Taushiyah

Pesan MWCNU dan Camat Binangun untuk Fatayat NU Terlantik

Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Camat Binangun memberikan pesan khusus kepada Fatayat NU terlantik se Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap, Ahad (20/03/2022).

Sekretaris MWCNU Binangun Syaefurrohman dalam sambutannya mengungkapan rasa bangga dan memberikan apresiasi atas terlantiknya 17 Pimpinan Ranting dan 5 Pimpinan Anak Ranting Fatayat NU Se- Kecamatan Binangun.

Syaefurrohman mengatakan, baru kali ini dalam sejarah Fatayat NU Binangun, pelantikannya lengkap dari seluruh Pimpinan Ranting dilantik; juga ditambah 5 Pimpinan Anak Ranting Desa Pasuruhan. Ke depan, setiap Desa bisa membentuk kepengurusan di tiap Anak Ranting.

“Secara kuantitas Fatayat NU di Kecamatan Binangun terbilang banyak. Terbukti tiap kali kegiatan yang selalu muncul dan ikut andil di dalamnya adalah Fatayat NU. Untuk itu, selaku pengurus MWCNU Binangun, saya memberikan pesan; jadikan kekuatan untuk eksis dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU),” kata Syaefurrohman

Ketika menjadi pengurus jangan egois, kata Syaefurrohman melanjutkan pesannya. Menjadi pengurus harus bisa menerima masukkan dari anggotanya.

“Segala macam penyakit organisasi egois, suka menang sendiri dan lainnya hendaknya dihilangkan agar Fatayat NU semakin maju dalam berkhidmat. Kemudian untuk tetap selalu diingat; bahwa sesuatu yang baik tanpa aturan dan terorganisir, akan dikalahkan oleh yang buruk yang terorganisir,” pesan Syaefurrohman meyakinkan.

Pesan Camat Binangun

Sementara itu, Camat Binangun Nurindra Wahyu Wibawa, S. Sos. M.Si yang hadir pada acara plantikan Fatayat NU se Kecamatan Binangun, juga menyampaikan beberapa pesan.

Camat Nurindra mengingatkan pentingnya bekerjasama dan berkomitmen untuk menjadi lebih produktif, berinovasi, dan berjalan dengan keseriusan dan keikhlasan.

“Dalam berorganisasi, hendaknya berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Pentingnya bekerjasama dalam berorganisasi menjadi kuncinya, karena ketika kita bekerjasama maka semua dapat terorganisir,” katanya.

Dalam berorganisasi, lanjut Camat Binangun, orang yang mengatur harus punya sifat kepemimpinan harus mampu menjalankan kepemimpinannya dengan baik, bisa mengambil keputusan dengan cara berkomunikasi dengan yang lainnya. Secara khusus, Camat Binangun Nurindra Wahyu Wibawa menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada pimpinan Fatayat NU terlantik.

“Semoga seluruh pimpinan Fatayat NU dan para anggotanya, bisa memberi manfaat bagi masyarakat; khususnya di Kecamatan Binangun,” katanya.

Dalam rangkaian pelantikan Fatayat NU se Kecamatan Binangun; juga hadir Rais Syuriyah MWCNU Binangun, Kiai Fathul Hidayat dan memberikan taushiyah serta penguatan Aswaja.

Kiai Fathul Hidayat menjelaskan beberapa hal ketika seseorang hendak menjadi pengurus maupun anggota. Menurutnya; pertama, hendaknya senang bersilaturrahim dengan kesepuhan baik ditingkatan Anak Ranting, Ranting, Anak Cabang maupun Cabang.

“Silaturahmi merupakan cara terbaik untuk mewujudkan sinergitas dalam organisasi. dan menjadikannya semakin kuat,” katanya

Kedua, lanjut Kiai Fathul Hidayat, senang berkumpul dengan orang-orang yang sholih agar bisa kecipratan barokahnya para Kai, Alim dan Ulama. Kemudian yang ketiga, mengamalkan dan melestarikan tradisi amaliyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan senang mujahadah dan amalan lainnya.

Baca juga: Fatayat NU Cilacap, Organisasi Perempuan Pemudi NU 

Tirakat Fatayat NU

Secara lebih rinci, sebagai Pengurus MWCNU Binangun, Kiai Fathul Hidayat memberikan pesan kepada Fatayat NU tentang pentingnya tirakat.

“Sebagai perempuan, Ibu, dan orang tua, para pimpinan dan anggota Fatayat NU juga harus berusaha dengan berbagai cara untuk melahirkan dan membentuk prinadi anak dan genenrasi yang sholih dan sholihah. Dan itu bisa ditempuh dengan beberapa macm tirakat.” ungkap Kiai Fathul Hidayat yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Sidayu, Binangun, Cilacap.

Kiai Fathul Hidayat memberikan 4 laku tirakat untuk Fatayat NU Binangun. Pertama, beri anak-anak dengan harta yang halal, anak jangan sampai diberi harta yang masih remang-remang kehalalannya, apalagi yang haram; itu sangat dilarang.

Kedua, berpuasa di hari kelahiran anak walaupun hanya sebulan sekali; ketiga, menjaga lisan, artinya orang tua selain menjaga lisan kepada anakknya, juga jangan sampai orang tua meng-ghibah, mencaci atau menghina orang lain, terlebih kepada guru anaknya, walaupun guru itu di hadapan manusia terlihat biasa.

Kemudian yang ke empat, setiap ibu mencuci beras yang akan dimakan anaknya, hendaknya beras itu dibacakan basmalah dua puluh satu (21) kali dan sholawat 11 (sebelas) kali.

Sebagai Rais Syuriyah, Kiai Fathul Hidayat juga berharap kepada Fatayat NU Binangun; agar senantiasa membantu program-program dan kegiatan oleh MWCNU Binangun; juga tetap bersinergi dengan Banom NU lainnya ketika mengadakan kegiatan.

Baca Juga >> Berpegang Pada Prinsip : Taushiyah Harlah Fatayat NU

Kontributor  : Fathin Amamah
Editor: Khayaturrohman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button