Esai Opini Wawasan

Kajian Kitab Risalatul Mahidl Fatayat NU Kesugihan

Kajian Kitab Risalatul Mahidl digelar oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kesugihan pada Sabtu (13/11). Kegiatan ini digelar di rumah Sekretaris PAC Fatayat NU Kesugihan Nunung Azizah yang beralamat di Jalan Raya Inpres Tegalsari Desa Karangjengkol.

Kajian Kitab merupakan kegiatan rutin Fatayat NU Kesugihan setiap dua minggu sekali pada Sabtu siang. Program ini diselenggarakan oleh bidang dakwah dan diikuti oleh Pengurus PAC dan Ranting se Kecamatan Kesugihan.

Ketua PAC Fatayat NU Kesugihan Lisa Khoiriyah mengatakan Kajian kali ini adalah putaran ketiga sejak dimulainya kajian Kitab Risalatul Mahidl pada awal September lalu. Kitab Risalatul Mahidl dipilih berdasarkan kesepakatan bersama setelah sebelumnya mengkaji Kitab Safinah.

Kitab karangan Syekh Masruhan Ihsan ini berisi tentang pengetahuan seputar darah haidl dan Nifas. Kajian ini dipimpin oleh Koordinator Bidang Dakwah PAC Fatayat NU Kesugihan Ulfatul Hasanah.

Perempuan yang akrab disapa Ning Ulfa ini mengungkap pentingnya mempelajari darah haidl bagi perempuan mengingat ini berhubungan erat dengan fikih amaliyah sehari-hari.

Asal-Usul Darah Haidl

Pada kajian putaran ketiga ini, Ning Ulfa menerangkan Asal-usul darah haidl. Keluarnya darah haild pada perempuan bukanlah disebabkan luka ataupun penyakit, melainkan keluar dalam kondisi sehat badan.

Dalam Kitab Risalatul Mahidl, Syekh Masruhan menuliskan bahwa sejarah awal darah haidl bermula sejak zaman Siti Hawa istri Nabi Adam AS saat digoda oleh Iblis (la’natulloh alaih) untuk memakan buah khuldi, peristiwa yang menjadikan Adam dan Hawa diusir dari Syurga.

Dikisahkan, saat memetik buah khuldi getah dari pohon khuldi mengenai Siti Hawa, saat itu bertepatan dengan murkanya Allah SWT akibat keduanya telah melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah khuldi. Getah pohon khuldi mengenai Farji Siti Hawa. Hal itu ternyata membuat farjinya mengeluarkan darah selama berhari-hari.

Setelah beberapa hari keluar darah dari farji, darah pun berhenti. Namun kemudian keluar lagi selama berhari hari saat pergantian bulan dan berhenti dengan sendirinya. Hal itu terjadi secara terus menerus dan menurun pada anak keturunan Adam-Hawa hingga saat ini.

Berdasarkan keterangan di atas, Syekh Masukhan Ihsan menyimpulkan, “Mila saged diibarataken estri ingkang mboten meteng punika menawi kuwarasan malah medal getih haidl (Maka diibarakan perempuan yang tidak hamil bila sehat akan keluar darah haidl)

Perempuan yang tidak keluar darah haidl padahal tidak sedang kondisi hamil maka dipastikan dia sakit. Wajahnya pucat, makan dan tidur pun tidak enak. Hal ini karena sudah di nash oleh Allah SWT, “Qul Huwa adza” yang artinya bahwa darah haidl itu kotor. Agar sehat maka harus dikeluarkan. (Wallohu A’lam bisshowab).

Artikel ini disarikan dari Kajian Kitab Risalatul Mahidl PAC Fatayat NU Kesugihan

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

sixteen − 3 =

Back to top button