Melawan ‘Marriage Phobia’; Ketika Para Daiyah NU Pasang Badan Jadi Konselor Keluarga

NU CILACAP ONLINE – Fenomena marriage phobia dan turunnya angka pernikahan di kalangan anak muda ternyata membuat para daiyah Fatayat NU Jawa Tengah gerak cepat. Alih-alih ceramah di atas panggung, puluhan mubalighot dan pengurus Lembaga Konsultasi Penguatan Peran Perempuan dan Anak (LKP3A) justru berkumpul di Hotel Grasia Semarang, Ahad (13/9/2026), buat “siram bensin” semangat lewat pelatihan konseling keluarga.
Acara yang digarap bersama Kementerian Agama (Kemenag) ini memang dirancang praktis. Fokus utamanya adalah melatih para daiyah supaya siap jadi tempat curhat sekaligus konselor andal di daerahnya masing-masing.
Bukan Cuma Sakinah, Tapi Harus Maslahat
Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Hj. Tazkiyatun Mutmainnah atau yang akrab disapa Mbak Iin menyentil langsung fenomena anak muda yang makin skeptis terhadap pernikahan. Hal ini dipicu oleh trauma melihat hubungan orang dewasa di sekitar mereka yang kurang harmonis.
Mbak Iin menegaskan, konsep sakinah, mawaddah, warahmah udah saatnya ditambah satu poin krusial, ‘wal maslahah’. Pernikahan, menurutnya, nggak boleh jadi alasan buat mematikan potensi perempuan. Baca juga Media Digital Penunjang Layanan Bimbingan Konseling
“Pernikahan idealnya tidak menghentikan kiprah perempuan di organisasi maupun masyarakat,” tegas Mbak Iin di hadapan para peserta.
Demi memperkuat amunisi para peserta, pelatihan ini menghadirkan dua psikolog ternama, Dr. Nailul Fauziah dan Dr. Salma. Harapannya, para daiyah nggak cuma nunggu ajakan pemerintah, tapi bisa langsung tancap gas merespons tingginya data perceraian dan kekerasan domestik di kabupaten/kota masing-masing. Baca juga Pelantikan Bersama IHF, FORDAF, GARFA dan LKP3A
Menembus Masa Kritis 5 Tahun Pertama
Hadir dalam acara tersebut, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Abu Rohmat, menyebutkan kalau 5 tahun pertama pernikahan adalah fase paling rawan.
“Untuk itu, Kemenag makin menggandeng Fatayat NU dalam program Bimbingan Perkawinan (Binwin). Paradigma yang diusung pun bergeser ke mu’asyarah bil ma’ruf—suami dan istri adalah mitra seimbang, bukan atasan dan bawahan,” ujar Prof Abu.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag Jateng, Saiful Mujab, melihat majelis taklim dan pengajian rutin perlu diberi “nutrisi” baru. “Jangan cuma ritual ajeg, tapi diisi juga dengan fikih praktis sampai pembahasan pemberdayaan ekonomi. Misal hari ini membahas toharoh, besok bahas mawaris,” kata Prof Abu.
Menanggapi tren anak muda yang suka menunda nikah sampai usia 30-an karena hitung-hitungan ekonomi, Saiful mengajak para kader Fatayat buat masuk ke ruang-ruang santai.
“Kemenag Jateng buka ruang kolaborasi seluas-luasnya, termasuk bikin diskusi di KUA sampai kafe tempat anak muda nongkrong,” pungkasnya





