Mengelola Capital Intelectual Nahdlatul Ulama

NU CILACAP ONLINE – Ketika Struktur Kepengurusan PBNU diumumkan, saya bergidik. Luar biasa. Siapapun ngeri melihatnya, dan melambungkan ekspetasi warga NU kepada masa depan yang cerah.
Bagaimana tidak begitu. Musuh-musuh NU, dalam hati pun terkagum-kagum, kalau mau jujur. Struktur PBNU menggambarkan sebuat format yang rapi, dan formula yang kuat. PBNU terdiri dari berbagai gabungan para intelektual dengan basis disiplin multi-dimensi ilmu dan pengetahuan. Ada ulama, sebagai basis sentral NU, yang tentu harus lebih domininan, karena NU adalah Nahdlatul Ulama, bukan Nahdlatul Intelektual.
Tetapi, peran para intelektual di luar ulama, atau yang bukan ber basis pesantren, juga mulai diperhatikan. Ini bagian dari menjawab tantangan jaman. Toh sebagian ulama modern juga tidak terlalu dikotomistik dalam memandang ilmu. Semua fan ilmu sama, bersumber dari Quran. Jadi, semua orang yang berilmu, dapat disebut ulama.
Ada juga, tergabung di dalam struktur PBNU, para da’i, yang populer di kalangan NU. Salah satunya adalah Gus Miftah Habiburrahman.
Bicara da’i NU, meminjam istilah Almaghfurlah Mbah Sahal Mahfudz, ketika bicara tentang para fuqoha, maka da’i di NU juga ‘berkarung-karung’. Ada Kyai Anwar Zahid, Gus Muwafiq, Ustadzah Mumpuni, Gus Ulinnuha, Gus Iqdham, Gus Ali Gondrong, dan banyak lagi disebutkan. Baca juga Rahasia mendidik anak ala Gus Miftah
Namun Gus Miftah ini fenomenal. Segmen dakwahnya, unik, serta relasi politiknya yang sangat bagus. Gus Miftah juga seorang da’i yang kontroversial, sehingga di kalangan NU sendiri, banyak yang tidak suka.
Entah bagaimana cara pandang Kyai Miftah dan Gus Kikin, terhadap sosok Gus Miftah, atau figur-figur lainnya, sehingga dimasukkan dalam struktur kepengurusan.
Masuk pula unsur perempuan. Ini sebetulnya bukan hal baru. Yang menjadi unik adalah, karena unsur perempuan ini tetap dipertahankan, walaupun sudah ada Banom yang khusus mengurusi perempuan di NU, seperti muslimat, fatayat, dan IPPNU.
Nama-nama terkenal masih diakomodir. Nyai Shinta Gus Dur, dan putri-putrinya, masih ada dalam struktu kepengurusan. Maklum juga, mereka adalah dzuriyah para pendiri NU. Ada juga tokoh perempuan lain, Nyai Badriyah Fayumi, dan sebagainya.
Artinya, PBNU merupakan representasi dari kekayaan intelektual NU. Semua elemen terwakili, dan ini butuh manajerial yang tepat. Jika manajemen organisasi tidak bagus, kekayaan intelektual itu akan mubadzir. Ekspektasi warga NU akan menjadi paranoia. Bahkan para intelektual itu, akan berkonflik di antara sesamanya. NU bisa terbelah terpecah.
PBNU, perlu mengikat mereka dalam satu komitmen organisasi yang kuat. Tujuan yang tepat sebagai titik konvergensi keilmuan. Para intelektual itu, tetap jangan dibiarkan mengembara dalam ego-intelektualnya.
Mereka sebagai pengurus, telah dibatasi oleh frame yang bernama organisasi, dengan visi dan misi bersama. Mereka sudah tidak lagi berumah, seperti kata Julian Benda, berumah di atas angin. Mereka juga tidak lagi berada di puncak menara gading dan menara air. Mereka semua kini harus bekerja untuk Nahdlatul Ulama. Dan mereka harus terikat oleh etika, hidup-hidupkanlah NU, dan jangan mencari kehidupan di NU. Warga NU percaya, mereka semua yang dipercaya sebagai pengurus, adalah orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Penulis : Toufik Imtikhani, warga NU Pinggiran





