KH Multazam Hamaf: Meraih Keutamaan Nuzulul Qur’an

NU Cilacap Online — Kunci utama meraih keberkahan Nuzulul Qur’an adalah mencintai Al-Quran yaitu melalui interaksi intensif yang dilandasi keikhlasan, dengan membaca (tilawah), memahami (tadabbur), dan mengamalkan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Mencintai Al-Quran berarti menjadikan-Nya pedoman hidup, bukan sekadar bacaan seremonial. Inilah Tausiyah KH Multazam Hamaf: Meraih Keutamaan Nuzulul Qur’an.
Setiap agama memiliki kitab suci, Nasrani kitabnya Injil, Yahudi-Taurot, Hindu-Weda (Veda), Budha-Tripitaka, Konghuchu yaitu Si Shu (Kitab Yang Empat) dan Wu Jing (Kitab Yang Lima), Orang kebatiinan kitabnya serat Cantini nama lain dari Hidayat Jati atau Darmo Gandul, umat Islam kitabnya Al Qur’an sebagai kitab paling suci di antara kitab-kitab lain.
Dikatakan paling suci dengan kitab lain karena pertama, ajaran dalam kitab sesuai fitrahnya manusia. Misalnya yang paling sederhana ialah laki-laki seneng perempuan begitu juga sebaliknya, sehingga Al Quran berfatwa secara lugas, agar kesenangan tersalurkan itu dengan akdunnikah atau ikatan perkawinan. Demikian juga puasa sesuai fitrahnya manusia, yakni puasa mulai imsak hingga terbenamnya matahari sebagai waktu datangnya berbuka puasa. Adapun malamnya bagi pasutri boleh berhubungan.
Kedua, Al Quran sebagai kitab suci karena kalamnya tidak ada intervensi ataupun campurtangan manusia, maka hingga tidak ada yang membandinginya.
Namun demikian dalam kisah Al Qur’an pernah mengalami ujian pemalsuan. Ambillah contoh ayat-ayat yang pernah dilantunkan oleh Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah Sang Pendusta) yang mengaku sebagai nabi, yaitu salah satunya yang ia sebut sebagai Surat Al-Fiil (Gajah).
الفيلُ مَا الفيل,
وما أدْراكَ مَالفِيل,
له دنب وَبِيل وخُرطُوم طَويلٌ,
Artinya: “Gajah, apakah itu gajah, tahukah kamu apa itu gajah; gajah mempunyai ekor yang kecil dan belalai yang panjang.”
Betapapun Musailamah al-Kadzdzab berusaha untuk membuat ayat semisal Al-Quran, tapi apa yang ia susun justru menampilkan kebodohan dan ketidakmampuannya.
Dan Betapa ayat itu tiada makna dan arti, jauh berbeda dari Al-Quran yang sangat tinggi tingkat kesusastraannya disertai dengan makna yang mendalam bagi setiap jiwa yang mendengarnya. Dan karena saking sucinya Al Qur’an sehingga tidak ada yang membandinginya.
Al Qur’an kitab yang agung, keagungannya memberi siratan syafaat bagi yang membacanya. Sebagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Iqro’ul Qur’ana fa innahu ya’ti yaumal qiyamati syafi’an liashabihi
Maknanya adalah Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi pembacanya (shahibul Qur’an).
Apa yang maksud shahibul Qur’an dalam Hadits Riwayat Imam Muslim yakni Orang yang rutin membaca, mempelajari, mentadabburi, dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an akan menjadi penolong di saat manusia membutuhkan pertolongan di hari kiamat.
Anjuran Nabi Muhammad SAW sebagai perintah untuk tidak melalaikan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman harian.
Saking agungnya dalam syair di sebutkan: “Waajro manqoro’ harfan qoima inda shalati miatun kun daima, wabiljulusi nisfuha wainforo, farubu’un ghoiro sholati fahiro,”
Bahwasannya satu huruf saja dalam membaca Al Qur’an dengan berdiri (shalat) pahalanya satu huruf adalah 100 kebagusan, adapun dengan duduk pahalanya separuhnya dari berdiri, adapun di luar sholat seper empatnya dari 100 yakni 25 kebagusan.
Dengan demikian Al Quran betul-betul kitab yang paling suci. Maka ayo kita jaga kitab suci ini sampai tetes terakhir nyawa memisahkan kita.
Semoga dengan Ramadhan ini kita selalu diberi hidayah oleh Allah SWT dalam mencintai Al Qur’an.
Dengan mencintai Al-Quran, seorang Muslim akan merasa tenang, mendapatkan syafaat, dan meraih kemuliaan, yang merupakan keutamaan, inti keberkahan dari peringatan Nuzulul Quran. Aamiin (IHA)





