Panggung Dunia Untuk Timnas

NU CILACAP ONLINE -Judul tulisan di atas, terkesan hiperbolis. Tetapi bukan Indonesia, kalau tidak bisa membuat kalimat glorifikasi dan drama. Sebab memang negara kita adalah negara yang kaya akan budaya,, termasuk dalam hal bahasa. Tapi itu pasti nyata juga. Resonansi euforia kemenangan Timnas Indonesia pada laga final Fifa Asean games di Stadion Gelora Bung Karno, Senin 5 Oktober 2026, pasti bergetar hebat di hampir banyak negara, bahkan dunia.
Pertama, ini adalah gelaran event resmi pertama yang diselenggarakan oleh FIFA. Berbeda dengan piala Tiger, dahulu, atau AFF, FIFA Asean games merupakan agenda resmi yang tercatat di FIFA, federasi sepak bola dunia, sehingga Presiden FIFA pun hadir menyaksikan secara langsung laga final tersebut. Bahkan bersama Ketua PSSI, beliau membawa langsung Piala kemenangan untuk dipersiapkan diberikan pada pesta kemenangan.
Kedua, laga Timnas kita melawan Thailand merupakan laga musuh bebuyutan. Dalam catatan statistik, Timnas kita 13 kali menang, 3 kali seri dan 19 kali kalah. Jadi secara head to head, kita masih kalah dengan Thailand. Dengan kemenangan tadi malam, tentu akan memperbaiki statistik Timnas kita.
Ketiga, pembuktian John Hardman. Sejak melatih Timnas, kita dibuat ketar ketir dengan performa Timnas. Kita melihat hampir tidak ada determinasi di semua lini. Tidak hanya di event ini. Bahkan dalam penentuan menuju final, pertandingan terjadi secara dramatis. Lini pertahanan kita sering kecolongan.
Kita bisa melihat waktu melawan Bangladesh dan ketika sudah unggul 1-0 dengan Thailand, dalam hitungan menit, Timnas kebobolan. Sehingga kedudukan menjadi 1-1. Kemudian terjadi kecerobohan lagi. Seorang pemain gelandang terlalu lama pegang bola. Padahal di belakang tersisa satu pemain. Akhirnya skor menjadi 2-1. Elkan Baghot akhirnya memperpanjang nafas Timnas. Crosing dari Rizky Ridlo tidak tertangkap secara sempurna oleh kiper Thailand, dan jatuh di kaki Elkhan, yang melakukan tendangan voley. Baca juga Membangun Kedaulatan Sepak Bola Indonesia
Melalui drama adu pinalti pada akhirnya Timnas juara.
Keempat, Timnas Indonesia, bukan hanya representasi dari Indonesia. Bukan. Timnas Indonesia adalah representasi dari banyak kelompok idiologis atau pun kepentingan, dan geografis.
Emil Audero dan Jay Ijes, mewakili publik Italia. Sebagian kecil masyarakat Spayol, terutama pendukung Rayo Vallecano, pasti bangga sama kiper mereka yang main di Timnas Indonesia. Van Dick, adalah punggawa Borusia Glabah yang tentu saja, resonansi kebanggaannya sampai di sana. Verdonk, bermain di Lille, Perancis. Di sana para penggemarnya pasti ikut bangga. Mitch dan Veccery, mewakili publik Australia. Ada juga yang berasal dari Hawai.
Publik Belanda, pasti tak perlu diragukan. Sebab mayoritas pemain Timnas adalah bermain di Belanda, dan keturunan orang Belanda. Nathan, bermain di Williem. Martin Paes, di Ajak. Ole Romeney, Justin Hubner, juga bermain di liga Belanda. Seluruh diaspora Indonesia yang ada di seluruh dunia, pasti terwakili oleh Timnas. Terdapat faktor proximity yang membuat gelora euforia kemenangan berresonansj bergetar di berbagai belahan dunia.
Kelima, Timnas sudah lama puasa gelar. Terutama Timnas Senior. Jadi gelar juara FIFA Asen Games ini ibarat oase di tengah gurun pasir. Dahaga gelar terobati sudah. Semua bangsa berbahagia, dan mencatat dengan tinta emas perjuangan Timnas. Anak-anak Indonesia.
Walau sebagian besar adalah keturunan, tetapi itu tidak melunturkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Mereka boleh jadi, darah dan gen Indonesianya sedikit. Mereka boleh jadi, tidak banyak makan dan minum dari tanah Indonesia. Tetapi mereka mewarisi semangat patriotik dari ayah, ibu, atau bahkan kakek buyut mereka. Sudah sepatutnya kita pun harus ANGKAT TOPI dan apresiasi mendalam atas kehormatan bangsa yang mereka perjuangkan di PANGGUNG DUNIA.
Penulis: Toufik Imtikhani
Editor: Naeli Rokhmah





