KH Ahmad Daelami, Lc: Sikap Nabi SAW saat 10 Akhir Ramadhan

NU Cilacap Online — 10 Akhir Ramadhan betapa memiki keistimewaan luar biasa betapa penting, sehingga Rasulullah bersabda melalui Aisyah RA, bahwasannya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sangat bersungguh sungguh ketika menghadapi datangnya bulan ramadhan. Apalagi saat menghadapi hari ke 10 akhir Ramadhan, beliau makin bersungguh-sungguh. Inilah Tausiyah KH Ahmad Daelami, Lc: Sikap Nabi SAW saat 10 Akhir Ramadhan

Lalu apa yang dilakukan kanjeng nabi SAW? Jadi yang dilakukan Nabi SAW 10 akhir ramadhan adalah mengecangkan pakaian (cangcut taliwondo) dalam rangka ihyaullail yakni menghidupkan 10 akhir Ramadhan.

Demikian sikap Nabi SAW, bukan hanya pribadi Nabi sendiri tapi beliau mengajak keluarganya, sahabatnya, mengapa demikian? Karena yang mendapat kemuliaan ramadhan bukan hanya diri Nabi saja, tapi juga keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, dan semua mendapat kemuliaan, keberkahan, anugerah bulan berkah ramadhan.

Kemudian apa yang dilakukan Nabi SAW pada 10 akhir ramadhan beliau melakukan ihyaullail romadhon. Apa itu? Beliau beriktikaf di Masjid dengan merenungkan kehidupan.

Selama iktikaf diam di Masjid beliau shalat, tadarus (baca Al Qur’an), bertadabur (memahami kandungan al Qur’an) dan bedzikir.

Iktikaf itu uzlah, sikap diri spritual seseorang dengan tuhannya, berkomunikasi langsung di rumah ibadah (Masjid), jauh dari hiruk pikuk kebisingan, dan dari ragam unsur duniawi.

Sabda Nabi SAW mengenai keutamaan iktikaf yakni “Barangsiapa yang ingin ditulis dan dicatat  ikut iktikaf bersamaku, maka beriktikaflah di Masjid pada 10 akhir ramadhan.”

Adapun iktikaf di luar bulan ramadhan tetap mulia. Tapi lebih mulia di bulan ramadhan. Terlebih mulia lagi pada 10 akhir ramadhan.

Kenapa 10 akhir ramadhan? Karena jelas disebutkan dalam Al Qur’an Sural Al Qodr itu sebagai janji Allah yakni Laelatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan.

Perintah Nabi SAW: Taharor laelatal qodri bil’asri awahiril romadhon, –carilah laelatulqodr di 10 akhir ramadhon. Artinya ketika kita mau hidupkan 10 akhir romadhon dengan iktikaf, shalat malam, tahajud, doa, dzikir, membaca Al Qur’an dan seterusnya.

Insya Allah salah satu dari malam tersebut kita terima dan dapati sebagai malam yang mulia itu, malam laelatul qodar. Malam yang sangat mulya ini yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan kebaikan.

Akankah lailaul qodar didapatkan begitu saja tanpa proses dan kesungguhan yang sungguh-sungguh. Maka Rosul SAW perintahkan pada kita semua untuk berijtihad (berjuang) sungguh-sungguh menghidupkan malam 10 akhir ramadhan.

Semoga Allah SWT memberi keberkahan, bimbingan, hidayah, inayah-Nya sehingga kita bisa isi malam 10 akhir ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sehingga dengan ihyaullail kita dapat sampai pada kesempurnaan puasa. Semoga Allah berikan Inayah, taufik pada kita semua. Aamiin (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button