Badan Otonom NUMWCNU

MWCNU Kroya Membedah “Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan”

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kroya dan Badan Otonom NU menggelar Bedah Buku “Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan” bersama Penulis Nadhief Shidqi di Gedung MWCNU Kroya pada Rabu sore (5/1). Meskipun bedah buku Banser namun justru Muslimat dan Fatayat mendominasi forum ini. Selain itu hadir pula sahabat Ansor, Banser, IPNU IPPNU, hingga tetangga sebelah, Banom NU Binangun juga turut hadir.

Dalam kesempatan ini Gus Nadhief didampingi oleh tiga pembedah bukunya. Dosen UNUGHA Cilacap yang juga Ketua Lakpesdam Cilacap, Fahrurrozi, kemudian Dosen UIN Walisongo Semarang, Ismail Marzuki serta Ketua MWCNU Kroya, Fatkhudin yang dipandu oleh moderator Chanifur Rohman.

Rais MWCNU Kroya, KH Maskun Karim dalam sambutannya mengapresiasi Bedah Buku ini, ia mengingat bagaimana kondisi Banser dulu.

“Dulu banser sangat diremehkan dan minder tampil di depan publik. Saat ini sudah berbeda saya kira, Gus Nadif melalui bukunya akan membedah sosok Banser yang luar biasa. Bagaimana mereka membela dan menjadi tameng Nahdlatul Ulama. Semoga Banser dan NU tetap berjaya sampai yaumul qiyamah,” pungkasnya.

Kisah Humor dan Keluguan Banser

Gus Nadhief yang juga Pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor merasa bangga bisa berjumpa dengan kader NU Kroya dalam roadshow Bedah Buku “Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan” ini. Mulai dari Yogyakarta, Banjarnegara, Banyumas, Wonosobo, Pengandaran hingga berada di Kroya.

“Apa yang saya rasakan ini tidak mungkin saya lupakan seumur hidup. Orang-orang dan tempatnya mungkin saya akan lupa, tapi tidak dengan suasana dan pengalamannya. Semoga ini wasilah bagi saya dan sahabat semua untuk nanti menghadap allah, dan berkumpul di surganya Allah,”

Gus Nadhif Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan
Gus Nadhief Shidqi, Penulis Buku “Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan” dan Pengurus PP GP Ansor

“Terinspirasi dari kisah semut yang menggotong sebutir air, mereka ingin memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as. Meskipun mustahil tapi semut ingin menunjukkan tempat kemana ia berpihak. Tidak mungkin mengubah cara pandang orang awam terhadap Ansor dan Banser, lebih luasnya terhadap NU. Saya ingin menunjukkan pada pihak mana saya berada,” lanjutnya.

“Saya menulis buku ini dalam rangka ikhtiar bersama, mewujudkan cita-cita bahwa NU ke depan tidak perlu lagi memikirkan hal-hal kecil. Syekh Ali Akbar Marbun pada 1 Januari di Krapyak dalam acara tasyakuran terpilihnya KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Yahya sebagai Ketua PBNU. Beliau berkata bahwa NU untuk ke depan sudah tidak boleh lagi mengurusi hal-hal kecil, mulai memikirkan peradaban dunia, serta kehidupan berbangsa dan bernegara,”

Cendekiawan Kroya

Gus Rozi menemukan beberapa poin yang menarik dari buku Gus Nadhif tentang Banser ini.

Hidup itu lucu, yang tidak lucu adalah tafsirannya. “Tafsir itu liar, bisa positif bisa negatif. Tinggal bagaimana kenyataan yang akan membuktikan. Banyak makna tersirat bahwa Banser itu luar biasa, sami’na wa ato’na atas perintah kiai. Menunjukkan kecerdasan intelektual dan spiritual Banser tanpa kehilangan kenakalannya,” ungkapnya.

Buku ini menggambarkan sosok Banser yang ikhlas dan cerdas dengan tidak kehilangan rasa humornya.

“Saya mengapresiasinya karena buku ini mengangkat segala spektrum kehidupan Banser,” pungkasnya.

Kisah-Kisah Banser Yang Mendebarkan Gus Rozi Kroya
Potret Fahrur Rozi bersama Ismail Marzuki

Selanjutnya pembedah kedua, Ismail Marzuki sedari awal membaca judul bukunya membayangkan cerita mendebarkan Banser Riyanto yang gugur pada Malam Natal saat menjaga Gereja. Namun, ternyata lain cerita ketika sudah membaca isi bukunya.

“Memang benar pepatah yang mengatakan don’t judge book by its cover, saya sempat tertipu. Buku ini isinya humor, ciri khas pesantren yang termasuk tradisi NU,” katanya.

Menurutnya sebagai seorang akademisi, hal ini penting untuk dilakukan, perlunya memotret Banser dari sisi manusiawi.

“Kisah-kisah Banser yang menggelitik sebagai bagian dari tradisi humor Nahdliyin yang tidak bisa dipisahkan. Humor menjadi penting dalam situasi hari ini. Salah satu akar masalah sumbu pendek karena kekurangan sense humor,” lanjutnya.

NU hari ini harus memiliki pemikiran yang mengglobal. Sebab kemunculan NU tidak hanya lokal di Indonesia, tapi juga ada peristiwa dunia yang mengiringinya. Salah satunya jatuhnya kekuasaan Turki Utsmani.

“Erat kaitannya dengan NU, kita tidak bisa menutup mata bahwa yang terjadi di belahan dunia bagian lain terkait dengan NU. Kemudian hal ini kita sikapi dengan taktis dan baca dengan cerdas,” pungkas Kang Ismail.

Senada dengan kedua pembedah sebelumnya, Fatkhudin membaca buku ini berada di luar ekspektasinya. Isinya penuh dengan kisah-kisah Banser yang humoris serta lugu. Ketua MWCNU Kroya ini juga sempat membacakan satu kisah Banser Batal Puasa dalam buku tersebut.

Tak panjang ia berkomentar, mengingat Indonesia dalam minat membaca menempati urutan ke-62 dari 63 negara di dunia, maka ia berpesan untuk terus meningkatkan budaya literasi.

“Budaya literasi harus dikembangkan oleh generasi muda Nahdlatul Ulama, agar ada pencerahan bagi kaum muda,” pungkasnya.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × 4 =

Back to top button