PC Fatayat NU Cilacap-Dinkes MoU Terkait Sosialisasi HPV

NU CILACAP ONLINE – Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (PC Fatayat NU) Cilacap dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap sepakat menjalin kerjasama dalam hal sosialisasi HPV dan Tes IVA. Jalinan kerjasama ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman (Memorandum off Understanding), MoU.

Penandatangan dilakukan oleh Ketua PC Fatayat NU Cilacap Tun Habibah dan Plt Kepala Dinkes Kabupatne Cilacap dr Indarto. Ini berlangsung pada pembukaan kegiatan pelatihan Publik Speaking dan sosialiasi HPPV DNA, Ahad (25/10/2025) di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap.

Dalam laporannya, Ketua PC Fatayat NU Cilacap Tun Habibah mengungkap jika kerja sama ini mencakup program sosialisasi HPV dan tes IVA. Tujuannya untuk pencegahan kanker serviks, serta kegiatan edukasi kesehatan bagi perempuan dan keluarga muda.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Cilacap dr Ira Tanti menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan ini.

Dr Ira menegaskan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi bagi perempuan, terutama dalam upaya pencegahan kanker serviks yang masih cukup tinggi di Kabupaten Cilacap.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kesehatan seorang ibu dan istri adalah sumber kebahagiaan keluarga. Jika ibu sehat dan bahagia, maka keluarga pun akan sejahtera,” ujarnya.

Dr Ira Tanti juga mendorong agar kegiatan seperti ini terus dilakukan secara berkelanjutan. Selain sosialisasi kesehatan, pelatihan public speaking dinilainya penting agar kader Fatayat mampu menjadi komunikator yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Baca juga Posbindu dan Screening Serviks di Kickoff HSN 2025 NU Kroya

Tiga beban penyakit  besar

Sosialisasi HPV menghadirkan dr. Hutomo yang menyampaikan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap tiga beban utama penyakit di dunia.

Tiga kelompok penyakit tersebut meliputi penyakit menular, penyakit tidak menular, serta penyakit akibat infeksi yang berpotensi menimbulkan kanker seperti Human Papilloma Virus (HPV).

Menurut dr. Hutomo, saat ini dunia menghadapi tiga beban penyakit besar. Yang pertama adalah penyakit menular, seperti infeksi saluran pernapasan, TBC, HIV, dan penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri lainnya. Penyakit-penyakit ini masih menjadi ancaman serius di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan prinsip CERDIK, yaitu:

Cek kesehatan secara rutin,

Enyahkan asap rokok,

Rajin beraktivitas fisik,

Diet seimbang,

Istirahat cukup, dan

Kelola stres dengan baik.

Dr Hutomo menegaskan bahwa selain bersemangat dalam berkhidmat dan berkontribusi melalui organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), setiap individu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri sebagai bentuk ibadah dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Penyakit Tidak Menular dan Tantangannya

Beban penyakit kedua adalah penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker. Meskipun tidak menular dari orang ke orang, penyakit jenis ini kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

aktor risikonya antara lain pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, stres, dan paparan zat berbahaya seperti rokok dan alkohol. Pencegahan dapat dilakukan dengan gaya hidup sehat, deteksi dini, serta vaksinasi apabila tersedia.

HPV dan Kanker Leher Rahim

Beban penyakit ketiga yang disoroti dalam sosialisasi ini adalah penyakit akibat infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini merupakan penyebab utama kanker leher rahim (serviks), yang menjadi salah satu kanker paling banyak diderita oleh perempuan Indonesia.

dr. Hutomo menjelaskan bahwa infeksi HPV dapat menyerang siapa saja, terutama perempuan yang sudah aktif secara seksual.

Pencegahan paling efektif dilakukan melalui vaksinasi HPV, yang kini direkomendasikan bagi anak perempuan dan laki-laki sejak usia sekolah dasar. Selain itu, skrining dini seperti tes Pap Smear atau tes DNA HPV penting dilakukan secara berkala agar kelainan dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi kanker.

Melalui sosialisasi ini, dr. Hutomo mengajak seluruh peserta untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga.

“Menjaga tubuh agar tetap sehat bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga bentuk pengabdian kepada masyarakat dan Tuhan. Dengan menerapkan pola hidup sehat, melakukan deteksi dini, dan mendukung program vaksinasi HPV, diharapkan angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia dapat terus menurun,” tandasnya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button