Taushiyah

KH Moch Taufick Hidayatulloh: Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin

KH Moch Taufick Hidayatulloh menuturkan bagaimana tugas umat Islam untuk mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin. Berikut taushiyah selengkapnya;

Islam diturunkan kepada manusia di dalam kerangka untuk mengantarkan manusia ke jalan keselamatan. Karena ia adalah way of life, ia adalah jalan hidup. Maka Al-Qur’an ini pun diturunkan sebagai petunjuk nyata, petunjuk yang jelas untuk dijadikan alur atau rel bagi kehidupan umat Islam.

Diturunkannya Al-Qur’an kepada Rasulullah ﷺ dan diutusnya beliau sebagai personal guidance, sebagai sosok yang akan mengarahkan seluruh manusia pada jalan keselamatan. Cita-cita dan tujuan besar yang dibawa adalah kehadiran Islam, kehadiran Rasulullaah ﷺ akan menjadi rahmat bagi semesta.

Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Anbiya ayat 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam,”

Tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW daripada diturunkannya syariat Islam ini tidak lain adalah agar kehadirannya menjadi rahmatan lil Alamin; rahmat bagi semua yang ada.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Walaupun di dalam tafsir ada banyak perbedaan dalam memahami al-alamin ini. Hanya bagi orang-orang yang beriman, orang-orang yang percaya akan Allah, malaikat, kitab-kitabnya, qodo dan qadar, hari akhir dan orang yang menyampaikan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada Rasul terakhir kecuali Nabi Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, maka semua di luar orang yang beriman kepada Allah dirinya tidak mendapatkan rahmat dari Allah, tetapi mendapatkan azab.

Namun, menurut At-Thabari bahwa al-alamin ini meliputi keseluruhan manusia baik ia beriman atau tidak, baik ia percaya kepada Allah dan rasulnya atau tidak. Tetapi semua mendapatkan rahmat dari Allah. Rahmat bagi mereka yang tidak percaya kepada Allah adalah rahmat bagi mereka yang kekal di dalam kefasikan. Rahmat bagi mereka munafiqin adalah rahmat kehidupan bahwa mereka tetap diberi hidup, mereka tetap diberi rizki oleh Allah SWT. Mereka yang tidak beriman kepada Allah dan rasulnya tetap mendapatkan rahmat dari Allah di dunia.

Tentu ada penegasan perbedaan antara sifat ar-rahman dan ar-rahim. Ar-rahman ini adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan kepada seluruh manusia, apa pun agamanya, alirannya dan kepercayaannya. Sedangkan ar-rahim ini adalah sifat kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada mereka yang beriman kepada Allah kelak di yaumul qiyamah.

Penegasan Islam sebagai rahmatan lil alamin melalui diturunkannya Al-Qur’an, diutusnya Rasulullaah ﷺ untuk menjadi rahmat bagi semesta. Bisa kita lihat pada Al-Qur’an surah Saba’ ayat 28.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,”

Ayat ini tegas diturunkan kepada seluruh manusia tidak hanya berbicara tentang manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan antar sesama manusia dan tidak juga hanya berbicara hubungan antara manusia dengan Allah. Tetapi Islam secara luas juga mengatur hubungan antara manusia dengan makhluk lain, manusia dengan semesta.

Karena yang dimaksud dengan iman ditegaskan adalah untuk mempercayai malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab yang terdahulu, rasul-rasul yang terdahulu. Beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qodo dan qodar, sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah itu baik itu dari yang baik maupun yang buruk.

Baca Juga : 16 Deklarasi Nahdlatul Ulama: Islam Nusantara, Inspirasi Peradaban Dunia

Hal ini menegaskan bahwa sesungguhnya hubungan yang baik di dalam kerangka Islam tidak hanya semata-mata menyangkut hubungan antara sesama manusia. Tetapi ia bahkan juga menyangkut dengan hubungan dengan semesta, sesuatu yang tidak terlihat, yang ghaib. Dengan para malaikat termasuk makhluk Allah yang lain, sesuatu yang belum tahu hari kiamat kapan ia akan terjadi dimulai dari mana.

Kita pun mesti percaya bahwa kelak akan ada hari kehancuran yang disebut dengan hari kiamat. Tentu juga  apa pun yang terjadi di dunia ini atas diri kita, lingkungan dan semesta raya ini adalah suatu ketetapan dari Allah SWT. Tidak ada kekuatan yang bisa menolak sama sekali.

Maka sesungguhnya keadilan Islam menjadi pengarah bagaimana ia memperlakukan makhluk-makhluk lain. Tidak hanya manusia tetapi juga tempat lingkungan ia tinggal untuk menjadi rahmat.

Sebab di dalam Al-Qur’an banyak sekali petunjuk mengenai hubungan kita dengan semesta termasuk perilaku dan contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullaah ﷺ. Bagaimana agar kehadiran Islam itu menjadi rahmat, tidak menjadi pengganggu bagi semua yang ada.

Rasulullah ﷺ bersabda

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Islam yang baik adalah orang yang ia bisa menjaga keselamatan orang islam yang lain, dari gangguan tangannya dari gangguan lisannya, dan gangguan tangannya perbuatannya tindakannya”

Rasulullah Sebagai Uswatun Khasanah

Misalnya Rasulullah mengajarkan sesuatu hal yang kecil kelihatannya. Ketika kita buang air kecil rasul mencontohkan agar tidak membuang air kecil di lubang dalam tanah. Kelihatan sederhana sekali tanpa nilai tetapi ternyata ada pelajaran tersembunyi darinya.

Bahwa bukan tidak mungkin di lubang kecil itu di bebatuan di dalamnya ada makhluk hidup lain. Ada semut ada serangga ada ular yang bukan tidak mungkin mereka akan terganggu dengan apa yang keluar dari tubuh kita.

Bahkan beliau mengajarkan kita untuk menanam. Andaikan engkau tahu bahwa esok hari akan terjadi kiamat dan di tanganmu masih ada sebutir biji tanamlah. Maknanya rasul berbicara tentang pelestarian lingkungan, Islam berbicara tentang konsep kelestarian alam, tentang konsep memberi secara halus bagaimana benih yang kita tanam.

Disebutkan kalaupun kau tahu besok akan terjadi kiamat, tetaplah menanam. Karena dengan menanam ia akan tumbuh, jikalau kiamat tidak jadi maka apa yang kau tanam akan bisa dinikmati oleh orang-orang sesudahmu, oleh penerus mu.

Dan ketika ia tumbuh akan menghasilkan kesuburan, tanaman akan menghasilkan oksigen, mewujudkan kelestarian bagi alam. Oksigen yang keluar dari tanaman kemudian akan menjadi manfaat bagi semua yang ada di semesta ini.

Islam Menjadi Rahmat

Akhlak kita terhadap hewan maupun tumbuhan adalah bukti nyata bahwa hadirnya Islam harus menjadi rahmat. Kalau kemudian hari ini kita mendengar ada edaran dari salah satu organisasi kepada warung makan untuk tidak membuka warungnya demi menghormati Bulan Ramadan ini justru terbalik.

Apakah karena Ramadhan hak mereka yang tidak beragama Islam, yang udzur karena bepergian karena sedang sakit maupun alasan lain yang menyebabkan tidak bisa berpuasa menjadi terganggu. Maka boleh jadi dengan berpuasa kita justru mengganggu orang lain.

Belum lagi dari mereka yang hanya menggantungkan hidupnya di warung makan, apakah kemudian mereka harus tidak berpenghasilan karena hadirnya Bulan Ramadhan. Edaran seperti ini kelihatannya bagus di permukaan tetapi, setidaknya sedikit banyak harus kita kritisi bahwa edaran itu tidak tepat di negara yang plural seperti Indonesia.

Baca juga: Islam Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai Tujuan NU

Maka kemudian inilah pentingnya bagaimana menjaga ajaran Islam, sudut syariah ini agar kehadirannya betul-betul menjadi rahmat. Para pendahulu Islam sudah membuktikan bagaimana mereka para ilmuwan Islam berhasil menunjukkan kepada dunia dengan temuan temuan ilmiah.

Dengan penelitian yang mereka lakukan sehingga menghasilkan salah satu budaya yang luar biasa, menghasilkan satu temuan yang luar biasa. Kelahiran islam ini betul betul menjadi rahmat bagi semesta rahmat bagi semua kalangan.

Dan kalau kita melihat di dalam sejarah Islam bagaimana penaklukan Makkah. Rasulullah ﷺ puluhan tahun terbuang dari tempat kelahirannya. Beliau dihina dicaci dilempari batu bahkan nyaris dibunuh, terusir dari tempat kelahirannya. Kemudian Makkah ditaklukkan tetapi tidak ada pertumpahan darah tidak ada balas dendam.

Rasulullah menegaskan siapa pun yang masuk ke Masjidil Haram aman, hari ini adalah hari kasih sayang bukan hari balas dendam. Maka tidak boleh melakukan pembunuhan, tidak boleh melakukan perusakan sepanjang apa yang disampaikan oleh Rasulullah pada saat itu dilaksanakan.

Maka kemudian berbondong-bondong orang-orang kafir Makkah masuk ke dalam agama Islam karena melihat kehadiran Islam bukan sebagai ancaman. Bukan sebagai penebar bahaya maupun sumber ketakutan. Tetapi Islam sebagai agama yang ramah bagi sekalian alam, rahmah bagi semua kalangan, rahmat bagi semesta; ya karena Islam rahmatan lil alamin

Tugas kita semuanya untuk mewujudkan dan menghadirkan nilai-nilai ajaran Islam betul betul sebagai rahmat bagi semesta. Tidak hanya rahmatan lil muslimin tidak hanya rahmatan lil mukminin tetapi rahmatan lil alamin. [Shevilla Dewi Pramudita]

Baca Juga >> Internalisasi Islam Rahmatan Lil Alamin Dalam Politik Indonesia

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button