Ingin Tetap Cantik di Usia Emas? Simak Tips dr Atingul Ma’rifah

NU CILACAP ONLINE – Seberapa penting memakai skincare bagi perempuan? Jawabannya tergantung tuntutan. Inilah satu point diskusi yang menarik pada seminar Kesehatan Perempuan yang megangkat tema The Essence of Beauty; Sinergi Skincare, Mindset, dan Nutrisi untuk Perempuan Usia Emas”.
Usia emas adalah masa produktif (30-an tahun). Ini Merujuk pada usia di atas 35 tahun, di mana wanita dianggap mencapai kedewasaan emosional dan stabilitas. Selain itu, usia 30-an sering disebut usia emas untuk melahirkan anak yang lebih cerdas.
“Biasanya orang yang memiliki tuntutan tinggi untuk goodlooking, maka akan menganggap sangat penting. Tapi ada yang menganggap tidak begitu penting seperti ibu-ibu yang hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak begitu banyak bertemu orang selain keluarga,” papar dr. Atingul Ma’rifah pada acara yang dinisiasi Pimpinan Cabang Fatayat NU Cilacap, Ahad (26/04/2026).
Seminar yang berlangsung di Aula Gedung Pusdiklat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap ini adalah rangkaian kegiatan bertajuk ‘Fatayat Impact Days 2026’ dalam rangka memperingatu Harlah Fatayat NU ke-76 dan Hari Kartini.
Investasi Jangka Panjang
Di hadapan peserta seminar, dr. Atingul menuebut Skincare sebagai bentuk investasi diri. Ada beberapa orang menganggap saya tidak boleh ada flek, ini bentuk investasi jangka panjang.
“Skincare adalah merawat kecantikan jangka panjang. Jika saat muda memakai skincare mengandung retinol maka saat umur 50 tahun ke atas akan sedikit peluang mengalami kerutan,” ujar dr. Ati.
Dalam perspektif yang lebih luas, dr. Atingul memaparkan bahwa merawat kulit bukan sekadar mengikuti tren kecantikan yang konsumtif. Ia menyebutnya sebagai bentuk investasi diri dan manajemen waktu yang bijak.
“Skincare itu pada dasarnya adalah manajemen waktu. Mencegah itu jauh lebih mudah dan murah daripada mengobati,” tuturnya.
Ia mencontohkan penggunaan tabir surya (sunscreen) sebagai langkah sederhana namun vital untuk mencegah flek hitam di masa tua. Baginya, meluangkan waktu sejenak di pagi hari untuk merawat diri adalah bentuk penghargaan terhadap anugerah fisik yang diberikan Allah SWT.
Kenali Jenis Kulit
Namun demikian, dr. Atingul mengingatkan agar perempuan tidak terjebak pada penggunaan produk secara serampangan. Langkah pertama yang paling krusial adalah mengenali jenis kulit masing-masing. Apakah cenderung berminyak, kering, sensitif, atau kombinasi.
Setiap kondisi kulit memerlukan perlakuan yang berbeda. Kulit kering membutuhkan hidrasi seperti Ceramide dan Hyaluronic Acid, sementara kulit berminyak membutuhkan kontrol melalui Salicylic Acid atau Niacinamide. “Skincare itu sangat personal. Apa yang cocok di kulit orang lain, belum tentu maslahat di kulit kita,” tambahnya.
Sinergi Nutrisi dan Pola Hidup Sehat
Tak berhenti di perawatan luar, kesehatan kulit sangat ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh tubuh. Dr. Atingul menekankan pentingnya menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT) agar tetap ideal. Di usia emas, metabolisme tubuh cenderung melambat, sehingga pengaturan pola makan menjadi kunci.
Ada berbagai metode diet yang bisa dipilih, mulai dari Diet Mediterania yang kaya serat hingga Intermittent Fasting yang mengatur durasi makan. “Intinya adalah keseimbangan. Kulit yang sehat adalah cerminan dari tubuh yang ternutrisi dengan baik,” jelasnya.
Menutup pemaparannya, dr. Atingul menegaskan bahwa sinergi antara skincare, nutrisi, dan pola pikir yang positif (mindset) adalah kunci kecantikan hakiki. Perempuan yang berdaya adalah mereka yang mampu merawat dirinya dengan baik, lahir maupun batin.
“Kecantikan sejati itu tidak hanya terlihat dari kerutan yang berkurang, tapi dari pancaran ketenangan dan kesehatan yang dirasakan sepanjang hidup,” pungkasnya.
Penulis: Naeli Rokhmah





