USG Abdomen, Deteksi Dini Gangguan Organ Perut

NU CILACAP ONLINE – Ada gangguan di perut? Jangan anggap enteng, bisa jadi gejala penyakit yang menyerang organ yang ada di rongga perut seperti batu ginjal, hepatitis, atau kista. Inilah alasan mendasar berlangsungnya pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen hari ini di Gedung Pusdiklat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap, Ahad (24/08/2025).
PCNU Cilacap melalui Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bekerjasama dengan Perhimpunan Ahli Radiografer Indonesia (PARI) Cabang Cilacap dan Poltekes Jakarta II menggelar Pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen untuk warga nahdliyin di lingkungan Kabupaten Cilacap.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen merupakan prosedur pencitraan yang dilakukan untuk mendiagnosis penyakit seperti batu empedu, batu ginjal, aneurisma aorta abdominalis, neoplasma hepar, dan karsinoma pankreas.
Pemeriksaan ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk menghasilkan gambaran organ-organ di dalam rongga abdomen tanpa bersifat invasif.
Mewakili Poltekes, Puji Supriyono, SKM, S.ST, S.Tr.Rad, MH.K, menuturkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi wahana pengabdian institusi kepada masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada PCNU Cilacap yang telah memberi kesempatan kepada Poltekkes Jakarta untuk berkontribusi langsung melalui layanan kesehatan bagi masyarakat,” ungkap dosesn jurusan Teknik Radiologi Pencitraan ini.
USG Abdomen Deteksi Dini PTM
Puji mengungkap pentingnya USG Abdomen untuk profiling kesehatan masyarakat, terutama deteksi penyakit tidak menular (PTM) seperti gangguan hati (hepatitis) dan ginjal. Puji mengungkap penyakit semacam ini dipicu oleh perilaku hidup.
“Penyakit ini muncul bukan dalam waktu sehari atau dua hari. Tapi bertahun-tahun dari perilaku hidup yang tidak sehat. Dari pola makan, kemudian higienis pribadi,” katanya.
Menjaga pola makan menurut Puji sangat membantu dalam limitasi penyakit tidak menular. Seperti mengurangi konsumsi lemak dan juga gula aktif. Begitu juga dengan kebersihan pribadi dan lingkungan.
“Kurangi konsumsi lemak untuk mengurangi resiko gangguan pada metabolisme tubuh, yang dapat mengarah pada masalah kesehatan seperti resistensi insulin, obesitas, dan masalah hormonal. Hal ini juga bisa dipicu oleh konsumsi gula berlebih. Makanya jangan terlalu banyak konsumsi gula, karena tubuh kita sendiri sebenarnya sudah manis,” ujar Puji sedikit berkelakar.
“Apabila merasakan gejala pada area perut seperti mual-mual, sakit berkepanjangan itu perlu diwaspadai. Dikira asam lambung, bisa jadi gangguan liver, sakit punggung yang terus menerus, bisa jadi gangguan pada ginjal,” sambungnya.

Dengan deteksi dini menurut Puji akan sangat membantu pada penanganan agar gejala penyakit tidak semakin parah.
Cilacap Bebas TBC
Tidak hanya USG Abdomen, pada kesempatan tersebut juga digelar screening kesehatan umum untuk deteksi dini penyakit gula darah dan kondisi fisik. Selain itu juga ada pos Rontgen toraks untuk deteksi dini penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC).
Screening kesehatan hari ini sekaligus sebagai acuan peta kesehatan di wilayah Kabupaten Cilacap.
“Dengan hasil pemeriksaan hari ini bisa dijadikan acuan kondisi kesehatan pada wilayah tertentu sehingga bisa memudahkan untuk pengendalian persebaran penyakit agar tidak menyerang warga lainnya,” kata Puji.
Ketua PARI Cabang Cilacap, Imam Nawanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian profesi radiografer terhadap kesehatan masyarakat.
“Hari ini kami melakukan pengabdian masyarakat dengan screening USG gratis dan foto rontgen gratis dalam rangka penanggulangan TBC. Kehadiran PARI di Cilacap diharapkan dapat memberi manfaat nyata dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju hidup sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LKNU Cilacap, H. Hudaefah, menyambut baik inisiasi PARI Cilacap yang didukung oleh Poltekkes Jakarta.
“PCNU Cilacap melalui LKNU sangat mengapresiasi kegiatan ini. Screening kesehatan, USG abdomen, dan rontgen toraks sangat sinkron dengan program kesehatan yang kami jalankan, sekaligus mendukung target pembangunan kesehatan di Kabupaten Cilacap, khususnya deteksi dini TBC. Harapan kami, Cilacap bisa bebas TBC pada tahun 2029,” tegasnya. (Naeli Rokhmah)





