Mati Akibat Bencana Apakah Syahid? Berikut Penjelasannya

NU Cilacap Online – Mati syahid dalam Islam adalah kematian yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Adapun bencana alam seperti Tsunami, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi, maupun banjir bandang yang mengakibatkan seseorang meninggal karena tertimbun, terbakar serta tenggelam, apakah termasuk mati Syahid? Berikut ini penjelasannya
Syahid, Penghargaan Khusus
Dalam ajaran Islam, tidak semua kematian mendapat derajat syahid, namun Islam memberikan penghargaan khusus bagi orang-orang yang wafat dalam kondisi tertentu yang menunjukkan pengorbanan, penderitaan, atau musibah yang berat.
Dalam sebuah hadits,dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَطْعُونُ، وَالمَبْطُونُ، وَالغَرِقُ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللهِ». متفق عليه
“Orang yang termasuk mati syahid terbagi dalam lima golongan: Orang yang meninggal terkena wabah penyakit tha’un, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa benda berat, dan orang yang mati karena perang di jalan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Jabir bin ‘Atik Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda :
عن جابر بن عتيك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «… الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى القَتْلِ فِي سَبِيلِ الله عَزَّ وَجَلَّ: المَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالمَبْطُونُ شَهِيدٌ، والغَرِيقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الجَنْبِ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الحَرَقِ شَهِيدٌ، وَالمَرْأَةُ تَمُوْتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ». أخرجه أبو داود والنسائي
“Orang yang teramsuk mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah ada tujuh: Orang yang meninggal terkena wabah penyakit tha’un termasuk syahid, orang yang mati karena sakit perut termasuk syahid, orang yang mati tenggelam termasuk syahid, orang yang mati karena tertimpa benda berat termasuk syahid, orang yang mati karena luka (pada bagian dalam tubuh) di daerah sekitar pinggang termasuk syahid, orang yang mati terbakar termasuk syahid, dan wanita yang meninggal karena melahirkan termasuk syahid.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
Dari Sa’id bin Zaid Radhiyallahu anhu aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
عن سعيدِ بنِ زَيْد رضي الله عنه قالَ: سَمعْتُ رسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: «مَنْ قُتلَ دُونَ مالِهِ فَهُوَ شَهيدٌ، وَمنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهيدٌ، وَمَن قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهيدٌ، وَمَنْ قُتِل دونَ أهلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ». أخرجه أبو داود والترمذي
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid, siapa yang terbunuh karena membela agamanya termasuk syahid, siapa yang mati terbunuh karena membela dirinya termasuk syahid, orang yang terbunuh membela keluarganya termasuk syahid.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Syahid, Pengertian dan Kategorinya
Syahid secara bahasa berarti orang yang menyaksikan atau yang menjadi saksi. Dalam konteks agama, syahid adalah orang yang wafat dalam keadaan mulia karena membela agama atau wafat dalam keadaan yang menunjukkan kesabaran dan keikhlasan atas musibah yang berat.
Secara umum, maka syahid terbagi menjadi tiga kategori yakni:
Pertama, Syahid dunia dan akhirat; seperti orang yang wafat di medan perang dengan niat membela agama.
Kedua, Syahid akhirat saja; seperti orang yang wafat karena sebab tertentu, tidak di medan perang, tapi diberi pahala syahid di akhirat.
Ketiga, Syahid dunia saja: seperti orang yang gugur dalam perang tetapi niatnya tidak benar.
Jenis-Jenis Syahid di Luar Medan Perang
Jadi orang yang wafat karena longsor termasuk dalam kategori “mati karena tertimpa tanah, bangunan atau reruntuhan”.
Sementara orang yang wafat karena bencana banjir juga tergolong syahid kategori “mati tenggelam”.
Dengan demikian, korban longsor dan banjir yang wafat dalam keadaan beriman dan sabar atas musibah tersebut, insyaAllah mendapatkan status syahid akhirat.
Artinya, mereka tidak dimandikan dan dikafani seperti syahid di medan perang, namun di akhirat mendapat pahala dan kemuliaan orang yang mati syahid.
Meskipun demikian, agar seseorang yang wafat akibat longsor benar-benar tergolong syahid akhirat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni ia harus wafat dalam keadaan iman dan Islam.
Kemudian ia tidak dalam kondisi maksiat saat kejadian (misalnya sedang mencuri atau berbuat dosa besar) dan meninggalnya adalah akibat langsung dari musibah tersebut, bukan disebabkan oleh hal lain.
Mengenang Korban Bencana Alam
Mengenang korban bencana alam, termasuk longsor, dengan penghormatan sebagai syahid dapat memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Hal ini juga menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan umatnya yang wafat dalam keadaan sabar dan dirundung musibah.
Namun, penghormatan tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Tetap perlu ada ikhtiar menjaga keselamatan, mengikuti peringatan dini mitigasi bencana, dan menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana yang bisa dicegah.
Dari penjelasan hadits Nabi SAW di atas, maka meskipun seseorang yang meninggal akibat terkena bencana seperti longsor, banjir mauoun kebakaran itu dihukumi syahid, namun bukan merupakan cara kematian yang ingin dihindari oleh Nabi. Oleh karenanya kita harus tetap waspada dan antisipasi terhadap segala bentuk bencana seperti dengan jalan menjaga lingkungan.
Doa Nabi SAW Terhindar dari Bencana
Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW malah pernah berdoa agar tidak meninggal dalam kejadian bencana. Riwayat Abu al-Yasar menyebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي ، وَالْهَدْمِ ، وَالْغَرَقِ ، وَالْحَرِيقِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا.
Artinya: “Rasulullah SAW pernah berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’.” (HR. al-Nasa’i no. 5531)
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَأَبْوَابَ الْبَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ الْقُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ الْعَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الْجَنَّةِ، اَللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْاٰخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الْكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الْاٰخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَـــالَمِيْنَ
“Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Al-Qur’an yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai Zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam”.
Demikian ulasan mengenai Mati Akibat Bencana Apakah Syahid, semoga bermanfaat.
Salamsalim… (IHA)





