa “kok mirip ya?”,
itu bukan karena leluhur cenayang, tapi karena manusia sering lupa belajar dari pola yang sama.
Pesan ini mengapa dititipkan ke batu, jadi relief, ya biar awet. nggak bisa dihapus sampai ratusan, bahkan ribuan tahun kemudian.
Jadi Intinya? Bukan ajakan untuk “jangan beragama”. Bukan juga “jangan percaya ajaran” Tapi uji laku, bukan rupa. Uji nilai dan isi, bukan atribut. Nalar jalan, welas asih menyala.
Relief bangau bersorban bukan dongeng kosong.
Tapi jadi alarm halus yaitu iman matang selalu barengan dengan akal sehat.
Kalau pun anda hidup di zaman relief saat batu dipahat, kala Candi Jago dibangun, anda kira-kira yang mana? ikan yang nanya dulu, atau ikan yg langsung daftar “diselamatkan”? Atau ikan mujahir yang bilang, “santai bang, gue digoreng juga eunak…auw…auw,” (IHA)





