Memilih Pemimpin Menurut Al-Qur’an

NU CILACAP ONLINE – Asal memilih pemimpin taruhannya besar, dampaknya bukan hanya satu orang tetapi seluruh orang yang dipimpinnya. Maka memilih pemimpin menurut Alqur’an menjadi pertimbangan yang rasional.

Indonesia yang dalam beberapa bulan ke depan akan mengadapi pemilihan umum di tahun 2024 nanti. Baik memilih presiden, legeslatif dan kepala daerah. Tentu kita sebagai pemilih harus memiliki kriteria sendiri bagaiamana menentukan calon pemimpin itu.

Bukan apa. Kepemimpinan politik yang syarat akan kuasa, hak istimewa, selain itu juga pamor dan nama besar bahkan kepentingan ekonomi yang sering menjadi motif utama.

Seringkali pemimpin politik ada saja yang hanya mengejar itu. Tanpa tahu esensi dari kepemimpinan itu sendiri yang menjadi manfaat bagi banyak orang melalui kebijakan-kebijakan dari kepemimpinannya.

Maka dalam demokrasi. Dimana setiap warga negara memiliki hak untuk memilih. Bagaimanakah seharusnya memilih Pemimpin itu? Adakah referensi bagi kita umat islam dalam memilih pemimpin sebagai mana yang terkandung di dalam Alqur’an?

Ayat Kepemimpinan di Alqur’an

Di dalam Alqur’an sendiri dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Di mana kepemimpinan selalu menjadi pioneer segala perubahan, jalan menuju kemakmuran dan kompas dari moralitas masyarakat.

Sebab kepemimpian merupakan sebuah contoh, amanah, serta menjadi pengayom bagi yang dipimpinnnya.

Tentang kepemimpinan sendiri dijelaskan Alqur’an di antaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah Kesabaran dan ketabahan. “Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”.

Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin bukan tanpa alasan. Sebab bagimanapun dalam situasi apapun. Keputusan yang jernih dan mencari yang terbaik sebagai sebuah kebijakan harus dapat se-adil mungkin untuk yang dipimpinnya. Tanpa adanya diskriminasi di pihak mapanun.

Maka sifat sabar ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.

Selanjutnya seorang pemimpin harus ampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, “Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan.

Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat.

Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.

Terakhir pemimpin mempunyai kebajikan yang cukup. Sebab seorang pemimpin seyogyanya membudayakan pada diri mereka kebajikan. Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, “Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat”.

Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka. Sehingga rasa saling welas asih serta cinta kasih kepada sesama manusia dapat menjadi kebijakan yang terus dipegang sebagai seorang pemimpin.

Maka seperti dijelaskan apa yang terkandung dalam Alqur’an. Lantas bagaiamankah sebenarnya memilih seorang yang layak menjadi seorang pemimpin? Adakah kriteria yang harus dipenuhi seseorang mampu dalam mengemban amanah dari kepemimpinan?

Baca juga Harlah ke-21 Majelis Simaan Al-Qur’an Annur Adakan Khitan Massal

Kriteria Pemimpin

Setidaknya para pakar yang telah lama menelusuri Alqur’an dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Sebenarnya semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul.

Sebab itu sebelum memilih pemimpin di era demokrasi seperti sekarang ini di Indonesia. Setidaknya seorang pemilih harus benar-benar kenal betul siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Bagimana watak dan prilaku. Mendekati atau tidak dengan apa-apa yang disunggung dalam Alqur’an maupun hadis-hadis tentang kepemimpinan.

Karenanya memilih pemimpin itu. Pertama, seorang calon pemimpin yang layak untuk pilih  harus memiliki sifat “Shidq”, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya.

Kedua, adalah “Amanah” yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya. Baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt.

Baca juga 3 Jenis Sabar dan Kiat Menjadi Orang yang Sabar

Ketiga, “Fathonah” yang merupakan kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul.

Ke-empat Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi).

Melalui rekam jejak seseorang. Kita dapat melihat semua itu. Apakah sifat dari orang-orang yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin sudah menunjukan ke-empatnya.

Baca juga Patimuan Tuan Rumah Konfercab NU Cilacap Tahun 2023

Kalau memang calon pemimpin sudah menujukan ke-empat hal itu, Tentu seorang yang mencalonkan sebagai pemimpin sangat layak untuk dipilih.

Jangan sampai tanpa adanya sifat ke-emapt itu. Memilih calon pemimpin pertimbangannya hanya emosi sesaat basisnya asumsi karena suka saja. Tanpa melihat dari segi fakta, tidak tanduk, serta pemikiran-pemikiran yang membawa masyarkat untuk lebih baik dengan kebijakan yang nanti akan dibuatnya.

Memilih pemimpin tanpa pertimbangan yang rasional dengan basis-basis pengetahuan yang ada termasuk salah satunya refernsi dari Alqur’an. Ketika asal memilih pemimpin taruhannya besar. Dampaknya bukan hanya satu orang tetapi seluruh orang yang dipimpimpinnya. (Toto/Naeli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button