Berita

IPQOH Cilacap Sumbang Sejumlah Al-Qur’an dan Sarana Ibadah

Cilacap, NU Cilacap

Ikatan Persaudaraan Qori’-Qori’ah dan Hafidz-Hafizhoh (IPQOH) Cilacap menyumbangkan sejumlah Alqur’an dan beberapa sarana ibadah seperti mukenah sajadah dan kitab Al-Barzanji ke beberapa masjid dan mushala di wilayah terdampak banjir Cilacap, Minggu (6/12/2020).

Sebelumnya karena dilandasi keprihatinan dan kepedulian, pengurus IPQOH Cilacap melakukan penggalangan dana kepada anggota melalui Waths App Group ( WAG) IPQOH Cilacap. Dari penggalangan tersebut terkumpul uang sejumlah  RP. 3.700.000,00 yang untuk selanjutnya dibelanjakan untuk pembelian Al-Qur’an dan sarana ibadah yang lain.

IPQOH Cilacap
Penyerahan Al-Qur’an dan kitab Al-Barzanji Oleh ketua IPQOH Cilacap

Pendistribusian bantuan sarana ibadah dikawal secara langsung oleh Ketua Umum IPQOH Cilacap KH Zainal Arifin, Skretaris IPQOH, Fefe Restanofi, Bendahara IPQOH, Tunah   dan beberapa Ikhwan IPQOH Cilacap. KH Zainal Arifin menuturkan bahwa kesempatan tersebut sekaligus menjadi momen silaturahin antar anggota IPQOH  yang terdiri dari para pecinta tilawah dan hafidzoh yang notabene tersebar di seluruh wilayah kabupaten Cilacap.

KH Zainal Arifin juga  menjelaskan maksud dari kegiatan hari itu, “ Kegiatan ini adalah sebagai bentuk rasa kepedulian teman-teman IPQOH terhadap masyarakat terdampak banjir. Dimana banyak sarana peribadatan rusak sehingga kami tergerak untuk  membantu mereka.  Jadi kami sengaja menggalang dana dari teman-teman IPQOH Cilacap dan membelanjakannya untuk keperluan sarana ibadah. Ada Al-Qur’an, Kitab Al-Barzanji, buku pedoman mengaji untuk anak-anak, sajadah, dan juga mukena”.

KH Zainal Arifin menjelaskan bahwa sedianya mereka telah menyiapkan bantuan untuk 12 titik lokasi, namun hanya mendatangi 3 titik mengingat terbatasnya waktu.

“Ada  12 tiitik lokasi yang menjadi tujuan ditribusi bantuan. Akan  tetapi karena terabatasnya waktu, rombongan hanya mendatangi 3 tempat yakni  Mushala Nurul Falah Kecamatan Sidareja, Masjid Baiturrohim  Desa Ciklapa Kecamatan Kedungreja, dan Masjid Baitus Salam Kecamatan Bantarsari. selebihnya dipasrahkan kepada teman-teman IPQOH yang ada di Sidareja untuk mendistribusikannya”, jelasnya.

Tiga Hari Terjebak Air Banjir

Lokasi pertama yang menjadi tujuan kedatangan mereka adalah Mushala Nuruf Falah Sidareja.  Kedatangan rombongan disambut hangat oleh imam mushola , K Sarbini dan keluarga. Ada cerita mengharukan saat Tim IPQOH berbincang-bincang dengan imam mushola ini. K Sarbini menuturkan bahwa saat kejadian,  air banjir mencapai 80 cm dan masuk rumah. Meskipun begitu, ia dan istrinya tidak mengungsi.

“Selama 3 hari saya dan istri terjebak di  rumah  karena tidak memungkinkan untuk keluar  karena air yang begitu tinggi. Beruntung karena kebetulan ada persediaan bahan makanan  yang cukup sehingga saya dan istri bisa bertahan di rumah”, tutur K Sarbini. Sang istri Nyai Tasingah bahkan bercerita bahwa dirinya terpaksa mencuci perabotan bekas makan dengan air banjir yang menggenang di dalam rumah.

“Ya mau bagaimana lagi, adanya air itu , nggak ada air bersih. Padi di rumah juga terpaksa diungsikan ke rumah anak yang ada di kampung sebelah pake perahu.  Kalo ngga diungsikan ya nanti bisa busuk , ” tuturnya.

Rombongan selanjutnya menuju Masid Baiturohim desa Ciklapa kecamatan Kedungreja. Imam Masjid Baiturohim  K  Masduqi mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada rombongan.

“Kami mengucapkan terima kasih sekali kepada teman-teman IPQOH Cilacap yang telah mengantarkan bantuan sarana ibadah untuk kami. Insyaalloh akan sangat bermanfaat  untuk kami, karena saat banjir kemarin banyak Al-Qur’an rusak akibat terendam banjir. Begitupun dengan sarana ibadah yang lain,” kata K Masduqi.

Cerita K Masduki tak kalah pedih. Ia menuturkan bahwa di kampungnya banjir menggenang sampai 1 minggu. Ia bersyukur air tidak masuk ke rumah dan juga masjid di depan rumahnya sehingga warga banyak yang mengungsi ke dalam masjid. Namun begitu ia terpaksa menanggung kerugian yang lumayan besar. Pasalnya, akibat banjir gurame peliharaannya lepas dan hilang terbawa arus banjir.

“Padahal itu gurame  indukan . Bobotnya ada yang nyampe 2 kilo. paling kecil 9 ons. Saya juga  terpaksa gagal tanam padi karena bibit padi busuk akibat terendam banjir. Sementara padi yang disimpan di rumah juga rusak karena air banjir”, tutur K Masduqi.

K Masduki menuturkan bahwa saat terjadi banjir, warga  memang tengah menghadapi  musim labuhan yakni musim persiapan menanam bibit padi. Bibit padi yang disemai pun sudah siap tanam. Bahkan lahan pun sudah dibajak dan siap untuk ditanami padi. Tapi tiba-tiba banjir datang dan menggenang sampai 1 minggu. Otomatis bibit padi pun busuk.  Warga pun akhirnya  terpaksa mencari benih padi ke luar daerah agar bisa tetap tandur.

Selanjutnya rombongan bertolak menuju Masjid Baitus Salam Kecamatan Bantarsari. Di sini kondisi lebih memprihatinkan lagi. Kondisi masjid yang tengah dalam tahap rehabilitasi tampak semakin kacau karena diterjang banjir setinggi 1,5 meter. Di dalam masjid sendiri air masuk setinggi 70 CM.  Akibatnya,  semua peralatan yang ada di dalamnya hampir semuanya rusak.  Terutama peralatan elektronik dan Al-qur’an serta buku-buku panduan mengaji anak-anak.

Imam masjid Baitus Salam menuturkan bahwa saat banjir datang di pagi hari , bahan material untuk pembangunan masjid seperti pasir, kerikil  dan semen  baru saja dikirim. Akibatnya pasir dan kerikil hanyut terbawa derasnya arus banjir. Sedangkan semen yang ada rusak akibat terendam air dan tidak bisa digunakan lagi.

Penulis : Naeli Rokhmah

Editor : Naeli Rokhmah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eight + seventeen =

Back to top button