Badan Otonom NU

Fatayat NU Cilacap, Organisasi Perempuan Pemudi NU » NUCOM

Fatayat NU Cilacap: Fatayat Nahdlatul Ulama disingkat Fatayat NU adalah Badan Otonom untuk anggota perempuan (pemudi) muda Nahdlatul Ulama yang berusia maksimal 40 (empat puluh) tahun.

Apa itu Fatayat NU ?

FATAYAT NU adalah sebuah organisasi pemudi (wanita muda) Islam merupakan salah satu Badan Otonom di lingkungan Nahdatul Ulama.

Kapan Fatayat NU diridikan? Fatayat Nahdlatul Ulaman didirikan di Surabaya, 24 April 1950 M, bertepatan dengan 7 Rajab 1317 H.

Apa yang menjadi dasar asar perjuangan Fatayat NU? Fatayat Nahdlatul Ulama mendasari perjuangan pada ayat berikut ini; “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” ( Q.S 3:104 )

Berdirinya Fatayat NU tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi induknya, dan sejarah Indonesia sebagai tanah airnya.

Sejarah Berdirinya Fatayat NU

NU memang dikenal sebagai organisasi Muslim tradisional dan sejak awal anggotanya adalah laki-laki. Namun demikian, pemimpin NU sejak awal telah merespon isu-isu perempuan secara progresif. KH. Wahid Hasyim yang merupakan putera KH. Hasyim Asy’ari misalnya pernah membolehkan perempuan menjadi seorang hakim.

Isu perempuan semakin mendapatkan perhatian ketika Kiai Dahlan mengusulkan berdirinya organisasi perempuan NU di Kongres NU ke XIII di Menes Banten pada tanggal 11-16 Juni 1938. Kongres ini sangat penting karena mulai membicarakan tentang perlunya perempuan mendapatkan kesamaan hak untuk mendapatkan didikan agama melalui NU.

Ketika itu kongres baru menyetujui perempuan untuk menjadi anggota NU yang hanya bisa menjadi pendengar dan pengikut dan tidak boleh duduk dalam kepengurusan. Perkembangan penting kembali terjadi pada kongres NU ke XV di Surabaya pada tanggal 5-9 Desember 1940. Ketika itu, terjadi perdebatan sengit merespon usulan agar anggota perempuan NU mempunyai struktur pengurusnya sendiri di dalam NU.

Kiai Dahlan termasuk mereka yang gigih memperjuangkan agar usulan tersebut diterima. Hingga sehari sebelum kongres berakhir, peserta tidak mampu memutuskan hingga akhirnya disepakati untuk menyerahkan keputusan akhirnya pada Pengurus Besar Syuriah NU.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kiai Dahlan untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis dari KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Setelah didapatkan, maka peserta kongres pun dengan mudah menyetujui perlunya anggota perempuan NU untuk memiliki struktur kepengurusannya sendiri di dalam NU.

Baca Artikel Terkait

Pada Kongres NU ke-XVI di Purwokerto tanggal 29 Maret 1946, struktur kepengurusan anggota perempuan NU disahkan dan diresmikan sebagai bagian dari NU. Namanya ketika itu adalah Nahdhlatul Ulama Muslimat yang disingkat NUM. Ketua pertama terpilihnya adalah Ibu Chadidjah Dahlan dari Pasuruan yang tak lain adalah isteri Kiai Dahlan.

Kebangkitan Perempuan NU

Kebangkitan perempuan NU juga membakar semangat kalangan perempuan muda NU yang dipelopori oleh tiga serangkai, yaitu Murthasiyah (Surabaya), Khuzaimah Mansur (Gresik), dan Aminah (Sidoarjo). Pada Kongres  NU ke XV tahun 1940 di Surabaya, juga hadir puteri-puteri NU dari berbagai cabang yang mengadakan pertemuan sendiri yang menyepakati dibentuknya Puteri Nahdlatul Ulama Muslimat (Puteri NUM).

Mereka sebetulnya sudah mengajukan kepada Kongres NU agar disahkan sebagai organisasi yang berdiri sendiri di dalam NU, namun Kongres hanya menyetujui Puteri NUM sebagai bagian dari NUM. Dalam dua tahun, Puteri NUM meminta agar mempunyai Pimpinan Pusatnya sendiri yang terpisah dari NUM karena organisasi Puteri NUM di tingkat Cabang terus bertambah.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemudian menyetujui pembentukan Pengurus Pusat Puteri NUM yang diberi nama Dewan Pimpinan Fatayat NU pada tanggal 26 Rabiul Akhir 1939/14 Februari 1950.

Selanjutnya Kongres NU ke-XVIII tanggal 20 April-3 Mei 1950 di Palembang secara resmi mengesahkan Fatayat NU menjadi Badan Otonom NU. Namun berdasarkan proses yang berlangsung selama perintisan hingga ditetapkan, Fatayat NU menyatakan dirinya didirikan di Surabaya pada tanggal 24 April 1950 bertepatan dengan 7 Rajab 1317 H. 

Tujuan Fatayat NU

  1. Terbentuknya pemudi atau wanita muda islam yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlahul karimah, bermoral,cakap bertanggungjawab, berguna bagim agama, nusa dan bangsa.
  2. Terwujudnya masyarakt yng berkeadilan gender.
  3. Terwujudnya rasa kesetiaan terhadap asas, aqidah dan tujuan NU dalam menegakkan syariat islam.

Visi, Misi, dan Isu Strategis

Visi. Pengapusan segala bentuk kekerasan, ketidakadilan dan kemiskinan dalam masyarakat dengan mengembangkan wacana kehidupan sosial yang konstruktif, demokratis dan berkeadilan jender.

Misi. Membangun kesadaran kritis perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan jender. Penguatan SDM, Human Resource Development, Pemberdayaan Masyarakat

Isu Strategis

  1. Sistem Kaderisasi
  2. Sistem manajemen organisasi
  3. Penguatan hak-hak perempuan dan penguatan ekonomi
  4. Sumber dana tetap

Fatayat NU Organisasi Badan Otonom Perempuan Muda NU menjadi bagian dari perangkat organisasi Nahdlatul Ulama, sebagaimana Lembaga-Lembaga NU juga merupakan perangkat organisasi. Namun, sebagai perangkat organisasi, Fatayat NU bukan termasuk lembaga NU, melainkan Badan Otonom yang memiliki kewenangan mengatur rumah tangga organisasi sesuai otonominya.

Fatayat NU Cilacap menjadi bagian dari Perangkat Organisasi NU Cilacap. Sasaran  program Fatayat NU adalah masyarakat umum, Perempuan, Usia 20 s/d 40 tahun. Sekretariat Fatayat NU Cilacap beralamat di Jl. Raya Kalisabuk Km. 15 Kesugihan Cilacap Jawa Tengah 53274 Telp. 02825263526

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

12 − 4 =

Back to top button